Rutinitas Harian yang Damai Secara Tiba-Tiba.....
Pengenalan
Tiga hari semenjak berakhirnya ujian khusus di pulau tak berpenghuni. Di kapal pesiar mewah yang memuat kami para siswa dari SMA Kuodo Ikusei, tidak ada apa pun yang terjadi, waktu yang damai sedang dipertahankan.
Bertahan hidup di pulau tak berpenghuni dan semacamnya, bagi para siswa yang menikmati masa muda mereka, barang tentu situasi sekarang kemungkinan besar membuat kami kehilangan ketenangan.
Kami para pemuda pada dasarnya seperti monster binatang karnivora yang lapar akan sex.
Selagi melihat anak-anak perempuan yang menjadi kerumunan hewan herbivora dengan kya kyaa fufufu, kami para pemuda di satu sisi mengharapkan untuk mempunyai sesuatu pengembangan seperti takdir masa depan.
Ini adalah kapal mewah dengan segala sesuatu, sebuah perjalanan seperti mimpi yang bisa membuatmu melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan juga. Maka tak heran jika seseorang telah saling jatuh cinta.
Ini hanya rumor, namun aku mendengar beberapa pasangan baru telah lahir. Sayangnya tidak ada cerita semacam itu pada diriku, aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan sendirian.
Situasi ini sama sebelum ujian itu.
Tidak ..... Tentunya keadaan di sekelilingku sudah mulai berubah kan?
Bukan kemauanku, alasanku sewaktu memasuki sekolah ini adalah dipaksa untuk membuat perbaikan besar . Sebenarnya aku memilih memasuki sekolah ini karena alasan tertentu.
"Sekolah mewajibkan para siswa untuk memutus hubungan dan pelarangan untuk pergi keluar sampai kelulusan."
Peraturan sekolah itu adalah tujuanku.
Meskipun saat ini "seorang pria" sedang berusaha memaksaku berhubungan dengan dunia luar. Chabashira sensei, yang merupakan wali kelasku memberitahu ku tanda-tanda akan hal itu. Dan selanjutnya, Chabashira sensei juga mengatakan ada kemungkinan aku akan dikeluarkan jika aku tidak bekerja sama untuk mencapai kelas A, aku akan diusir dari surga ini. Ini sangat tidak masuk akal, namun tanpa kekuatan aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Karena tidak ada cara untuk membuktikan benar tidaknya informasi itu. Kemungkinan buruk, aku harus berasumsi bahwa itu benar dan bertindak.
Meski begitu, aku tidak mau menuruti kemauan wali kelasku selamanya. Selagi mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, dalam beberapa kasus itu akan diperlukan untuk mempertimbangkan apa yang harus dilakukan juga.
Iblis berbisik di belakang kepalaku dengan singkat. Cukup singkirkan dia sebelum dia yang menyingkirkan mu.
Ada berapa banyak cara agar membuatnya mengundurkan diri?
Pemikiran berbahaya seperti itu benar-benar terlintas di kepalaku. Aku segera mengembalikan pemikiran damai ku yang biasanya.
"Haa.... seandainya aku mempunyai cukup kekuatan tinju untuk membalikan perputaran bumi."
Jika aku bisa melakukannya, aku bisa hidup selamanya tanpa mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti itu.
Menatap keluar jendela sambil mengkhayal dunia Dragonball yang tidak ada.
Sudah tiga hari berlalu semenjak ujian di pulau tidak berpenghuni itu, dan tidak ada yang berubah.
Setelah berakhirnya ujian bertahan hidup itu, sebagian besar siswa tidak berpikir ujiannya akan berakhir hanya dengan ini, dan sekolah akan melanjutkan pada tahap berikutnya. Namun, nampaknya tidak ada tanda-tanda akan hal itu. Tenang dan damai seperti menikmati perjalanan liburan musim panas yang sebenarnya.
Tentu saja para siswa mulai merasa santai dan optimis bahwa ujian akan selesai dengan ini. Dari dua minggu perjalanan, kupikir setengah minggu terakhir adalah murni liburan untuk para siswa. Para siswa merasa dibebaskan semenjak dipaksa bertahan hidup di pulau tak berpenghuni dari hari pertama perjalanan. Pemikiran itu tidak bisa dikatakan buruk. Itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa kami tangani karena kami tahu bahwa saat-saat seperti itu adalah hal yang paling berbahaya. Orang yang tetap tenang terkadang mendapatkan hasil yang bagus.
"Eh? Apa mungkin kamu selalu berada di kamar ini?"
Seorang siswa laki-laki, Yosuke Hirata, salah satu teman sekamarku di kabin yang sama, menyapa ku yang sedang melihat pemandangan laut dari jendela kamar tamu.
"Aku tidak punya alasan untuk keluar. Selain itu, tidak ada orang yang bisa diajak bermain."
"Itu tidak benar, bukankah ada Sudou-kun dan Horikita-san?"
Mereka benar-benar menempatkanku ke dalam kategori teman. Tentu saja, aku juga berpikir mereka adalah temanku.
Namun, meskipun aku dimasukan ke dalam kategori teman, selama aku berada di kelas yang lebih rendah, aku akan diperlakukan berbeda dari teman-teman lainnya.
Jika mereka mengajak mu bermain sebanyak 10 kali, maka akan ada pihak lain yang hanya diajak sekali.
Tentu saja, aku termasuk yang diundang satu kali dari yang sepuluh itu.
"Kupikir kamu bisa mendapatkan teman jika Ayanokouji-kun lebih agresif."
Orang yang bernama Hirata ini sangat populer dan mendapat dukungan dari banyak siswa.
Terutama anak-anak perempuan yang sangat mempercayainya, termasuk juga Karuizawa. Bagi pemuda yang penuh kebahagiaan ini, kau tidak akan mengerti penderitaan orang yang tidak bisa agresif.
"Ayanokouji-kun terlalu banyak berpikir, yang perlu kamu lakukan hanyalah sedikit mengambil kesempatan."
Aku tidak memerlukan kata-kata kejam yang seperti kebaikan seperti itu.
Aku tidak butuh "Eee..., ◯◯-kun kamu kok gitu", yang dikatakan para gadis. "Keluar yuk" sambil berkata "kamu tunggu" aku tidak memerlukan sesuatu seperti itu.
Karena baik dia maupun teman-teman ku tidak bisa melakukannya, makannya aku menghabiskan waktu sendirian. Bodoh
"Rencananya pukul 12 nanti aku akan bergabung dengan Karuizawa-san untuk makan siang, bagaimana kalau kamu ikut? Jika Ayanokouji-kun datang suasananya akan lebih hidup."
"Karuizawa, huh?"
"Ya, ada tiga gadis lainnya juga, apa kamu tidak suka?"
Sejenak berpikir. Sejujurnya aku sudah berencana untuk membuat kontak dengan Karuizawa.
Namun saat ini tidak perlu terburu-buru kan? Terlepas dari gadis-gadis yang menemaninya, sulit untuk merangsang percakapan. Kupikir suasananya akan sangat hidup, namun canggung pada saat yang sama.
"Aku tak yakin. Aku tidak terlalu akrab dengan Karuizawa dan teman-temannya."
Begitu semester pertama berakhir, hubungan antar teman sekelas sudah mulai dibangun. Wajah apa yang harus aku buat dalam membuat hubungan pertemanan baru? Munculnya ketidaksukaan Karuizawa dan teman-temannya terbayang olehku.
Hirata duduk disampingku, dari emosiku ia menyadari ketakutanku berhubungan dengan orang-orang.
"Untuk beberapa alasan aku mengerti kekhawatiran mu. Dan karena itulah aku ingin kamu bergantung padaku."
Kapanpun dan dimanapun dia tetap mempertahankan wajah segarnya. Aku menghargai tawarannya, meski begitu aku menggelengkan kepala.
"Hanya sekitar 10 menit tersisa sebelum pertemuan itu. Kau harus meninggalkan ku sendirian."
"Tak perlu terburu-buru. Dan kupikir menyenangkan melakukannya sekarang."
Sekilas kata-kataku mungkin terdengar cuma cari-cari alasan. Namun sampai batas tertentu, aku sudah puas dengan keadaan ku saat ini. Sejak memasuki sekolah ini, aku benar-benar merasa bersemangat dengan keinginan untuk menghasilkan 100 orang teman, namun tempat setiap individu sudah ditentukan sejak awal. Meski begitu, aku sudah mulai bisa bicara dengan trio bodoh, Horikita, Kushida, dan Sakura Airi, kehidupan sekolahku tidak terlalu buruk. Akan tetapi, Hirata nampaknya tidak bisa mengabaikan seseorang sendirian.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku makan siang berdua denganmu? Meskipun kamu tidak menyukainya."
Sebuah ruangan dengan hanya dua orang di dalamnya. Hirata, yang duduk bersebelahan di tempat tidur mengalihkan pandangannya dengan serius ke arahku.
Jika aku didorong oleh tubuhnya dan terjatuh, kemungkinan aku tidak bisa mengelak.
"Etto, bukannya aku tidak suka ... Tapi kau sudah punya janji dengan Karuizawa."
"Aku bisa makan dengan Karuizawa dan teman-temannya kapan pun. Namun, karena aku dan Ayanokouji-kun berada di kamar yang sama, sampai saat ini kita jarang mendapatkan kesempatan untuk makan bersama."
Normalnya, bagi anak laki-laki yang sehat tidak masuk akal untuk menolak makan siang bersama anak-anak perempuan.
Namun Hirata bisa memproritaskan makan dengan seorang anak laki-laki tanpa ragu.
Aku bahkan hampir meragukan dia tidak memiliki maksud "itu".
Meskipun Hirata seringkali bertingkah aneh, namun itu masih pada batas wajar sebagai seorang pria.
"Aku tidak mau memiliki dendam dengan Karuizawa."
Aku kembali menolaknya. Namun nampaknya itu malah merangsang hati nurani Hirata. Di matanya, aku mungkin tampak seperti seekor rusa yang tidak bisa mengambil langkah dan ketakutan sekarang.
"Bukan masalah. Karuizawa-san bukanlah gadis yang akan membenci seseorang karena hal semacam itu."
Tidak-tidak, dia tersenyum saat mengatakan Karuizawa adalah gadis semacam itu. Meskipun dia bersikap baik di depan Hirata, namun harusnya Hirata juga tahu sikapnya yang sangat kasar dalam memperlakukan orang lain.
Meski begitu, menurut pandangan Hirata dia bukanlah "gadis semacam itu"?
Itu mengingatkanku pada seorang guru dengan kasih sayang yang buruk pada murid-muridnya malam itu.
"Baiklah, aku akan memberi tahu Karuizawa-san."
Dengan enggan Hirata mengatakan itu dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Karuizawa.
Aku mencoba menghentikannya namun dihalau oleh Hirata dengan tangan dan matanya.
"Apa kamu mempunyai makanan kesukaan?"
Hirata mengajukan pertanyaan itu sebelum panggilan tersambung.
".... Aku bisa makan apapun. Aku hanya berusaha menghindari makanan berat."
Ada banyak restoran diatas kapal ini. Tentu saja isinya sangat beragam dimulai dari junk food seperti hamburger dan ramen hingga masakan perancis.
Soal makan siang, aku ingin mengendalikan makanan ringan sebisa mungkin.
Hirata benar-benar memberitahu pembatalan pada Karuizawa di telepon. Suara Karuizawa tidak bisa jelas terdengar olehku, namun Hirata secara paksa mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya.
"Apa ini benar-benar tak apa?"
"Tentu saja. Ayo kita ke geladak kapal, akan lebih mudah di sana karena itu adalah pusat makanan ringan."
Hirata membuka pintu agar membimbingku yang sedang bermalas-malasan di tempat tidur.
Bicara denganku dan mengkhawatirkanku, meskipun ini sama seperti biasanya, membaca suasana di sekitar Hirata yang sedikit memaksa, nampaknya ada beberapa hal yang dia sembunyikan.
"Terimakasih untuk bantuanmu sewaktu di pulau itu. Maaf aku tidak bisa berterimakasih dengan layak meskipun kamu telah membantuku mencari pelakunya."
"Kau tidak perlu meminta maaf, selain itu bukan aku yang melakukannya, Horikita lah yang menemukan pelaku yang mencuri pakaian dalamnya."
"Hasilnya memang begitu, namun aku juga sangat berterimakasih kamu tidak membiarkanku melakukannya sendirian dan membantuku."
Omong-omong soal pakaian dalam, aku teringat sesuatu, aku pun memutuskan untuk bertanya pada Hirata. Aku bertanya setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain di sekitar.
"Apa kau sudah mengembalikan pakaian dalam Karuizawa?"
"Ya. Karena Ibuki-san adalah pelakunya, jadi tidak ada masalah."
Insiden pencurian terjadi di pulau tak berpenghuni kala itu. Pakaian dalam milik Karuizawa dicuri dan terjadi kekacauan. Kemudian hubungan antara siswa dan siswi menjadi was-was karena pakaian dalam itu ditemukan di tas milik siswa laki-laki. Namun Hirata segera mengambil pilihan untuk menyimpan pakaian dalamnya. Bagaimanapun itu bagus. Itu adalah bagian yang sangat sensitif, jadi aku khawatir tentang apa yang terjadi.
Kupikir akan sulit mengembalikan waktu yang hilang bahkan dengan kepercayaan Hirata.
Jika mereka bisa saling memaafkan satu-sama lain, itu mungkin bukti bahwa mereka tengah mendaki tangga kedewasaan. Kami mengambil elevator di dalam kapal untuk naik keatas geladak kapal.
Banyak siswa dari tingkat yang sama tampak menikmati liburan musim panas dengan pakaian favorit mereka.
Karena terdapat kolam renang yang dibangun di dekat sini, ada juga siswa-sisi dengan pakaian renang yang berlalu-lalang. Itu bisa dikatakan karena kekangan di pulau tak berpenghuni dan tekanan adalah yang menyebabkan situasi ini.
Terlebih, tidak memerlukan poin untuk membayar semua fasilitas di kapal ini, makanan dan minumannya juga. Semuanya gratis terlepas dari kau punya uang atau tidak. Bisa dikatakan, dengan semua makanan dan permainan yang cuma-cuma, mustahil kau akan kehilangan berat badan. Nampaknya hanya pakaian dan perlengkapan renang yang disewakan. Namun meski begitu, sepertinya tidak ada yang keberatan.
Lebih dari setengah tempat duduk telah terisi penuh setelah kami sampai di toko tujuan.
Kami mengambil kursi kosong yang tersisa yang aman dari kerumunan.
"Sebenarnya... Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Aku menurunkan mataku pada setiap kursi di meja menu, kemudian Hirata mengatakan beberapa permintaan maaf kecil.
"Curhat?"
Seperti yang kukira dia ada maunya. Jadi alasannya dia ingin berhadapan denganku menggunakan waktu makan ini. Apakah ini adalah imbalan dari berterima kasih? Ini adalah sebuah alasan agar diterima ketika diundang, jadi aku tidak bisa mengeluh.
(Tln: minta koreksi, banget. Yang saya tangkap dari paragraf ini adalah Ayanokouji merasa ditipu Hirata mengundangnya makan dengan alasan berterimakasih atas kejadian di pulau itu agar dia tidak menolaknya, tapi sebenarnya dia ada maksud terselubung yaitu buat curhat.
"Bukankah aku tidak cocok sebagai teman bicara, maksudku ...apakah isinya terbatas tidak boleh ada orang lain yang tahu?"
Memilihku yang tidak terlalu mahir diajak ngobrol, kemungkinan dia memiliki beberapa alasan.
"Bisakah kamu menjadi penghubung antara aku dan Horikita-san? Kupikir dia adalah sosok yang diperlukan bagi kelas D untuk bekerja keras di masa depan."
Apakah curhatannya tentang ini? Saat aku mengangguk, Hirata tetap bicara selagi meminta maaf.
"Hari itu, berkat keberhasilan Horikita-san, kita mendapatkan hasil yang tak terduga, kupikir moral kelas telah naik, dan jumlah orang yang menyukai Horikita telah meningkat, yang mana itu adalah perubahan besar.
"Yah, itu benar."
Gadis yang bernama Horikita Suzune adalah siswa kelas D dan teman pertamaku semenjak memasuki sekolah ini. Terlepas dari itu, aku juga mungkin teman pertamanya. Dan sekarang dia tidak kekurangan teman dan bukan orang yang terisolasi. Siswa yang memiliki kemampuan biasanya menjadi panutan. Sisi buruknya adalah terisolasi dan tidak terikat dengan orang-orang. Dan mereka yang tidak bergaul dengan orang-orang seringkali bersikap kuat.
"Karena kita dalam situasi ini, termasuk diriku, kupikir dia seharusnya bergaul dengan semuanya agar lebih akrab. Aku sangat yakin selama kita bekerjasama, kita bisa naik menjadi kelas C atau B. Bahkan tidak mustahil kita akan mencapai kelas A."
Jika kau mendengar kata-kata ini dari seseorang yang tidak kau kenal, kemungkinan kau akan berpikir ini adalah cerita yang meyakinkan. Namun Horikita telah memisahkan diri dari Hirata semenjak memasuki sekolah ini. Kemunginan Hirata telah memperhatikan potensi besarnya semenjak awal. Aku tidak berpikir ada ketidaksenangan dari kata-katanya.
Namun, aku tidak berpikir bisa menyanggupi permintaannya. Alasannya sederhana. Kalau hanya mempertemukan Hirata dan Horikita, bahkan orang lain pun bisa melakukannya. Namun, itu tidak cukup menyelesaikan masalah hanya dengan ini.
"Tapi jika menggunakan penghubung, maka itu tidak menjadi masalah. Horikita adalah orang semacam itu."
Kalau kau ingin menjalin hubungan baik
dengannya, kau tidak boleh melakukan itu. Sebaliknya, jika kau mencoba menggunakan orang lain sebagai perantara, itu hanya akan membuat jarak mu dengannya semakin melebar. Sikapnya pada Kushida di kafe pada semester pertama adalah contoh yang nyata untuk itu.
"Yah... tentu saja aku mengerti, Horikita-
san tidak akan membuka hatinya pada orang lain selain Ayanokouji-kun. Aku tidak ingin memaksanya, jadi niatku adalah membuat Ayanokouji-kun bicara dengannya dan melaporkannya padaku, tolong sembunyikan keberadaanku."
Itu artinya aku yang harus bicara dengannya.
Singkatnya, aku akan mendengarkan pendapat Horikita dan memberikan rinciannya pada Hirata.
Dengan tidak diketahui Horikita, cara itu
akan menghasilkan hubungan kerjasama yang tidak terlihat.
"Kedengarannya mungkin mudah, namun itu tidak sederhana. Aku seringkali
disalahpahami karena selalu dekat dengannya. Jika aku tiba-tiba meminta pendapat padanya, itu harus dengan alasan yang bisa dipercaya."
"Tapi, tidak ada cara lain yang terpikirkan
olehku. Dan bahkan jika aku bicara secara langsung dengannya, sejujurnya aku tidak yakin bisa membujuknya."
"Bukankah langkah ini terlalu gegabah?"
Aku merasa senang jika Horikita bisa
bekerjasama, karena tidak ada seorang pun yang memikirkan kelas sebanyak dirinya. Namun, kalau menghadapi Horikita. Aku tahu itu hal yang sulit, meskipun kerjasama akan berjalan.
Hirata nampaknya mengerti poin ini. Demi kelas dan menghargai persahabatan, tidak ada seorang pun yang akan menyukainya. Jika begitu, akan ada keraguan dalam permintaannya.
Dia nampaknya gelisah tentang apa yang harus dilakukan dan kehilangan dirinya. Aku secara alami teringat tingkah anehnya saat di pulau tak berpenghuni itu. Hirata di kelas D seringkali terlibat masalah.
Aku memesan sandwich dan minuman ringan. Beberapa siswa sedang berenang pada kolam renang di geladak kapal, beberapa sedang makan selagi berendam. Para siswa nampaknya
sangat senang.
Jika Yamauchi dan Ike ada disini,
kemungkinan mereka lebih ingin melihat gadis-gadis dengan pakaian renang ketimbang makan. Hirata yang duduk di depanku, tidak mengarahkan pandangannya pada para gadis maupun aku. Dia sedang berpikir.
"Yah, seperti yang Ayanokouji-kun katakan, rencanaku ini mungkin terlalu dangkal."
Segera mengakui kesalahannya dan tetap bersikap lembut. Ini juga merupakan salah satu daya tarik yang dimiliki Hirata.
Meski begitu, keinginannya membangun
hubungan dengan Horikita nampaknya sangat kuat, dia tampak tidak menyerah.
"Mungkin aku harusnya memikirkan cara agar aku lebih dekat dengannya. Horikita-san agak sulit didekati, bagaimana kamu bisa dekat dengannya, Ayanokouji-kun?"
Dalam rangka memperdalam hubungannya dengan Horikita, Hirata nampaknya terlebih dahulu ingin menjadi temannya.
Sikap positif ini baru benar. Jika begini, aku juga setuju membantunya.
"Dalam hal ini, aku selalu menolak orang-
orang. Aku dan Horikita bukanlah orang yang baik. Itu akan lebih mudah baginya untuk mengerti diriku sebagai teman."
"Karena Horikita-san hanya membuat teman denganmu, kamu adalah sosok yang spesial."
Sosok yang spesial huh. Sementara aku membuat teman dengan satu orang, orang ini telah berteman dengan empat puluh orang. Harusnya ini tak perlu dikatakan. Atau mungkin, karena dia bisa berteman dengan empat puluh orang yang tergolong jumlah yang besar, tidak bisa berteman dengan siswa tertentu membuatnya minder.
"Kau tidak perlu terburu-buru. Bukankah semester pertama baru saja berakhir?"
Solidaritas pada dasarnya akan meningkat seiring waktu yang kau habisakan bersama. Atau karena kejadian tak terduga seperti di pulau tak berpenghuni itu. Tentu saja, itu juga akan meningkat dengan perbuatan, namun pada kebanyakan kasus hal seperti itu akan mudah pecah dan hancur.
"Akan lebih baik jika aku bisa berteman dengan Horikita-san secepatnya."
Aku sebagian besar bisa mengerti alasannya.
".... Mungkin benar."
Dia mungkin sedikit tidak sabaran, Hirata
menampakan cerminan di wajahnya.
"Aku tidak mempertimbangkan perasaannya. Aku hanya berusaha menyerangnya dari satu sisi..."
Hirata yang bicara denganku tersenyum dan mengangguk, pada saat ini kurasa dia sudah mantap.
"Aku minta maaf mengundangmu makan untuk membicarakan ini."
Suasana hatinya nampaknya sudah berubah. Kami berdua mulai memakan pesanan kami. Namun, Hirata nampaknya segera menyadari ada seseorang yang mendekat lalu memberi isyarat padaku.
"Ah, ternyata kamu disini Hirata-kun! makan bareng yuk!"
Yang datang adalah para gadis yang dipimpin oleh Karuizawa dengan suara riang.
"Er... Karuizawa-san, kupikir aku sudah
memberitahumu melalui telepon sebelumnya, tapi kenapa ...?"
Karuizawa menarik kursi lainnya di seberang meja, mendorongku dan mengerumuni Hirata. Segera, makan siang yang tenang berubah menjadi berisik. Meskipun aku agak sulit untuk berkomunikasi, namun itu bukan masalah, aku telah menyesuaikan tiap kali aku berurusan dengan hal ini. Aku
menggunakan kemampuan yang aku pelajari semenjak semester pertama, itu adalah "segera pergi".
Aku membereskan makan siangku lalu berdiri tanpa mengeluarkan suara. Untuk sesaat aku merasakan mata kami bertemu, namun Hirata segera dikelilingi oleh para gadis lagi. Aku tidak bisa lagi melihatnya.
Itu adalah beberapa kelemahan penting dalam berteman. Demi orang lain, kau harus rela menghabiskan waktu mu dengan mereka, kau tidak bisa sendirian. Sekalipun kau memiliki masalah pribadi, kau tidak bisa membicarakannya dengan Karuizawa.
Bagian 1
Aku meninggalkan Hirata yang telah dikuasai oleh Karuizawa. Karena tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Aku tidak menggunakan elevator, namun tangga di belakang geladak kapal. Saat aku sampai di lantai tiga tempat dimana kamarku berada, aku menemukan sedikit air di koridor.
Jejak air nampaknya memanjang sampai ke kamarku. Aku mengikuti jejaknya dan menemukan ada seseorang yang mengenakan pakaian pantai, bertelanjang dada sambil berjalan dengan anggun.
"Hey kau! Berani sekali kau berjalan di koridor dalam keadaan basah!"
Petugas pria menyadari situasi yang gawat, dan dengan terburu-buru menghampiri orang itu. Aku tidak tahu kenapa ada handuk di tangannya. Aku penasaran apakah itu sudah disiapkan sebelumnya karena situasinya terlalu sempurna, dia terlihat seolah terbiasa dengan ini.
"Hahahaha, kelihatannya aku ketahuan."
"Ini sudah yang keempat kalinya, jadi aku sudah berulang kali mengatakannya. Setelah keluar dari kolam renang, tolong lap tubuhmu sebelum kembali ke kapal. Ini akan mengganggu penumpang lain."
Nampaknya ini bukan yang pertama kalinya, jadi petugas pria itu sudah menyiapkan handuk di tangannya.
"Menggangu? Tapi aku tidak pernah ingat ada yang terganggu dengan ini. Aku punya prinsip tidak boleh mengelap tubuhku saat aku sedang indah."
Koenji mengepakan rambutnya yang basah ke segala arah. Petugas yang melihatnya dengan cepat segera mengelap lantai dan dinding dengan handuknya.
Koenji menghentikan langkahnya karena melihatnya panik sangat lucu.
"Apa kau punya pulpen dan kertas?"
"Huh...? Oh ya, karena pekerjaan aku selalu membawanya..."
Petugas pria itu tidak mengerti maksud perkataannya, dengan canggung dia mengeluarkan pulpen dan buku catatan.
"Apa kau tahu tanda tangan dari orang terkenal terkadang memiliki harga yang fantastis? Dikatakan dalam beberapa kasus ada yang mencapai satu hingga sepuluh juta nilainya di luar negri."
"A..apa yang kau bicarakan?"
Dengan lancar dia menuliskan sesuatu diatas buku catatan itu, lalu mengembalikannya ke si petugas. Meskipun agak jauh, namun aku bisa melihat "Koenji Rokusuke" yang tertulis disana.
"Apa, apa ini...?"
"Bukankah jelas? Ini tanda tangan. Meskipun ini buku catatan murah, namun itu akan bernilai besar di masa depan. Aku memberikannya untukmu, silakan simpan."
Sepertinya, apa ini hadiah? Nampaknya dia menuliskan tanda tangan sebagai wujud terima kasih pada petugas yang bekerja itu. Meski begitu, nampaknya ini adalah jenis kebaikan yang mengganggu, petugas itu tampak tidak menginginkannya.
"Tolong jangan membuatku terlihat bodoh, aku adalah orang yang akan memikul Jepang dimasa depan. Tunggulah saat aku memiliki kapal besar pada waktu itu. Tentu saja itu akan lebih besar dan lebih mewah dari kapal pribadi tempatmu bekerja."
Sekalipun itu kapal yang besar dan mewah, itu tidak ada gunanya jika berakhir seperti Titanic yang tenggelam.
Koenji tertawa puas. Petugas itu nampaknya sudah menyerah untuk menghentikan Koenji, hanya menatap lantai basah terpaku. Dia nampaknya sudah kehabisan kata-kata.
Rumor adalah sesuatu yang menjalar seperti api. Para siswa dari tingat yang sama bilang "Lebih baik kau tidak dekat-dekat dengannya jika tidak ingin terlibat masalah", oleh sebab itu mereka mengabaikannya. Yang lebih penting, para siswa sudah mengalami situasi yang sama seperti petugas itu.
Hirata terkadang menyapanya jika dia melihat Koenji, namun itu tidak bisa dicegah. Meskipun mengaibaikannya adalah sikap yang salah, hampir kebanyakan siswa diperlakukan seperti petugas ini.
Koenji itu seperti racun, dan mereka yang menyentuhnya terlepas dari kawan atau musuh, semuanya akan menderita.
Aku tidak ingin terlibat masalah, dan dengan cepat berjalan melewati kedua orang itu.
Namun sungguh sial.
"Oh, Ayanokouji Boy, ini kebetulan."
Tsk ... aku tidak mengira kata-kata itu akan keluar dari mulutnya. Saat target perhatiannya berubah ke arahku, petugas pria itu tersenyum lebar.
Itu seperti dia berkata - ah, aku telah terbebas!
Tidak tidak, sebagai awak kapal, bagaimana mungkin ini bisa terjadi... ah. Tidak peduli tamu macam apa yang kau hadapi, kau harus menghadapinya sampai tuntas. Ini seperti memelihara ikan dan memutuskan melemparkannya ke dalam sungai hanya karena kau tidak sanggup merawatnya. Meskipun tak bisa dipungkiri, Koenji adalah spesies bengis yang akan memangsa dan menghancurkan spesies lainnya di dalam sungai.
(Tln: maksudnya lempar tanggung jawab.)
"Ada apa?"
"Tidak, tidak ada yang khusus, aku hanya menyapa mu sebagai teman sekelas. Meskipun itu tidak layak, kau masih teman sekamarku, bukan?"
Ketika ia menyingkapkan rambutnya sekali lagi, seperti pistol, air yang jatuh menyebar ke atas wajah dan seragamku. Tentu saja, dia hanya peduli dengan rambutnya itu, dan tidak memperhatikan korbannya.
Meskipun aku menderita disini, tapi petugas pria itu malah tersenyum melihat ku.
Huh, aku sangat bisa mengerti perasaan mu ...
"Kalau begitu saya permisi, tolong hati-hati lain kali."
Petugas itu sepertinya berniat menyelesaikan pekerjaan seminimum mungkin, dia memberi saran dan salam perpisahan. Tentu saja, aku tidak ingin begitu saja dipaksa berada di tempat ini bersama Koenji.
"Apa yang kau bicarakan dengan Koenji?"
Untuk sesaat, wajah petugas itu berubah dari senyum menjadi ekspresi marah, namun saat Koenji mengarahkan pandangan padanya, petugas itu tersenyum kembali. Untuk sesaat kupikir dia mirip ashraman.
(Tln: ashraman adalah tokoh komik yang mempunyai tiga wajah, kyk Brahma)
"Tidak, um, seperti yang kau lihat, dia basah, dan aku punya sebuah handuk--" (Petugas)
"Dengan kata lain, kau mengejarnya, dan itu mengganggunya, kalau begitu aku pergi." (Ayanokouji)
Aku menerima bola dari pelayan itu, dan secara paksa melemparkannya kembali padanya, kemudian pergi.
"Boy, apa kau berusaha menasehatiku?" (Koenji)
"Ah - itu, tidak itu..." (Petugas)
Aku akhirnya bisa melarikan diri dari Koenji, dan kembali ke kamarku.
Tapi, jika aku kembali ke kamarku, aku akan bertemu dengan Koenji lagi.
Dengan kata lain, kamar adalah tempat yang tidak menyenangkan. Aku selalu sendirian selama perjalanan ini, namun itu tidak terlalu buruk.
Aku ingin menghindari situasi canggung, aku berbelok ke arah kanan, memutuskan menunggu waktu yang tepat kembali ke kamarku.
Aku berniat kembali saat Hirata atau Yukimura yang berada dalam kamar yang sama juga kembali. Sebuah peta kapal tergantung di dinding. Meskipun hanya peta, namun bingkainya terbuat dari emas. Seperti yang diharapkan dari kapal mewah. Aku memeriksa peta, gambaran peta segera tercetak di otak ku, kemudian aku mengambil elevator dan turun ke lantai dua.
Kapal terbagi menjadi sembilan lantai dan satu atap. Empat dibawah dan lima lantai diatas. Dengan lounge dan tempat penjamuan di lantai pertama, atap diatur sebagai kolam renang, kafe dan sebagainya. Lantai tiga dan empat digunakan sebagai kamar, laki-laki dan perempuan termasuk guru jelas dipisah. Lantai tiga untuk siswa laki-laki dan lantai empat untuk siswa perempuan. Namun, tidak ada batasan pergerakan, terutama antara laki-laki dan perempuan, jadi tidak ada masalah jika laki-laki memasuki wilayah perempuan. Hanya saja, dilarang keluar masuk diatas jam 12 malam.
Omong-omong, nampaknya ada fasilitas hiburan lain seperti bioskop di lantai pertama sampai lantai ke tiga.
Lounge dan sebagainya bisa digunakan 24 jam, sekalipun itu itu tengah malam siswa dapat bebas memasukinya. Namun kami diberitahu agar membatasi diri sebisa mungkin.
Ada beberapa ruangan dengan suasana berbeda dari ruangan lainnya seperti lantai dua tempatku berjalan saat ini. Aku tidak tahu lantai ini digunakan untuk apa, susananya sangat sepi, hampir tidak ada siswa disini.
Pada waktu itu, ponsel di saku ku berdering.
Aku mengambli ponselku dan melihat ada email yang masuk. Ini pesan dari seorang gadis yang ingin bertemu. Haruskah kubilang ini waktu yang tepat? Aku tidak punya hal yang harus dilakukan. Karena tidak ada alasan untuk menolak, jadi aku menerimanya.
Bagian 2
"Ah...ahh..!!"
Aku mendekati Sakura si pengirim pesan, yang menghela napas berulang kali.
"Apa yang terjadi?"
"A.... Ayanokouji-kun!"
Aku tidak bermaksud mengagetkannya, dia tiba-tiba mundur ke belakang drum udara dan panik.
"Maaf membuat mu takut."
"Uh, tak apa, aku hanya sedikit terkejut."
Dia takut meskipun akan bertemu dengan temannya, aku bisa bayangkan betapa berat hidupnya itu.
"Ayanokouji-kun, teman sekamar mu adalah Hirata-kun, Koenji-kun, dan Yukimura-kun...bukan?"
"Oh? Yah, kenapa memangnya?"
Aku terkejut mendengarnya.
"Yah .... itu, sebenarnya... teman-teman sekamarku, sering kali menggangguku ..."
Mungkin hubungan dengan teman sekamarnya tidak baik. Sakura tidak bagus dalam bersosialisasi, aku tahu ini adalah masalah serius dilihat dari ekspresi wajahnya.
"Apa kamu khawatir jika tidak bisa mendapatkan teman?"
"Umm, itu... aku merasa ingin mendapatkan teman tapi pada saat yang sama aku juga ingin sendirian, jadi itu, keduanya ... ku pikir aku.."
Suaranya semakin mengecil, jadi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Namun, dari matanya aku bisa mengerti. Aku tidak tahu siapa saja teman sekamar Sakura, dari sudut pandang ku, sepertinya ia ingin meminta saran.
"Siapa saja teman sekamar mu?"
"Uh ...? Apa kamu tidak mendengarkan? Mereka adalah Shinohara-san, Ichibasi-san, Konen-san ..."
Dia memberitahu nama teman sekamarnya dengan wajah depresi.
Mereka adalah sosok yang kasar. Tentang Shinohara, di kelas D dia dekat dengan Karuizawa dan menggenggam kekuatan para gadis. Orangnya keras kepala, dan bahkan berani menghadapi anak laki-laki, namun dia bukanlah orang yang tidak berperasaan... Aku tidak tahu tentang Sakura, namun sepertinya mereka tidak ingin berteman dengannya. Ichibashi biasanya bersikap dewasa, namun dia adalah tipe pembully sama seperti Shinohara. Aku tidak terlalu tahu tentang Konen, namun kesan ku padanya dia adalah gadis bermulut kasar, suka berkelahi dan punya sifat yang buruk. Bagi Sakura, dia adalah tipe orang yang sulit bergaul dengannya. Meskipun Sakura bersikeras menjaga jarak dengan mereka, bukan berarti kebencian mereka akan berkurang. Aku merasa ingin mengusap kepalanya berharap agar dia tidak menangis.
"Tapi kenapa kamu memberitahuku hal ini?"
".... Jika Ayonoukouji-kun yang memberikan saran, aku kira ..."
Dia berkata lirih, kemudian mengangguk.
Nampaknya, ia merasa menjadi beban. Sakura segera menambahkan permintaan maaf.
"Aku minta maaf merepotkan mu, meskipun aku tahu Ayanokouji-kun sibuk."
"Tak apa, tidak masalah jika kamu meminta saran. Tapi, masalah yang menimpamu bukanlah sesuatu yang bisa aku atasi."
Sangat disesalkan. Aku dan Sakura sama-sama tidak punya hubungan baik dengan teman sekamar kami, jadi aku juga tidak bisa membantunya. Ketika aku memikirkan itu, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
"Oh? Ayanokouji-kun Sakura-san, apa yang kalian lakukan di tempat ini?"
Yang muncul dengan ceria dari dalam ruangan adalah Kushida Kikyo dari kelas D.
Wajah Sakura yang tersenyum segera berubah menjadi murung. Suasananya sangat tidak menyenangkan. Dia tidak bagus dalam mengontrol ekspresi wajahnya ... karena kemunculan Kushida, jelas ia menolak kehadirannya. Meski begitu, Kushida nampaknya tidak memperhatikannya dan lanjut bicara.
(Tln: scene ini juga ada di anime, tapi anime diacak dan diubah)
"Oh, aku tidak bermaksud mengganggu kalian, aku hanya kebetulan bertemu teman-teman ku disini."
"Aku akan kembali ke kamar ku." (Sakura)
Kushida segera berusaha menariknya, namun Sakura dengan cepat berlari ke dalam kapal.
"Yah... maaf ... mungkin waktunya tidak tepat ... ku kira mungkin sebaiknya aku tidak memanggil kalian."
Kushida meminta maaf. Sebenarnya, tak ada yang perlu dimaafkan, Sakura lah yang buruk dalam bersosialisasi.
Omong-omong, kurasa ini pertama kalinya aku bicara dengan Kushida lagi setelah kembali ke kapal ini. Aku sering melihatnya bermain bersama sejumlah besar teman.
Meskipun Kushida kelas D, namun ia juga akrab dengan kelas lainnya.
Dia sudah berteman dengan banyak orang semenjak hari pertama upacara penyambutan sekolah, selain beberapa orang seperti Sakura tentunya.
"Aku punya janji dengan teman-teman dari kelas C hari ini, apakah Ayanokouji-kun mau ikut?"
"Er... aku boleh gabung?"
"Apa kamu akan datang?"
....... Ini hari yang buruk.
Meskipun niat ku yang sebenarnya untuk pergi keluar memang ada, Kushida nampaknya sesaat bingung dengan maksudku.
Ini adalah tatakrama. Dengan kata lain, tatakrama dalam menolak tawaran seseorang.
"Aku bercanda, kau tahu kan aku bukan orang semacam itu?"
"Wow, aku sesaat terkejut! Ternyata Ayanokouji-kun bisa bercanda juga."
"Begitukah?"
Aku tidak berpikir dia serius tertawa, karena saat Kushida mengatakan ini, itu benar-benar dari kedalaman hatinya, menakutkan.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Dia pamit dengan salam perpisahan sederhana. Secara kebetulan, ponsel ku dan Kushida juga berdering.
Suara keras bernada tinggi itu berasal dari email yang dikirim sekolah untuk intruksi bila mana ada pergantian event. Meskipun saat mode senyap, suaranya akan keluar, menandakan betapa pentingnya email itu.
"Apa ini?"
Tidak mengherankan jika Kushida berhenti dan penasaran. Meskipun sudah menerima penjelasannya semenjak pendaftaran sekolah, aku belum pernah menerima email penting hingga sekarang. Liburan musim panas ini adalah pertama kalinya.
Hampir pada saat yang bersamaan, pengumuman diatas kapal juga berbunyi.
"Kami telah mengontak para siswa. Kami telah mengirim email dengan informasi kontak dari sekolah pada semua siswa. Tolong periksa ponsel kalian dan ikuti petunjuknya. Juga, jika tidak ada yang menerima email, tolong hampiri teman terdekat kalian. Ini sangat penting, jadi harap jangan mengabaikan isinya. Saya ulangi-"
"... Apakah ini tentang email yang kita terima sekarang?"
"Mungkin"
Masing-masing dari kami juga menerima pemberitahuan dari sekolah.
Saat aku membuka pesannya dengan fitur suara, email yang tertulis disana segera terbaca.
"Ujian khusus akan segera dimulai. Harap berkumpul di masing-masing ruangan yang telah ditentukan. Siswa yang terlambat lebih dari 10 menit akan dikenakan sangsi. Harap berkumpul di kamar 204 lantai kedua pukul 18:00 hari ini. Ini mengambil sekitar 20 menit, jadi harap cuci tangan mu dan ubah ponsel mu ke mode senyap atau matikan."
"Ujian khusus."
Ini benar-benar bukan seperti ujian kertas maupun olahraga.
Sepertinya ini akan sama seperti bertahan hidup di pulau tak berpenghuni itu dimana siswa biasa tidak bisa mengatasinya.
Selain itu, emailnya tidak menjelaskan jenis ujian apa pun. Apakah emailnya ditulis agar kita bisa mengerti sesuatu darinya? Atau supaya kita melakukan persiapan? Itu tidak jelas.
Ada poin yang lebih membuatku tertarik lebih dari itu. Waktu berkumpul adalah pukul 18:00 meskipun waktu yang diperlukan sangat singkat, sekitar 20 menit dan itu sudah ditentukan setengahnya. Dan kenapa ruanganan yang ditentukan adalah kamar dari kapal? Meskipun aku bersyukur, namun kupikir itu bukan tempat yang cocok untuk ujian.
(Tln: sudah ditentukan setengahnya maksudnya yang 10 menit terlambat.)
"Bisa lihat sebentar?"
Aku minta melihat email yang juga diterima Kushida. Pada dasarnya kalimatnya sama, namun hanya waktu dan tempat yang ditentukan yang benar-benar berbeda dariku. Waktunya adalah 20:40 dengan waktu yang ditentukan juga 20 menit. Dan tempatnya juga berjarak sekitar 2 kamar terpisah.
"Ada yang aneh?"
".... Aku tidak punya petunjuk."
Aku hanya punya firasat kalau itu tidak bagus.
Aku tidak mengira kalau pelayaran akan berakhir seperti ini, tapi mau bagaimana lagi.
Kapal dimana semua siswa dari tingkat pertama dikumpulkan .... Tempat dimana teater film, tempat pesta, restoran dan hal lain ada di dalamnya. Kupikir tidak mustahil menduga pergerakan mencurigakan dan isi dari ujian, namun sayangnya aku tidak melihat tanda-tandanya waktu itu.
Aku tidak mengira para siswa akan dipisahkan, dibatasi dan mengumumkan dimulainya ujian.
Aku mengirim pesan pada Horikita melalui penselku yang langsung dibalas cepat tidak seperti biasanya. Seringkali butuh setengah hari hingga aku mendapat balasan, atau bahkan berhari-hari kalau suasana hatinya sedang buruk. Apakah ini karena kami menerima email dari sekolah pada saat yang bersamaan? Mari kita tanyakan itu.
"Apa kau menerima email dari sekolah juga?"
"Ya."
"Miliku adalah pukul 18:00, bagaimana dengan mu?"
"Aku pukul 20:40, sepertinya sangat berbeda."
"20:40 ya ....."
Sepertinya waktunya sama dengan milik Kushida. Apa ini artinya laki-laki dan perempuan dipisah? Hanya itu yang terpikirkan.
"Aku penasaran tentang perbedaan waktunya. Waktu dimulainya ujian berbeda, sangat tidak adil bagi siswa yang pertama mengikuti ujian, yang kedua bisa menanyakan isi ujian pada siswa yang pertama mengikutinya."
"Tidak, semuanya masih samar sekarang."
Aku mengobrol dengannya tentang isi email itu. Namun tiba-tiba aku menerima pesan darinya.
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan, namun waktunya terbatas, karena kau yang pertama mengikuti ujian, kabari aku nanti."
"Baiklah"
Aku menjawabnya singkat, namun tampaknya dia tidak mendengarnya. Telpon sudah terlebih dulu ditutup.
"Ayanokouji-kun?"
Kushida nampaknya sangat penasaran dengan isi percakapan kami, jadi saat ini dia begitu dekat. Meskipun Kushida ingin mendengar cerita setelah panggilan berakhir, namun kupikir ini bukan ide yang bagus. Mari kita periksa dulu waktunya.
Sepertinya ini belum terlambat.
Aku menerima email panggilan dari sekolah untuk memasuki lantai dua pada ruangan nomor 204. Waktu ku tiba di tempat tujuan adalah sekitar lima menit.
Ada banyak siswa di lantai ini yang mana itu tidak biasa, aku tidak mengenali mereka, namun aku bisa melihat mereka memasuki ruangan terdekat. Jumlahnya tidak satu atau dua. Terkadang mereka datang berkelompok, melewatiku, dan menghilang ke ruangan lain.
"Siswa dari kelas lain ..."
Awalnya aku berpikir untuk menunggu di depan pintu masuk, namun ada kemungkinan kalau acaranya sudah dimulai di dalam. Yang lebih penting, Aku tidak suka ditatap siswa lain, jadi aku putuskan untuk bergerak. Aku mengetuk pintu dan segera mendapat balasan.
"Masuk."
Setelah diberi izin, aku memasuki ruangan. Disana terdapat guru kelas A Mashima sensei dengan pakaian kerja, yang gelisah duduk diatas kursi. Matanya terpaku pada tabel material kecil.
Dan di depannya, dua siswa juga duduk diatas kursi.
Keduanya adalah siswa kelas D.
"Apa satu dari dua kursi yang tersisa itu untuk Ayanokouji-dono? Kopo!"
Suara tiruan aneh berkelak-keletak itu dihasilkan dari siswa bernama Sotomura yang dijuluki professor oleh siswa laki-laki. Sebagai siswa SMA dia tumbuh agak gemuk dan mengenakan kacamata, sosoknya mirip otaku pada umumnya. Dia sangat baik dalam permesinan dan sejarah, walaupun tingkah laku dan kata-katanya sulit dimengerti, namun secara tak terduga dia bisa berkomunikasi dengan orang-orang.
"Situasinya jadi aneh, Ayanokouji."
Selanjutnya, yang duduk di sebelah Professor adalah Yukimura, teman sekamarku di kapal ini.
Professor dan Yukimura, hubungan antara keduanya tidak begitu dekat. Namun, aku bertanya-tanya apakah ini kebetulan? Anggota yang hadir ini, apakah sudah ditentukan sebelumnya?
"Apa yang kau lakukan, cepat duduk!"
Mashima-sensei menyuruhku duduk bahkan tanpa mengangkat kepalanya. Aku duduk di sebelah Yukimura tanpa mengeluarkan suara.
Hal yang mengusik ku adalah kursi kosong lain di sebelah ku.
Nampaknya ini diatur untuk satu guru dan empat orang siswa dilihat dari situasinya ... tapi kenapa hanya ada sedikit siswa?
"Kita tunggu satu orang lagi."
Dari atmosfir yang diberikan ini, nampaknya ini bukan masalah sederhana. Ini adalah badai baru, tanda dimulainya ujian.
https://kbbi.web.id/atmosfer
Jika ini adalah penjelasan dari ujian, situasinya jelas sangat tidak biasa. Umumnya, setiap siswa akan menerima instruksi seperti agar tidak curang. Entah itu ujian tulis diatas meja ataupun ujian bertahan hidup di pulau tak berpenghuni, itu sama. Meski begitu, tempat ini adalah ruangan tertutup. Apa maksud dari dikumpulkannya beberapa orang ini? Atau apakah aku terlalu khawatir? Apakah ini hanya langkah permulaan?
Singkatnya, sekalipun aku terus memikirkannya, itu mustahil untuk mendapatkan jawaban.
Bahkan setelah aku duduk diatas kursi, suasananya masih berlanjut pada keheningan berat, tidak ada percakapan lagi antara kami dan guru. Ini hampir mendekati waktu yang dijadwalkan jadi aku ingin orang itu tiba sesegera mungkin. Terdapat jam berbentuk kotak musik yang dipasang di setiap ruangan. Suara jam yang berdetak menggema di dalam ruangan yang hening. Akhirnya, waktu yang ditentukan pukul 18:00 tiba. Mashima-sensei hanya memandang perlahan ke arah jam. Hampir pada saat yang sama, seseorang mengetuk pintu. Saat guru menyuruhnya masuk seperti aku sebelumnya, pintunya perlahan terbuka.
"Permisi."
Segera, Karuizawa memasuki ruangan. Aku sudah mengira yang akan datang adalah dari kelas D, namun aku tidak menyangka Karuizawa lah orangnya. Karena kupikir yang datang anak laki-laki, jadi ini benar-benar tak terduga.
"Huh? Kenapa Yukimura-kun ada disini?"
Itu juga yang ingin kutanyakan. Aku tidak bisa menyembunyikan kombinasi dari penasaran dan bingung. Professor nampaknya tidak terlalu memikirkannya, namun Yukimura terlihat aneh.
"Sekolah harusnya sudah bilang untuk tepat waktu, ini sudah telat, kau cepat duduk!"
"Baik."
Karuizawa menjawab sedikit tidak puas pada kata-kata Mishima-sensei dan kehadiran kami sebelum duduk diatas kursi. Dia menatap kami satu persatu, aku mengangkat kursiku dan mengambil sedikit jarak darinya. Meskipun hanya beberapa sentimeter, namun aku bisa merasakan tekanan meskipun jaraknya hanya mendekat 1 mm.
"Untuk kelas D, Hideo, Yukimura, dan Karuizawa, bapak akan menjelaskan ujian khususnya pada kalian sekarang."
Ini adalah sesuatu yang sudah aku duga semenjak menerima email itu ... Apakah masih ada penjelasan ujian?
"Tunggu sebentar, aku tidak mengerti artinya, ujian khusus apa? Bukankah ujiannya sudah berakhir? Oh ini aneh."
Karuizawa nampaknya tidak bisa tenang mendengar orang bicara, dia segera mengajukan pertanyaan.
Cewek ini, apakah dia tidak membaca suratnya?
"Bapak tidak menerima pertanyaan apapun, harap tenang dan dengarkan."
Mashima-sensei tentunya memberi tatapan dingin pada Karuizawa.
Pihak sekolah tidak akan mudahnya menjawab pertanyaan kami.
"Ya ampun!"
Mashima-sensei sering bicara acuh tak acuh pada para siswa. Ini sama bahkan dalam ujian ini. Chabashira-sensei juga tak acuh, namun bukan guru yang mendukung dengan dingin, soalnya Mashima sensei ini juga tidak seperti guru yang muncul mendukung kelas secara khusus. Yang pasti, dia berbeda dengan Chabashira sensei, Mishima sensei selalu bersikap datar dibandingkan Chabashira sensei yang tidak karuan dan tidak memunjukan motivasi.
"Dalam ujian khusus ini, bapak akan memisahkan semua kelas 1 kedalam 12 kelompok yang sama dengan zodiak, dan melaksanakan ujian dengan kelompok itu. Tujuan dari ujian ini adalah kemampuan berpikir."
Seperti zodiak dan memisahkannya kedalam 12 kelompok? Itu artinya kelas D akan dibagi menjadi 3 grup dan menerapkannya agar cocok dengan 3 dari 12 zodiak?
Selanjutnya, kemampuan yang diujikan adalah "berpikir".
(Tln: シンキング = Thinking, ditulis dalam huruf katakana dari bahasa inggris."
Dengan kata lain, kemampuan untuk berpikir, mempertimbangkan maksud dari kemampuan, apakah itu ada hubungannya?
"Berpikir apa?"
Karuizawa yang baru saja diminta untuk diam, namun ia bertanya lagi.
Nampaknya ini sudah menjadi pertanyaan spontan.
"Bapak sudah bilang bukan? Bapak tidak menerima pertanyaan."
Mashima-sensei sekali lagi memberikan peringatan, Karuizawa nampaknya merasakan perasaan berat seperti yang di duga. Ketidaksenangan bisa terlihat dari ekspresinya, namun tampaknya ia patuh menutup mulut dan mulai mendengarkan.
Professor dan Yukimura juga, aku tidak tahu seberapa serius mereka memikirkannya, namun mereka diam dan mendengarkan.
"Ada tiga pokok dasar yang dibutuhkan untuk bermasyarakat. Tindakan, pemikiran, dan kerja tim. Orang-orang yang memiliki kemampuan itu, akan menjadi orang dewasa yang unggul. Ujian di pulau itu untuk menumbuhkan kerjasama tim, namun disini yang diberatkan adalah berpikir. Kemampuan untuk berpikir adalah kemampuan menganalisa situasi saat ini dan memastikan masalah. Kemampuan untuk menjelaskan masalah dan melakukan persiapan untuk memecahkannya. Kemampuan untuk bekerja dengan imajinasi dan menciptakan nilai baru."
Meskipun ini dijelaskan dengan baik, nampaknya ada lebih dari satu tanda tanya yang melayang diatas kepala 3 orang itu. Sama denganku. Banyak poin yang masih belum ku mengerti.
"Jadi ujian kali ini dibagi 12 grup untuk mengambil ujian ya."
Dan dengan satu helaan napas panjang, Karuizawa menunggu kalimat selanjutnya yang akan datang.
"Sudah mengerti sampai sejauh ini?"
"Aku tidak mengerti semuanya, tapi ada satu yang jelas. Grup terbagi menjadi 12 kelompok, lalu kenapa aku harus bersama orang-orang ini? Dimana Hirata-kun? Aku tidak mengerti isi dari ujian ini, tolong beritahu aku."
Memaksa untuk mengulangi penjelasan yang baik sekali lagi, kupikir dia tidak sopan.
Namun keraguan Karuizawa ada benarnya. Meskipun dia bilang tidak menerima pertanyaan, isi yang ingin ku dengar dengan penjelasan yang ambigu sejauh ini sangat terbatas. Kami hanya bisa menanyakan poin umum yang diatur untuk para anggota, atau bagaimana keadaan orang-orang lainnya, ada ketidakjelasan kenapa hanya ada beberapa orang disini.
Jika kelas terbagi menjadi 3 kelompok maka setidaknya akan ada 12 sampai 15 orang yang berkumpul untuk menerima intsruksi. Namun sekolah tidak melakukannya, apakah ini ada hubungannya dengan mempertimbangkan ukuran ruangan yang kecil?
Tidak, kapal pesiar ini harusnya memiliki beberapa ruangan dengan ukuran medium.
Dengan kata lain, ada kesengajaan membagi anggotanya dengan jumlah yang kecil di ruangan ini.
"Pertama-tama, ke-empat orang yang berada disini berada pada kelompok yang sama tentu saja, di ruangan lain juga ada yang "satu kelompok dengan kalian" dan diberi penjelasan yang sama."
Ada anggota lain yang satu kelompok dengan kami? Mendengar kata-kata itu aku bisa mengerti satu hal.
Yang muncul saat ini hanya 4 orang, dan anggota sisanya dibagi ke dalam beberapa ruangan dan menerima instruksi... Dengan kata lain, siswa sisanya akan menjadi partner kami dalam ujian ini.
"Jika seperti itu, bukankah jika semua anggota dikumpulkan sekaligus maka menjelaskannya akan lebih cepat dan mudah? Dan juga, kenapa aku bersama orang-orang menjijikan ini?.... Satu grup dengan anak laki-laki? Kalau boleh jujur aku tidak suka, aku lebih suka dengan Hirata-kun."
Mendengar Karuizawa yang berbicara seenaknya sendiri, akhirnya Yukimura bangkit.
"Tidak bisakah kau mendengarkan jika orang lain bicara, hah? Ujian mungkin sudah dimulai. Jika kata-kata yang tidak perlu bisa menurunkan poin, apa kau mau bertanggung jawab? Kau masih sama saja saat di pulau tak berpenghuni itu. Jangan membuat masalah lagi."
"Hah? Kapan dan dimana gue buat banyak masalah? Lu aja kali."
Laki-laki dan perempuan yang membenci satu-sama lain sebelum ujian sudah sering kali kulihat. Aku dan Professor hanya diam menonton.
"Kalian berdua tenang. Kekhawatiran Yukimura tidak benar karena ujian masih belum dimulai. Selain itu, tidak ada poin semacam itu dalam ujian kali ini."
"Hee... Apa gue bilang? Lu sekarang ngerti kan?"
Karuizawa memberitahu Yukimura dengan bangga saat sensei menjelaskan bagaimana situasinya. Yukimura menatapnya kecewa.
"Akan tetapi, Karuizawa. Jika kamu tidak mengubah sikapmu terhadap guru, mungkin ini akan dimasukan pada catatanmu. Ini bukanlah hal yang bagus, harusnya kamu tahu itu kan?"
"Itu ..."
Dan kemudian, Yukimura meyeringai saat menatap Karuizawa. Menghadapi pertengkaran antar siswa yang seperti murid SD, sepertinya Mishima sensei mengalami sakit kepala. Jari-jarinya perlahan memijat keningnya.
"Dengar. Kalian ditempatkan dalam kelompok yang sama untuk memecahkan masalah. Ini bukanlah sesuatu yang bisa kalian ubah hanya karena kalian tidak menyukainya. Jadi, kalau kalian tidak bekerjasama, akan sulit bagi kalian untuk melewati ujian ini."
"Hee... gawat kalau gitu, soalnya ketiga orang ini gak berguna, Hirata-kun masih jauh lebih baik."
"Stress lu? Ada pepatah bijak yang mengatakan tiga lebih baik daripada satu. Selama kami bertiga bekerjasama, kami pasti bisa mengunguli Hirata-dono."
"Idih, gak peduli 100 atau 200 sampah kayak kalian berkumpul, kalian gak akan pernah sebanding dengan Hirata-kun."
Aku tidak peduli dengan tingkah bodohnya, namun sangat menyebalkan mendengar hal semacam itu di depan orangnya sendiri. Karena Karuizawa selalu menempel dengan Hirata jika tidak bersama para gadis, dia mungkin kesulitan mencari pengganti.
"Ha... Ku bilangin sama Hirata-kun nanti."
Sambil menghela napas jijik, Karuizawa melirik kami sekilas.
Kupikir menyebalkan membiarkan dia berbuat sesukanya, tapi jika aku melawannya, aku akan sama saja dengan Yukimura.
"Apa kalian sudah puas? Biarkan bapak melanjutkan penjelasannya."
"Yayaya, aku mengerti soal pembagian kelompok itu, tapi kenapa hanya ada 4 orang yang menerima instruksi saat ini? Kupikir akan lebih efektif jika semua anggota dikumpulkan, jika ini semacam konspirasi atau tipu daya, aku sangat berharap anda tidak akan melakukannya.'
Karuizawa mengatakan itu dengan cepat dan tanpa rasa hormat samasekali.
"Kamu tidak perlu khawatir mengenai sedikitnya jumlah orang yang berkumpul saat ini, bapak akan menjawabnya sekarang. Tidak ada konspirasi atau tipudaya semacam itu, alasannya sederhana, karena anggotanya bukan hanya terdiri dari satu kelas saja, namun dari tiap kelas sebanyak 3 sampai 5 siswa, jika ini tidak dijelaskan sebelumnya, maka akan terjadi kebingungan."
Jadi inilah alasan sebenarnya kenapa hanya ada beberapa orang yang berkumpul di ruangan ini.
Meski begitu, ketiga orang itu masih belum bisa mencerna kalimat Mashima-sensei dan terdiam untuk beberapa saat.
Tentu saja aku juga tidak bisa segera langsung mencernanya.
Jam yang dipasang di dalam ruangan, suara detak jarum keduanya terdengar semakin keras.
"Tunggu sebentar, aku sangat-sangat tidak mengerti, bukankah kelas lain itu musuh?"
"Benar pak, kami telah berkompetisi dengan kelas lain sejauh ini, sangat sulit diterima jika tiba-tiba kami harus bergabung dengan kelas lain."
"Jangan berpikir begitu, Yukimura, kehidupan sekolahmu baru saja dimulai. Jangan selalu memikirkan kompetisi dan lebih berpikirlah tentang masa depanmu."
Mashima sensei menasehati Yukimura setelah mengatakan itu.
"Saya mohon maaf, pak." Balasnya
"Saat ini kalian tidak perlu memikirkan tentang "mengerti", tapi "berpikir". Kelompok tempat kalian ditempatkan adalah『卯』. Ini adalah nama-nama anggota grup kalian. Kembalikan ini jika kalian hendak meninggalkan ruangan, jadi salinlah jika kalian merasa perlu." Mashima-sensei lanjut menjelaskan.
Kertas seukuran kartu pos diserahkan kepada kami berempat. Nama kelompok『卯』 tertulis diatasnya beserta daftar anggota yang berjumlah 14. Seperti yang Mashima-sensei katakan, selain dari kami berempat, ada juga siswa lain dari kelas A sampai C.
Meskipun sensei mengatakan『卯』, tapi disana juga terdapat (kelinci) yang ditulis dalam tanda kurung. Ini akan lebih mudah bagi seseorang untuk membacanya.
Daftar anggotanya sebagai berikut:
○ Kelas A: Takemoto Shigeru, Machida Kouji, Morishige Takuro
○Kelas B: Ichinose Honami, Hamaguchi Tetsuya, Beppu Ryouta
○Kelas C: Ibuki Mio, Manabe Shiho, Yabu Nanami, Yamashita Saki
○Kelas D: Ayanokouji Kiyotaka, Karuizawa Kei, Sotomura Hideo, Yukimura Teruhiko
Disana juga terdapat beberapa nama yang ku kenal, Ichinose dari kelas B dan Ibuki dari kelas C.
Rupanya mereka juga satu kelompok dengan kami.
Aku tidak bisa membayangkan ujian macam apa yang akan terjadi pada babak ini. Seperti yang dikatakan Karuizawa dan Yukimura, bisakah kami bekerjasama dengan mereka?
Aku melirik Karuizawa yang duduk disampingku dan melihatnya gelisah. Mungkin dia merasa tidak beruntung karena satu kelompok dengan Ibuki.
"Jangan khawatir, semua pertanyaan yang mungkin ada di benak kalian, bapak akan menjelaskannya sekarang. Bapak percaya kalian akan mengerti setelah sekali menjelaskannya, mungkin." Mashima-sensei melanjutkan.
Mungkin, huh? Sepertinya dia ragu tentang kemampuan Karuizawa untuk memahami mengingat komplainnya sejauh ini.
Mashima-sensei mulai menjelaskan kombinasi kelompok yang tidak biasa ini.
"Dalam ujian kali ini, kita akan benar-benar mengabaikan perbedaan dari kelas A sampai D. Jika kalian bisa melakukannya, itu akan lebih mudah bagi kalian untuk menyelesaikan ujian ini." Dia menjelaskan.
"Mengabaikan perbedaan.... apa maksudnya?" Karuizawa bertanya lagi.
"Tolong diam sebentar, aku tidak bisa konsentrasi mendengar penjelasan jika kau berisik seperti itu, Karuizawa." Yukimura membentaknya.
"Mulai saat ini, kalian tidak akan bertindak sebagai kelas D, namun kelompok (kelinci). Berhasil tidaknya kalian melewati ujian ini, tidak akan berpengaruh pada kelas kalian, namun kelompok kalian." Mashima-sensei melanjutkan.
Kupikir aku sudah mulai mengerti secara garis besarnya.
"Ada 4 hasil dalam ujian ini, tak kurang tak lebih. Penjelasan mengenai ini juga tersedia untuk versi cetaknya, namun kalian tidak boleh membawanya keluar ruangan maupun memotretnya. Jadi ingatlah baik-baik."
Ujung kertas yang diserahkan kepada kami sedikit kusut, sepertinya siswa yang dipanggil sebelum kami sudah lebih dulu membacanya.
Peraturan dasarnya sebagai berikut:
Penjelasan Kelompok Ujian Khusus Musim Panas
Dalam ujian ini, seorang siswa akan dipilih menjadi "target" dari masing-masing kelompok. Dengan kemampuan berpikir kalian, kalian akan mendapatkan 1 dari 4 hasil.
◯ Pukul 8 pagi pada hari dimulainya ujian, sekolah akan mengirimkan pesan tentang siapa yang terpilih menjadi target diantara kalian.
◯ Ujian akan berakhir pukul 9 malam pada hari ke 4 setelah besok. (Siswa bebas per gi kemanapun selama siang)
◯ Dua kali dalam sehari, kalian harus berkumpul dengan semua anggota kelompok kalian untuk berdiskusi selama satu jam.
◯ Isi dari diskusi akan diserahkan kepada otoritas kelompok.
◯ Pada hari terakhir ujian, kalian harus menebak siapa yang terpilih menjadi "target". Sekolah akan menerima jawaban antara pukul 9.30 sampai 10 malam. Setiap orang hanya diperbolehkan memberikan satu jawaban.
◯ Jawaban harus dikirimkan kepada alamat email tertentu yang disediakan sekolah mengunakan ponsel kalian.
◯ Siswa yang terpilih menjadi "target" tidak diperbolehkan mengirimkan jawaban.
◯ Kalian hanya boleh menebak identitas "target" dari kelompok yang kalian tempati. Jawaban selain itu akan danggap sebagai kesalahan.
◯ Rincian dari hasil ujian akan dikirimkan melalui email pukul 11 malam pada hari yang sama.
Tentu saja itu adalah peraturan dasar yang harus kami ikuti dalam ujian ini. Penjelasan dan peraturannya diterangkan lebih rinci daripada saat ujian bertahan hidup di pulau tak berpenghuni. Sepertinya peraturan dan pelarangannya juga lebih banyak daripada ujian sebelumnya.
Dan berikut adalah ke 4 hasil tersebut:
♦Hasil pertama: Jika semua anggota grup menjawab benar tentang siapa yang terpilih menjadi "target", maka semua anggota akan mendapat poin pribadi. (Termasuk yang terpilih menjadi "target" itu sendiri).
♦ Hasil kedua: Jika ada yang menjawab salah atau bahkan tidak menjawab sama sekali, hanya "target" dari kelompok mu yang akan mendapat 500.000 poin pribadi.
Sebelum aku bisa membaca panduannya lebih lanjut, aku memperhatikan bahwa Karuizawa dan Professor menggelengkan kepala mereka seolah berusaha agar lebih mengerti. Mashima-sensei yang berdiri melihat semua ini, memberikan penjelasan lengkap tanpa mengubah nada bicaranya.
"Ada satu poin penting dalam ujian ini, dan itu adalah "target". Hanya ada satu "target" yang dipilih dalam setiap kelompok, dan nama orang itu adalah jawaban dari ujian ini. Misalkan, Yukimura, kamu terpilih menjadi "target", maka jawaban dari kelompok (kelinci) adalah Yukimura. Setelah mendapatkan jawabannya, cukup bagikan dengan anggota kelompok kalian. Dan antara pukul 9.30 sampai 10 malam, kalian harus mengirimkan jawabannya ke sekolah. Jika semua jawabannya benar, maka kelompok kalian akan mendapat hasil pertama dan setiap anggota akan menerima 500.000 poin pribadi sebagai kompensasi. Selain itu, yang terpilih menjadi target akan mendapat 1 juta poin pribadi, dua kali lebih banyak karena jasanya yang menyebabkan hasil pertama."
(Tln: intinya setiap anggota grup harus menebak 'target' dari kelompok sendiri.)
"Sa-satu juta poin!"
"J-jadi setiap orang akan mendapat 500.000 poin..... dan jika "target" ... maka dua kali lipat.....
Jumlah poin yang besar ini adalah sesuatu yang semua siswa dari kelas manapun menginginkannya. Karena siswa yang dipilih menjadi 'target' akan mendapatkan dua kali lipat poin kompensasi, maka orang itu akan menjadi yang teratas dalam aset, bahkan untuk kelas.
"Sekarang untuk hasil kedua. Jika jawaban identitas "target" untuk kelompok (kelinci) salah. Seperti yang tertulis disana, hanya target yang akan menerima 500.000 poin sedangkan sisanya tidak." Mashima-sensei lanjut menjelaskan.
Tidak banyak perbedaan antara hasil pertama dan kedua. Dengan kata lain, hasil yang manapun "target" adalah yang tetap akan mendapat poin paling banyak. Tidak ada gunanya jika seseorang mensabotase kelompoknya sendiri agar mendapatkan hasil kedua, terkecuali jika kau tidak ingin kelas lain mendapatkan poin.
"Yang menjadi 'target' tentunya akan membuat iri. Bahkan bisa kukatakan ini tidak adil bagi anggota lainnya. Tidak peduli hasil manapun yang akan didapat, dia tetap akan mendapatkan poin, terlebih bisa mendapatkan 1 juta poin!"
Sepertinya Karuizawa ingin dipilih menjadi "target" agar mendapatkan lebih banyak poin.
Tentu saja aku tidak bisa menyalahkannya. Ini normal baginya jika ingin menjadi 'target' yang diberikan perlakuan istimewa.
Tidak, karena ini terlalu menggiurkan, apakah alasan penamaan "target" karena "diberikan perlakuan istimewa"?
(Tln: 優待者 diterjemahkan dari Jp-En artinya 'a good person' (target), sedangan dari Cina-En artinya 'preferential treatment' (perlakuan istimewa) tapi disini kita ikut tl inggrisnya aja yaitu "target")
Meski begitu ini masih terlalu awal untuk senang, masih ada dua hasil lain yang belum dijelaskan.
"Sensei, bagaimana dengan hasil ke-3 dan ke-4? Anda masih belum menjelaskannya kepada kami."
"Apa kalian sudah mengerti tentang hasil pertama dan kedua? Jika sudah, bapak akan menjelaskan hasil sisanya." Kata Mashima-sensei.
"Ya.. kami sudah mengerti. Tolong lanjutkan pak."
"Hasil sisanya dicetak di belakang kertas, tapi jangan balikan dulu kertasnya."
Tanganku membeku sesaat sebelum aku bisa membalikan kertasnya. Mashima-sensei menatap kami dengan tajam dan perlahan-lahan kami mulai paham. Sepertinya setelah kami membalikan kertas ini, ujiannya sudah dimulai.
"Tu-tunggu sebentar, apa maksudnya ini?"
Meskipun Mashima-sensei sudah jelas memberikan isyarat, namun sepertinya Karuizawa masih belum mengerti instruksinya. Kemampuan akademisnya tidak seburuk Sudou ataupun Ike, namun karena Karuizawa telat mikir, sepertinya kemampuannya dalam memproses informasi sangat jelek.
"Bapak akan menjelaskan sedikit lagi agar kalian lebih mengerti. Pernahkah kalian memainkan Jinrou Game sebelumnya?" Mashima-sensei bertanya kepada kami.
(Tln: Jinrou game= permainan manusia serigala)
"Jinrou game? Karena dulu sempat populer jadi aku tentu memainkannya. Ini sangat menyenangkan."
Aku sedikit bingung ketika pertama kali mendengar nama itu.
"J-jangan bilang, Ayanokouji-kun. Kau bahkan belum pernah mendengar Jinrou game sebelumnya? Sulit dipercaya." Kata Karuizawa padaku.
Meskipun kau bilang sulit dipercaya, akan tetapi, konsep 'game' itu sendiri adalah sesuatu yang asing bagiku, adapun "bermain dengan teman-teman". Aku tidak...
Namun, Karuizawa juga tampaknya menyadari ini dan menatapku dengan ekspresi iba.
"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi tidak mempunyai teman sangat mengerikan bukan?" Katanya.
Malahan, Karuizawa menawarkan penjelasan tentang Jinrou game padaku.
"Teman-teman berkumpul dan membaginya ke dalam dua kategori: orang desa dan para serigala. Dan kelompok terakhir yang selamat yang akan memenangkan permainan. Kau paham?" Karuizawa bertanya padaku.
Tidak, aku tidak mengerti semuanya. Kupikir hanya Tuhan ataupun Budha yang bisa mengerti penjelasan yang pendek seperti ini. Mashima-sensei mulai memberi penjelasan secara mendetail. Isinya seperti ini:
Orang Amerika adalah yang pertama kali menciptakan permainan yang disebut Jinrou game ini. Tidak ada batasan jumlah pemain dalam game ini meskipun ada batas minimum yang diperlukan untuk memainkannya. Game itu sendiri membagi pemainnya kedalam dua kelompok: orang-orang desa dan para serigala, dan setiap pemain hanya boleh memainkan salah satu peran. Ada beberapa peran lain yang ditambahkan namun intinya adalah, kelompok terakhir yang selamat yang akan memenangkan permainan. Para serigala bercampur dengan orang-orang desa dan berpura-pura menjadi salah satu dari mereka.
Game itu sendiri mengambil waktu sekitar dua jam dan selama waktu itu, orang-orang desa harus menebak siapa serigala yang menyamar dan mengeksekusinya. Sementara itu, pada saat malam serigala yang menyamar bisa 'melahap' orang desa. Dengan melakukan itu, masing-masing pihak bisa mengurangi jumlah pemain dari kelompok lain. Ketika yang selamat hanya satu orang tersisa, kemenangan dan kekalahan akan diputuskan.
Tapi aku penasaran kenapa ujian kali ini disamakan dengan game seperti itu. Dengan peraturan yang dibangun saat ini, "para serigala" dan "orang-orang desa" dipaksa untuk bekerjasama agar mendapatkan hasil yang pertama. Singkatnya, masih ada trik yang tersembunyi dibalik ujian ini entah itu "serigala" maupun "orang desa" yang belum diketahui.
"Tentu saja, kalian sudah tahu bahwa hanya ada satu target dalam setiap kelompok. Setelah identitas "target" bocor, maka hasil ke-3 dan ke-4 yang mungkin untuk kelompok tersebut."
"Kalau begitu.... apa yang tertulis dibalik kertas ini... apakah tidak masalah jika kami membalikannya sekarang?"
Mashima-sensei hanya mengangguk ketika Karuizawa bertanya dan bersama-sama, kami membalikan kertas itu ke sisi lain. Dua hasil yang tersisa tertulis disana.
Untuk dua hasil yang tersisa tersebut, jawaban akan diterima oleh sekolah pada waktu kapanpun selama periode ujian dalam 24 jam. Kami juga masih akan menerima jawaban untuk hasil yang tersisa itu 30 menit setelah berakhirnya ujian. Namun apabila masih ada kesalahan jawaban selama periode ujian tersebut, hukuman akan dikenakan.
♦Hasil ketiga: Apabila seseorang selain "target" menjawab pertanyaan sebelum menunggu waktu yang ditentukan dan menjawab dengan benar, kelas penjawab akan menerima masing-masing 50 poin dan penjawab sendiri akan menerima 500.000 poin untuk dirinya. Di lain pihak, kelas yang identitas "target" nya diketahui, akan menerima hukuman berupa pengurangan 50 poin dari masing-masing siswa. Apabila ini terjadi, ujian akan selesai bagi kelompok tersebut. Akan tetapi, apabila seorang anggota yang sekelas dengan "target" menjawab dengan benar, hasil sebelumnya akan dianggap tidak sah dan ujian untuk kelompok tersebut akan dilanjutkan.
♦Hasil keempat: Apabila seseorang selain "target" menjawab pertanyaan sebelum menunggu waktu yang ditentukan dan menjawab salah, kelas penjawab akan menerima hukuman pengurangan sebesar 50 poin masing-masing namun"target" masih akan mendapat 500.000 poin. Jika jawaban yang diberikan salah, maka ujian untuk kelompok tersebut berakhir. Namun, apabila anggota yang menjawab salah adalah teman sekelas dari "target", maka jawaban akan dianggap tidak sah dan tidak akan diterima.
Begitu, jadi hasil yang tersisa dijelaskan lebih rinci dalam ujian ini. Jika hanya hasil pertama dan kedua yang mungkin,"target" akan membagikan jawaban mereka kepada semuanya di dalam kelompok dan tidak akan terjadi apapun selain kerjasama. Namun, dengan menambahkan 'penghianatan' dalam kelompok, dinamika ujian akan benar- benar berubah. Jika "target" membocorkan identitasnya kepada semua orang di dalam kelompok, maka tak ayal dia akan langsung dimangsa oleh 'para penghianat'. Karena sekarang lebih banyak hasil yang mungkin terjadi dibandingkan sebelumnya, tak perlu waktu lama. Para penghianat hanya akan berusaha mengamankan poin untuk dirinya sendiri.
Dan adapun untuk"target", dia akan berusaha mensabotase peluang kelas lain untuk mendapatkan poin dan berusaha meningkatkan peluang poin kelas mereka sendiri, dia akan sengaja menyembunyikan identitasnya dan berusaha mengelabui kelas lain sebagai "target". Tentu saja, itu artinya semua orang akan kehilangan jumlah poin dengan tidak adanya 'kerjasama' namun sebagai hasilnya, mereka akan mendapatkan peluang agar kelas lain terkena penalti.
"Biasanya, sekolah akan mengambil pertimbangan tentang kerahasiaan bahkan pada akhir ujian, kami hanya akan mengeluarkan hasil ujian kepada masing-masing kelompok dan masing-masing siswa. Nama dari "target" dan orang yang menyembunyikan identitas mereka tidak akan dipublikasikan. Bisa saja menerbitkan ID sementara jika kalian menginginkannya. Namun, perlu untuk tidak merasa takut tentang identitas seseorang terbongkar setelah ujian. Tentu saja, jika kalian tidak ingin menyumbunyikan nama kalian, kalian bisa muncul dengan bangga karena menerima banyak poin." Kata Mashima sensei.
Aku paham sekarang, ada juga kemungkinan"target" hanya diam menyembunyikan identitasnya tanpa memberitahukan kepada siapapun didalam kelompok dan mengamankan banyak poin, maupun membagikan identitasnya kepada anggota kelompok dengan tujuan mendapatkan hasil terbaik.
Singkatnya, sekalipun Yukimura adalah "target", secara teori aku bisa menipu siswa dari kelas lain dengan mengatakan Professor ataupun Karuizawa adalah "target" dan mengelabui mereka. Itu artinya hasilnya akan bergantung pada 'interaksi' antara anggota. Sedikit penyelidikan dan penyesatan akan diperlukan.
Masuk akal sekarang kenapa ujian kali ini disamakan dengan Jinrou game. Meski begitu, keuntungan 'para serigala' tidak bisa dikatakan mutlak. Bagaimanapun juga, 'orang-orang desa' mempunyai pilihan untuk tak kenal ampun membunuh target mereka. Di sisi lain, bahkan ada kemungkinan membuat 'orang-orang desa' agar saling bertarung.
Aku mendalami peraturannya sekali lagi. Sekolah membuat 12 grup yang didasarkan pada zodiak, menempatkan semua siswa kelas 1 ke dalam setiap grup yang terdiri dari sejumlah besar siswa. Selanjutanya, dari masing-masing grup terdapat siswa dari kelas yang berbeda-beda dan dipaksa untuk 'bekerjasama'. Jumlah anggotanya bervariasi tergantung kelompoknya namun setidaknya ada sekitar 14 siswa yang ditempatkan di setiap kelompok. Dan dalam setiap kelompok, hanya ada satu siswa yang terpilih menjadi "target" dan dikatakan nama mereka adalah jawaban dari ujian ini. Jadi dengan kata lain, sekalipun "target"' tidak aktif berpartisipasi dalam semua permainan, keuntungan mereka sudah dijamin.
Selanjutnya, jika anggota sisanya tidak bisa menebak identitas "target" dengan benar, mereka tidak akan bisa melewati ujian. Dengan kata lain, itu adalah pokok dasar dari ujian yang saat ini berlangsung.
Empat pilihan yang bisa kelompok ambil saat ini adalah:
◾Target membagikan identitasnya dan menyelesaikan ujian bersama-sama.
◾Memberikan jawaban salah dan kelompok akan kehilangan poin kecuali untuk "target"'.
◾'Penghianat' membeberkan identitas "target".
◾'Penghianat' tidak memperdulikan "target"'.
Satu-satunya perbedaan dalam pilihan tersebut adalah jumlah poin yang dimenangkan oleh setiap anggota kelompok. Hasil terbaik adalah "target" membagikan identitasnya kepada semua anggota dan menunggu hingga ujian berakhir dan menjawab dengan benar agar masing-masing anggota mendapat 500.000 poin sementara "target" itu sendiri mendapat 1 juta poin. Akan tetapi mendapatkan hasil seperti itu nampaknya sangat sulit. Ada kemungkinan terjadi penghianatan di dalam kelompok. Karena setiap anggota akan secara alami menginginkan poin dalam ujian ini, mereka akan berusaha menghianati sebelum mereka yang dihianati.
Kemudian, jika seseorang menjawab salah, "target"' yang hanya akan diuntungkan dalam hal ini karena anggota lain juga akan memprioritaskan untuk mencari "target" di dalam kelompok. Sebagian besar siswa lebih suka menghindari resiko dengan bekerjasama dan jika mereka tidak yakin untuk bekerjasama, akan lebih banyak 'penghianat' di dalam kelompok tersebut.
Selain itu, akan sangat sulit mendapatkan hasil pertama apabila "target"itu sendiri hanya diam dan menghindari agar identitasnya ketahuan. Lagipula, "target" akan menerima 500.000 poin yang hampir sebanding dengan tiket ke surga.
Namun, ada juga kerugian diberikan posisi ini. Setelah kau terpilih menjadi "target", ini tergantung padamu apakah mau tetap diam tutup mulut ataukah membagikan informasi ini kepada yang lainnya. Tergantung keadaan, bisa saja terjadi pelecehan maupun gangguan dari kelas lain yang iri karena kau terpilih menjadi "target"'.
Ada juga bahaya dari 'penghianat' yang membeberkan identitas "target" karena tidak mau menunggu sampai berakhirnya ujian. Dengan cara tersebut, ujian untuk kelompok tersebut akan selesai dan 'penghianat' beserta kelasnya akan mendapatkan 50 poin pribadi. Itu berarti selagi menyabotase kelas lain, orang itu bisa berkontribusi untuk kelas dan dirinya sendiri. Sebuah hasil yang ideal untuk sebagian besar siswa.
Tentu saja, itu adalah kerugian paling besar untuk kelompok tersebut. Dalam ujian ini, kemampuan untuk 'berpikir' tentunya adalah faktor terpenting selain memahami resiko bekerjasama. Ada 12 kelompok dengan 12 hasil yang berbeda. Tergantung apa yang terjadi dalam ujian ini, banyak perbedaan yang sulit dihubungkan bisa dengan mudah terjadi. Dengan kata lain, tidak mustahil bagi kelas A untuk jatuh menjadi kelas D, sebaliknya, kelas D bisa saja naik menjadi kelas A apabila lancar dalam ujian. Aku ragu hal ini akan terjadi sekarang, namun bukan berarti mustahil. Ini juga mungkin alasan kenapa peraturan dalam ujian kali ini lebih rinci daripada ujian bertahan hidup.
"Hal-hal dan tindakan yang dilarang juga tercantum disana jadi bacalah baik-baik." Mashima-sensei menyarankan.
Berbagai tindakan yang dilarang singkatnya adalah, mencuri ponsel dari siswa lain dan melakukan intimidasi untuk memaksa membeberkan informasi seperti identitas "target". Mengirim jawaban kepada sekolah menggunakan ponsel siswa lain tanpa izin akan diberikan hukuman berat berupa 'pengusiran'. Semuanya adalah kondisi keras yang tidak muncul dalam ujian bertahan hidup di pulau tak berpenghuni.
Selanjutnya, apabila ada aktifitas mencurigakan yang ditemukan, sekolah akan melakukan investigasi secara menyeluruh agar menjamin tidak terjadi pelanggaran peraturan. Biasanya, apabila kau berbohong tentang larangan yang kau lakukan, 'pengusiran' biasanya akan dilakukan. Sepertinya segala sesuatu akan dimonitor oleh sekolah dibalik tirai. Setelah ujian dimulai, komunikasi antar siswa dari kelompok yang berbeda juga akan dilarang selama periode waktu tertentu. Melanggar peraturan ini akan beresiko 'pengusiran'. Kerasnya peraturan ini membuatnya melekat di kedalaman pikiranku saat aku mengingatnya.
"Kalian akan berkumpul pada pukul 1 sore dan 8 malam besok untuk kelompok diskusi kalian. Ruangan tempat kalian berkumpul tertulis pada plat di depannya. Setelah memasuki ruangan, kalian tidak diperbolehkan meninggalkan ruangan hingga waktu yang ditentukan berakhir. Jika ada kejadian darurat selama jangka waktu tersebut, segera hubungi wali kelas kalian. Pastikan juga kalian telah ke toilet sebelumnya." Kata Mashima-sensei.
"Apa maksud anda kami harus tinggal diruangan itu? Berapa lama tepatnya?"
"Seperti yang tertulis disana, waktu yang diatur untiuk diskusi adalah satu jam dua kali dalam sehari. Selain dari memperkenalkan diri kalian kepada anggota kelompok lainnya, kalian bebas menggunakan waktu tersebut sesuka kalian. Setelah satu jam berakhir, kalian bebas memilih meninggalkan ruangan maupun tetap tinggal disana." Mashima-sensei melanjutkan.
Apakah itu berarti semua isi dari diskusi akan diserahkan kepada siswa?
"Ini hal yang menyebalkan namun aku mengerti setidaknya... waah aku lebih suka ujian yang menyenangakan seperti ini." Kata Karuizawa.
"Setelah "target" diputuskan, sekolah tidak menerima permintaan apapun untuk mengubahnya. Selain itu, tindakan apapun seperti menyalin, menghapus, menyebarkan ataupin merubah isi email yang dikirim oleh sekolah sangat dilarang jadi ingatlah ini baik-baik." Mashima-sensei memberikan kesimpulan.
Dengan kata lain, mengubah email untuk mengambil keuntungan di dalam grup sangat dilarang. Jika kau memikirkannya, itu berarti bahwa email yang dikirim ke siswa sudah pasti 100% berasal dari sekolah.
"Woi Ayanokouji, dari tadi kok kamu diam aja, apa kau yakin sudah mengerti semuanya?" Yukimura bertanya padaku dengan nada meragukan dari sebelah kiriku.
"Yah... Sebagian besar. Jika ada yang ingin kutanyakan, aku akan memintanya padamu nanti." Balasku.
"Oh sial, kenapa kelompok ku dipenuhi orang-orang bodoh?" Yukimura bergumam.
Setelah kami dipersilahkan meninggalkan ruangan, kami segera bangkit pada saat yang sama.
"Mau tidak mau, kenyataannya kita sudah bersatu menjadi satu kelompok. Orang yang terpilih menjadi "target" akan diumumkan besok, jadi kenapa kita berempat tidak tinggal dan ngobrol dulu?" Yukimura menyarankan.
Meski begitu, nampaknya Karuizawa benar-benar menghiraukan kata-katanya lalu mengambil ponsel dan berjalan menjauh dari kami.
"Oi, Karuizawa. Kau dengar?" Yukimura bertanya padanya.
Aku terkesan dia bisa mengabaikannya seperti itu, entah dia keras kepala ataupun bener-benar mengabaikan keberadaan kami.
"Ah...Hirata-kun? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu." Sepertinya Karuizawa ingin mengeluh pada Hirata tentang kami. Dengan santai dia menjauh dari kami dan segera menghilang.
"Sial, kelompok ku benar-benar dipenuhi orang bodoh." Yukimura bergumam lagi.
Aku menghela napas saat aku berbalik untuk kembali ke kamarku. Nampaknya pelayaran menyenangkan kami telah berakhir dan babak kedua ujian telah dimulai.
"Ini memang sangat bermasalah, satu tim dengan pelacur sepertinya."
Professor mulai memuntahkan racun segera setelah Karuizawa tidak bisa dilihat lagi. Karena Professor mencintai dunia 2D dan menganggap gadis di dunia tersebut sempurna, gadis 3D nyata seperti Karuizawa tentu dia akan menolaknya.
"Aku setuju denganmu karena sejujurnya, aku merasa seolah dia sedang menarik-narik celana kita dengan segala cara." Kata Yukimura yang lanjut dibalas oleh Professor "Dia benar-benar pelacur diantara pelacur" Seolah setuju dengannya.
"Apabila salah satu dari kita terpilih menjadi "target" besok pagi. Jangan katakan pada siapapun. Tak ada jaminan seseorang tidak akan mendengarnya. Tembok mempunyai telinga. Beritahu yang lain di tempat yang aman."
Aku juga setuju dengan rencananya tersebut. Ini memang kapal besar namun banyak telinga dimana-mana.
"Meskipun Karuizawa telah pergi, aku masih ingin berdiskusi untuk rencana besok dengan hanya kita bertiga, tolong jangan bubar dulu." Yukimura berdalih.
"Aku rasa aku harus menolak permintaanmu. Kau lihat, saat ini aku harus kembali ke kamarku untuk menonton anime baru Love Love Alive." Kata Professor yang langsung menghilang seperti ninja.
Yukimura kesal menggelengkan kepalanya dan menghela napas menyerah menghadapi kami.
Dan sekarang, ini telah berakhir. Aku sebaiknya segera mengabari Horikita. Aku ingin tahu apakah kelompoknya menerima instruksi yang sama seperti kelompok kelinci kami dan menanyakan rinciannya jika diperlukan. Setelah aku menerima informasi dari Horikita, kemudian aku bisa mulai membuat rencana.
Setelah aku kembali ke kamarku, aku kemudian berusaha untuk tidur. Aku mendengar sebuah suara dan bangun, namun saat bangun aku tidak bisa menemukan Yukimura dan Koenji dimanapun.
"Maaf, apa aku membangunkanmu?"
Hirata mengatakan itu saat dia merapikan barang-barangnya, menatapku sambil meminta maaf. Sepertinya dia sedang bersiap-siap meninggalkan ruangan dilihat dia telah mengenakan seragamnya saat ini.
"Tak perlu meminta maaf, lagian aku tidak benar-benar tidur. Hanya saja. Kupikir aku haus jadi aku ingin pergi keluar untuk membeli minuman ringan." Kataku.
Tentu saja, aku tidak memberitahunya, alasanku sebenarnya ingin pergi keluar adalah untuk memeriksa Horikita.
"Boleh aku menemanimu? Kita telah menerima email dari sekolah dan ini sudah hampir waktunya." Balasnya.
Waktu sudah mendekati pukul 20.30, waktu yang sama dengan yang diinstruksikan sekolah untuk Horikita melalui email agar berkumpul.
"Sepertinya ujian aneh lainnya akan segera dimulai, setidaknya itu yang aku rasakan." Katanya.
Sepertinya dia sudah tahu jenis ujian macam apa setelah mendengarnya dari siswa yang menerima instruksi sebelumya.
"Yukimura-kun, dia memberitahuku di kafetaria sebelumnya. Tentang kelompok (kelinci) kalian dan bagaimana kalian menerima penjelasannya." Hirata mengaku.
Yukimura tidak terlalu menyukai Hirata, namun dia masih memberitahunya apakah karena dia ingin meningkatkan keberhasilan kelas kami meskipun hanya sedikit? Selain itu, jika kau sudah tahu isi ujian sebelum dijelaskan, itu akan lebih mudah untuk memahami penjelasan itu sendiri. Dalam hal ini, bekerjasama dengan orang yang lebih populer seperti Hirata akan menjadi keuntungan buatmu.
"Jika kamu menemukan sesuatu, Ayanokouji-kun, tolong berbagi denganku." Katanya.
"Aku meragukannya, tidak seperti Horikita, kau atau pun Yukimura, aku tidak terlalu pintar, jadi jangan terlalu berharap." Jawabku. Tentu saja, tidak mungkin aku memberitahu dia semuanya lebih dari yang dibutuhkan.
"Aku penasaran kenapa sekolah repot-repot memisahkan kita menjadi beberapa kelompok untuk memberikan instruksi yang sama secara terpisah."
Seperti yang Hirata katakan, akan lebih efisien dan membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk menjelaskan ke semua anggota grup apabila sekaligus daripada dipisah. Sekolah jelas menggunakan metode yang tidak efisien, meski begitu bukan berart tanpa ada alasan dibaliknya. Kemungkinan itu adalah bagian dari 'kemampuan berpikir' itu sendiri dalam ujian ini.
"Aku berencana menanyakan tentang ini pada sensei nanti." Kata Hirata.
Aku penasaran apakah roda gigi akan berputar lebih baik dengan ini. Aku penasaran, apakah Hirata, yang secara terpilih menjadi perwakilan kelas D, akan mampu bekerja dengan efisien bersama para siswa dari kelas lain mengingat semua peraturan yang harus kami terima dalam ujian ini.
Bagian 5
Tempat pertemuan Hirata tidak seramai seperti aku sebelumnya. Masih hanya terdapat beberapa siswa, beberapa duduk pada tangga di dekat elevator, beberapa bersandar pada dinding, beberapa sedang bermain-main dengan ponsel mereka dan beberapa masih mengira-ngira tentang penjelasan yang harus mereka terima.
"Aku ragu mereka semua akan menjadi bagian dari kelompokku." Hirata bergumam.
Meskipun sepintas ada lebih dari 10 orang yang berkumpul disini. Terkadang mereka semua saling menatap satu sama lain selagi bermain-main dengan ponsel mereka. Sayangnya, aku tidak mengenali para siswa dari kelas lain dan tidak bisa mengidentifikasi sebagian besar dari mereka.
"Siapa orang yang baru saja kita lewati?"
"Dia adalah Morimiya-kun dari kelas A. Dan orang yang di dekat elevator adalah Tokito-kun dari kelas C."
Begitu. Aku pastikan untuk mengingat nama-nama dan wajah para siswa dari kelas lain. Tentu saja, jumlah ini masih sedikit dibandingkan kerumunan yang kulihat sebelumnya malam ini.
Saat kami sampai di tempat pertemuan Hirata, beberapa siswa dan siswi sudah berkumpul di depan pintu ruang pertemuan. Dan dengan perlahan kami mendekati kerumuman itu.
"Jika aku tidak salah, kau juga dari kelompok yang berkumpul pukul 20.40 bukan?"
Orang yang bertanya itu adalah Katsuragi dari kelas A. Orang yang kalem dan bersikap dewasa itu sulit dipercaya kalau dia benar-benar masih siswa kelas 1 SMA. Fisiknya juga sangat bagus. Kesan pertama ku darinya dia melebihi siswa sebaya rata-rata. Masih ada beberapa siswa yang menganggapnya sebagai pemimpin dari kelas A.
"Kalau benar, memangnya kenapa?"
Seorang gadis dengan rambut hitam panjang menjawab pertanyaannya tanpa keraguan atau ketakutan apapun.
"Tidak. Aku hanya ingin bicara denganmu karena mulai besok, kita akan bekerjasama sebagai bagian dari kelompok yang sama."
Gadis berambut hitam panjang itu tidak lain adalah Horikita Suzune. Kelihatannya Horikita dan Hirata akan satu kelompok dengan Katsuragi juga.
"Kau ingin bicara sekarang? Menggelikan. Sebelumnya kau mengusir kami saat kami datang untuk bicara."
Horikita mencercanya kembali. Saat ujian di pulau tak berpenghuni, Horikita dan Katsuragi pernah bertemu sekali. Pada saat itu, Katsuragi tidak menunjukan sedikitpun ketertarikan pada Horikita. Namun kelihatanya sudah bebeda sekarang.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan... Namun jika suatu hari kau naik dari kelas D ke kelas C, ingatlah bahwa kelas A tidak akan berbelas kasih sebelum menghancurkanmu sampai berkeping-keping." Katsuragi memperingatkan.
"Picik sekali, bagaimanapun juga, antara kelas A dan kelas lainnya, jarak poinnya terlalu lebar untuk diukur." Kata Horikita.
"Normalnya begitu, namun kewaspadaan selalu dibutuhkan apabila ada kelas yang mempunyai potensi untuk naik pada posisi yang lebih tinggi. Aku juga mengatakan hal yang sama pada kelas B dan C."
Ini hampir terdengar seperti Katsuragi sedang mendeklarasikan perang terhadap kelas D. Namun itu tidak bisa dicegah, setelah ujian terakhir, kami akan jelas dianggap sebagai ancaman. Seolah terhubung, semua siswa di sekitar Katsuragi segera berkumpul dan menatap Horikita dengan intimidasi.
Gadis biasa akan langsung menangis setelah ditatap seperti itu, namun Horikita tidak menunjukan reaksi apapun pada intimidasi ini. Tiba-tiba, wajah para gadis di sekitar kami berubah menjadi ekspresi memuja saat seorang pemuda dengan perlahan melewati kami.
Dia adalah Kanzaki, seorang siswa dari kelas B. Meskipun rambutnya agak panjang untuk anak laki-laki, dia mempunyai kepribadian yang lurus (Tln: bukan homo) dan tidak melakukan aktivitas yang tak karuan. Aku tidak terlalu banyak tahu tentang Kanzaki secara rinci namun pemimpin kelas B, Ichinose, nampaknya mempercayainya.
Setelah bertemu selama ujian di pulau itu, Kanzaki sepertinya menyadari situasi Horikita dan bergerak menuju mereka berdua seolah melindungi Horikita dari Katsuragi.
"Kamu tidak perlu berbicara dengan Katsuragi, lagipula, dia memang seperti itu." Kata Kanzaki pada Horikita.
"Jangan cemas, sudah biasa orang-orang meremehkan kami kelas D." Kata Horikita menolak tawaran Kanzaki untuk menolong.
"Begitu, seseorang dari kelas D pastinya sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti ini. Harus kuakui pandanganku terhadap kelasmu juga sama. Namun kejadian di pulau itu membuatku merevisi kembali pandanganku terhadap kelasmu."
Katsuragi mengatakan itu selagi dia menghapus beberapa debu pada pakaiannya.
"Namun hanya karena kau beruntung dan menang sekali, ku harap kau tidak sombong dan berpikir bahwa kita setara sekarang." Lanjutnya.
"... Apa maksudmu?" Tanya Horikita.
"Yang coba kukatakan adalah, akan ada saat bagi seseorang dalam hidupnya ketika dia mendapat keberuntungan sekali dan sedikit mempersempit celah. Tapi jangan besar kepala hanya karena kau beruntung. Perbedaan poin antara kelas kita masih sangat jauh."
Jadi begitu, dia mencoba mengatakan bahwa hasil dari salah satu ujian tidak akan banyak berpengaruh pada kelas kami. Tentu saja Horikita juga pastinya tahu akan hal ini. Yang lebih penting, karena tidak ada apapun yang telah ia capai, daripada senang, dia malah cemas mendengar kata-katanya. Namun ini adalah harga yang harus dibayar agar dia terus bisa menyembunyikan keberadaanku.
"Kehidupan SMA kita baru saja dimulai, perbedaannya mungkin besar, namun jangan lupa bahwa sekolah yang berwenang memutuskan siapa yang akan memasuki kelas mana." Kanzaki menyelanya dengan cara yang bermartabat.
"Hirata, kelihatannya kau adalah bagian dari kelompok yang cukup bermasalah." Kataku padanya.
"Ini tak dapat dielakan apabila kita dikelompokan dengan Katsuragi-kun dan Kanzaki-kun, kupikir."
"Tidak... bukan itu." Kataku bergumam.
"Hmmm?"
"Hahaha, sepertinya cukup banyak orang lemah yang berkumpul disini, biarkan aku ikut bersenang-senang." Itu adalah Ryuuen yang mengatakannya.
"Ryuuen, huh?". Katsuragi kehilangan ekpresi tenangnya sebelumnya dan bahkan ekspresi Kanzaki berubah waspada.
"Apa kau juga ditempatkan di ruangan ini? Atau apakah kau hanya kebetulan lewat?"
"Sayangnya aku sama denganmu." Ryuuen langsung menjawab pertanyaan itu sementara tiga siswa lainnya dengan patuh berjalan di belakangnya.
Dia hampir mirip dengan Katsuragi dalam hal ini namun dalam konteks yang berbeda. Ini hampir seperti situasi seorang raja dan para pelayannya.
Para siswa dibelakang Ryuuen mempunyai ekspresi mengerikan di wajah mereka dan bergerak perlahan dengan patuh.
"Bagaimana kalian menyebut ini? Beauty and the beast apakah judul yang cocok?" Kata Ryuuen sambil menatap Horikita dan Katsuragi secara bergantian.
Sekarang setelah menyadari provokasi yang jelas itu, Katsuragi kembali normal, dia tenang kembali.
"Aku awalnya berpikir kelompok kita akan memiliki beberapa siswa dengan nilai akademis tinggi tapi setelah melihatmu dan kacung-kacungmu, aku pikir kalau ini mustahil." Katsuragi mengejeknya kembali.
"Kemampuan akademis? Apaan itu, kemampuan akademis tidak berarti apapun." Kata Ryuuen menjawab ketus.
"Mendengarnya darimu sangat memalukan, kemampuan akademis adalah faktor paling penting yang menentukan suksesnya masa depan dalam hidup. Bahkan dikatakan bahwa Jepang dibangun diatas lingkungan akedemis." Katsuragi mencaci Ryuuen untuk kata-katanya sebelumnya namun tampaknya tidak berpengaruh pada Ryuuen sama sekali.
Kupikir mengatakan sesuatu seperti itu pada idiot seperti Ryuuen tidak akan berguna. Dibelakangnya, tiga kacung dengan serempak menganggukan kepala mereka pada kata-kata pemimpin mereka.
"Aku tidak akan melupakan penghinaan ini."
"Huh? Penghinaan? Aku tidak ingat pernah melakukan itu, bisakah kau mengingatkanku kembali?" Ejek Ryuuen pada Katsuragi.
"Itu bukan masalah, karena kita satu kelompok tentunya kita mempunyai banyak kesempatan untuk bicara nanti." Katsuragi mengakhiri percakapan dilihat dari bagaimana instruksi untuk kelompok mereka hampir dimulai.
"Hmm? Hirata-kun? Dan bahkan Ayanokouji-kun? Apa yang kalian berdua lakukan disini?" Kushida memanggil kami saat ia mendekati kelompok itu dengan ekspresi heran.
"Apa mungkin Kushida-san juga dalam kelompok pukul 20.40?" Hirata bertanya padanya.
"Yah, aku nggak mengerti apa yang terjadi tapi aku datang kemari sesuai yang dikatakan email .. dan wow.. sepertinya sebuah kelompok orang-orang yang menakjubkan telah berkumpul disini." Kata Kushida saat ia berjalan-jalan menyapa siswa-siswa yang berkumpul disini.
"Kau baik-baik saja Hirata? Sepertinya yang satu ini cukup sulit." Tanyaku padanya.
"Aku baik-baik saja, jangan pikirkan, tidak peduli siapa di dalam kelompokku, aku hanya harus melakukan yang terbaik." Seperti biasa Hirata menjawab dengan cara yang positif.
Kushida mungkin tidak tahu keadaanya namun dia adalah orang yang pintar. Karena aku sudah menerima penjelasan dari ujian ini sebelumnya, melihat kumpulan orang yang berkumpul disini kurang lebih aku bisa paham apa yang akan terjadi.
"Ummm... Apakah saat mulai itu sulit?" kushida bertanya.
"Yah seperti itu, kau lebih baik mempersiapkan dirimu untuk ini." Jawabku.
"Ahaha...seperti yang Hirata-kun katakan, aku juga harus melakukan yang terbaik. Selain itu, aku tidak pernah punya kesempatan untuk bicara dengan Katsuragi-kun ataupun Ryuuen-kun, aku juga ingin berteman dengan mereka berdua." Katanya.
"Aku tidak ingin disini untuk percakapan bodoh, aku pergi. Ini hampir waktunya." Horikita hanya menggelengkan kepalanya dan berbalik pergi tak lupa menatap dengan dingin pada Ryuuen dan kelompoknya.
Aku memujinya untuk ini. Orang lemah akan cenderung menurunkan kepala mereka dan menjilat kedalam kelompok agar tidak diperlakukan sebagai yang terendah dalam hirarki. Horikita disisi lain, tanpa kehilangan iramanya, dengan dingin menolak mereka semua dan tetap bersikap seperti biasanya.
"Sepertinya bahkan aku tidak perlu mengkhawatirkannya." Gumamku.
Tentu saja, aku tidak yakin berapa lama dia akan tetap mempertahankan sikapnya itu kepada para anggota kelompoknya namun pastinya tidak akan lama. Ini adalah intuisiku.
"Kalau begitu semoga beruntung." Kataku ke arah Hirata dan memutuskan untuk pergi.



No comments:
Post a Comment