Bab 2 - Beragam Pemikiran Yang Berbeda-beda
Pengenalan
Waktu sarapan. Aku sengaja menghindari prasmanan dengan siswa lainnya dan kembali ke atas geladak kapal. Disana terdapat sebuah kafe yang bernama "Blue Ocean" yang jarang terdapat siswa. Aku memilih duduk di meja kosong yang teduh dan memanggil pelayan. Waktu saat ini adalah pukul 7.55 pagi. Hanya satu menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan, orang yang sedang kutunggu sudah muncul di depanku.
"Kau datang lebih awal."
Dia adalah teman sekelasku Horikita Suzune. Di kelas, dia duduk bersebelahan denganku dan merupakan satu dari beberapa orang yang bisa kupanggil teman. Dia juga kebetulan menjadi keberadaan yang sangat bermasalah yang mengetahui sedikit tentang kemampuan asliku. Dia duduk pada kursi di depanku.
"Aku sudah menunggu selama satu jam." Keluhku padanya.
Tentu saja aku hanya mencoba untuk sedikit menggodanya.
"Aku tidak peduli karena aku datang pada waktu yang disepakati, sekalipun kau terus menungu selama sepuluh jam aku tidak akan peduli."
Ok. Kukira aku tidak akan bisa menggodanya seperti ini, ini hanya akan berakhir membuatku sakit.
"Kau tidak memesan apapun?" Tanyaku.
"Tidak, tidak perlu. Mari kita lanjutkan obrolan kita tempo hari."
Horikita, yang tidak menyukai basa-basi, ingin langsung ke pokok pembicaraan dan melaporkan situasinya padaku. Satu-satunya hal yang ia katakan padaku sebelumnya adalah lokasi pertemuan ini.
"Jadi, apakah para siswa yang dipanggil oleh sekolah membentuk sebuah kelompok?" Tanyaku.
"Ya, seperti yang kau katakan. Ada 12 kelompok dengan 4 hasil yang mungkin terjadi dan "target", akan diumumkan pada kita melalui email pukul 8.00 pagi ini. Jika ada perbedaan kecil, kukira itu tergantung dari cara guru menjelaskannya." Balasnya.
"Siapa saja anggota kelompokmu dan berapa banyak?" Tanyaku.
Aku mengenali beberapa siswa kemarin namun aku tidak perlu repot-repot memberitahukan itu padanya.
"Sebenarnya ini cukup mencengangkan. Hampir seolah ini telah ditentukan sebelumnya dan bukan kebetulan semata." Katanya.
Setelah mengatakan itu, dia memberiku selembar kertas. Sepertinya dia mencatat nama-nama anggota kelompoknya dan menuliskannya diatas kertas untuk diberikan kepadaku. Nama kelompok (Naga) tertulis disana beserta nama-nama anggota yang tertulis dibawahnya.
Kelas A: Katsuragi Kohei, Nishikawa Ryouko, Shita Shinji, Koharu Yano
Kelas B: Ando Sayo, Kanzaki Ryuuji, Tsukabe Hitomi
Kelas C: Oda Takumi, Suzuki Hidetoshi, Sonoda Masashi, Ryuuen Kakeru
Kelas D: Kushida Kikyou, Hirata Yousuke, Horikita Suzune
Pertama-tama, kelihatannya Hirata dan Kushida adalah salah satu yang dipilih dari kelas D untuk kelompok ini. Dua kehormatam bagi siswa yang mewakili kelas kami. Mengesampingkan Horikita sendiri, menempatkan kedua orang itu dalam kelompok yang sama akan lebih seperti bentuk kombinasi terbaik yang kelas D saat ini bisa tawarkan.
Aku telah mengira orang lain dalam kelompok mereka akan seperti kelompok miliku namun sepertinya itu tidak terjadi. Koenji mempunyai kekuatan yang melimpah namun sekalipun dia ditambahkan kedalam kelompok, aku ragu dia akan berguna. Sejujurnya, aku ragu dia akan peduli tentang kelompok mana ia ditempatkan atau bahkan peduli tentang ujian itu sendiri.
"Begitu.. kalau diingat-ingat kukira ini adalah kombinasi yang tak dapat dihindari." Gumamku.
Sekalipun daftar nama-nama yang saat ini kukenal adalah Katsuragi dari kelas A, Kanzaki dari kelas B dan Ryuuen dari kelas C, terdapat juga nama-nama besar yang mewakili kelas mereka. Ini hampir seperti kombinasi tim sepakbola yang diimpikan.
"Meski begitu, ada juga sesuatu yang aneh disini."
Jika niatnya adalah mengumpulkan nama-nama besar dalam kelompok, aku merasa itu aneh bahwa Ichinose berada dalam kelompok (Kelinci) kami bukannya kelompok (Naga).
"Kau cemas tentang Ichinose yang masuk dalam kelompokmu, bukan? Saat ini, hanya karena kelasnya mengetahui bagaimana cerdasnya dia. Bukan berarti wajah dari kelas akan menjadi pemimpin kelas itu." Katanya.
"Apa kau sedang merujuk pada dirimu sendiri?" Tanyaku.
Namun kupikir Horikita ada benarnya. Kita masih belum tahu apakah Ichinose benar-benar mampu atau tidak. Bisa juga kalau kemampuan akademisnya rendah.
"Dari sini aku bisa sedikit mengerti bagaimana mereka membagi kita ke dalam 12 kelompok. Kau dan Karuizawa-san sangat mirip, bukan? Dalam nilai. Kemungkinan mereka mengelompokan kita berdasarkan poin kita saat ini. Meski begitu, satu-satunya cela dalam teori ini adalah Yukimura dan juga Koenji yang sama-sama berada pada puncak dalam nilai."
Sepertinya Horikita sedang membuat hipotesis untuk pengelompokan kami berdasarkan nilai hasil ujian tengah semester dan akhir semester.
"Kau ada benarnya, aku dan Professor mempunyai nilai yang sama... lalu kau dan Hirata juga."
Dengan kata lain, jika kami dikelompokan murni berdasarkan nilai, maka Koenji harusnya berada pada posisi paling puncak.
Sewajarnya, aku tidak punya keraguan bahwa nilai diambil sebagai pertimbangan, meskipun tentunya ada beberapa faktor tidak diketahui yang bermain sebagai bagian dari kelompok juga. Jika memungkinkan, aku berharap bisa melihat daftar nama-nama anggota dari kelompok lainnya untuk memastikan.
"Bagaimanapun ini adalah masalah, untuk secara efektif membimbing kelompok ini dan menyelesaikan ujian."
Tentu saja ini tak dapat dihindari apabila orang-orang dengan kemampuan menakjubkan disatukan bersama-sama dalam satu kelompok. Dan selanjutnya adalah fakta bahwa hubungan antara Horikita dan Ryuuen seperti air dan api. Meski begitu, sebaliknya, aku percaya Horikita akan bisa bekerja secara efisien dengan tipe yang lurus seperti Katsuragi. Cara mereka berpikir, yang biasa orang-orang cerdas ambil, berarti kecocokan mereka juga tinggi.
"Ini tentang waktu, aku penasaran apakah emai itu benar-benar datang."
Setelah menunjukan pukul 8.00 pagi, ponsel kami berdua bergetar bersamaan bahkan tanpa jeda sedikitpun. Kami berdua segera memastikan email yang masuk.
Setelah aku selesai membaca pesannya, Horikita memperlihatkan ponselnya padaku dan akupun sama, kami mengecek rincian dari pesan selagi membandingkannya satu sama lain. Pesannya sebagai berikut:
"Setelah melewati berbagai pertimbangan, kamu tidak terpilih menjadi "target". Mohon begerak bersama dalam satu kesatuan dan menyelesaikan ujian dengan cara tersebut. Ujian sendiri akan dimulai pukul 1.00 siang ini. Ujian akan berlangsung selama 3 hari mulai dari sekarang. Jika kamu termasuk kelompok (Naga) mohon datang ke ruangan yang ditandai di lantai dua segera.
Pesan yang dikirim padaku dan Horikita 'hampir sama'. Selain dari perbedaan nama kelompok, kata-kata lain dalam emai itu sangat mirip.
"Kukira jika kita terpilih sebagai "target", pesannya akan sedikit berbeda dari ini."
"Sepertinya kita berdua tidak terpilih menjadi "target" dari kelompok kita. Aku tidak tahu apakah harus senang dengan ini ataupun kecewa."
"Jika kau menjadi "target" tergantung pilihan pribadimu, kau akan bisa membimbing kelompokmu pada salah satu dari 4 hasil yang mungkin terjadi." Kataku.
Dengan kata lain, menjadi "target" dalam ujian ini bisa dikatakan diberi keuntungan yang melimpah. Jika kau bisa tetap mempertahankan poker face mu, kau akan bisa dengan mudah mendapatkan setidaknya 500.000 poin pribadi.
"Aku masih tidak menyukai ini. Ini hampir seolah mereka memberitahuku bahwa aku tidak layak untuk menjadi "target". Kata Horikita.
Bahkan setelah ditempatkan dalam kelompok impian seperti miliknya, Horikita masih berpikir kalau dia yang terbaik.
"Dalam ujian ini, ada perbedaan besar antara siswa yang dipilih menjadi "target"dengan yang tidak. Karena semua siswa lain harus berjuang untuk menemukan identitas "target", akan selalu ada kemungkinan bahwa celah poin antara kelas menjadi dekat setelah ujian." Kata Horikita.
Itu benar. Tentu saja sekalipun kelas D gagal, poin kami tidak akan jatuh kedalam negatif. Meski begitu, kelalaian akan membuat hasil kami dari ujian di pulau itu menyusut atau bahkan menghilang seluruhnya tergantung tindakan kami saat ini.
Aku juga diam-diam mulai membuat rencana menjelang ujian ini. Mempertimbangkan para anggota dari kelompokku dan mekanisme bagaimana ujian beroperasi, tujuan yang harus kucapai menjadi jelas.
"Aku tidak mengenali nama-nama siswa dan bahkan tidak tahu harus berbuat apa, aku perlu berinteraksi secara langsung dengan mereka untuk itu. Namun aku telah memikirkan cara untuk menyingkirkan mereka jika diperlukan." Kataku pada Horikita.
Itu memerlukan persiapan awal dan waktu agar sempurna. Meski begitu, itu masih mungkin dilakukan.
"Aku menantikan untuk hasilmu." Kata Horikita mengakhiri.
"Aku juga. Aku menantikan untuk melihat kearah mana kau akan membawa kelompokmu." Balasku.
Meski begitu, aku masih tidak bisa menyingkirkan perasaan tidak enak yang kumiliki. Pemilihan "target" tidak dilakukan secara acak, kata-kata Mashima-sensei kemarin hanya memperkuat dugaanku untuk itu. Terdapat perbedaan khusus antara siswa yang terpilih dengan yang tidak terpilih.
"Kalau bisa aku ingin menanyakan ini padamu sekarang, siapa diantara kelompok kami yang menurutmu paling mencurigakan saat ini? Menilai dari banyaknya arus dari kelas lain yang tentunya sudah mendapatkan informasi yang kita miliki." Kata Horikita padaku.
Horikita telah bersikap aneh semenjak menerima informasi ini, meski begitu mempertimbangakan siapa anggota kelompoknya, aku tentu mengira "Ryuuen." Jawabku padanya.
"Sungguh jawaban yang cepat."
"Karena tidak ada seorangpun yang lebih mencurigakan dibandingkan dirinya." Balasku
"Bagaimana dengan Katsuragi? Hanya karena dia, kelas A bisa mengamankan sebagian besar titik yang diinginkan dalam ujian di pulau itu. Itu juga sesuatu yang luar biasa. Tidakkah kau bilang kita harusnya mencurigai dia juga?" Horikita bertanya.
"Tentu saja itu adalah sebuah pencapaian luar biasa bagi siswa kelas 1 SMA. Jadi, jika kau bertanya siapa siswa paling luar biasa dalam kelompokmu tentu aku akan menjawab Katsuragi. Di samping itu, jika kau bertanya yang paling mencurigakan, tentunya aku akan menjawab Ryuuen."
Selama ujian di pulau itu, diluar dugaan semua orang, kelas D yang memenangkan ujian. Meski begitu, dalam arti lain Ryuuen juga berusaha mengamankan sedikit kemenangan. Namun Ryuuen, karena fakta itu membuat dirinya sangat mudah dibaca olehku. Berpikir sebaliknya, itu juga berarti bahwa Ryuuen juga sekarang waspada terhadap kelas D. Dalam situasi apapun aku lebih suka menghindari untuk mengungkapkan diriku. Dia tidak boleh tahu bahwa berkatku, Horikita bisa mencapai semua kesuksesan selama ujian di pulau itu.
"Sementara mengidentifikasi "target" adalah sesuatu yang menjadi kekhawatiran setelah membaca surat itu, aku baru saja terpikirkan sesuatu. Bukankah ada yang aneh tentang email yang dikirimkan pada kita oleh sekolah? Jika diteliti...." sebelum Horikita bisa menyelesaikan kalimatnya, aku dengan cepat membuatnya diam dengan menempatkan jari kelingkingku di depan bibirku dan membuat isyarat. Iblis berbicara, sebuah bayangan muncul di depan kami.
"Cuacanya bagus bukan, Suzune? Apa yang kau punya untuk sarapan?"
Dua orang mendekati kami sambil meyeringai. Dia dalah Ryuuen dari kelas C dan ada juga orang yang bersamanya.
"Jangan panggil nama depanku seenaknya, Ryuuen. Dan kau, hebat juga berani menunjukan wajahmu di depan kami lagi setelah apa yang kau lakukan, Ibuki."
Horikita mencerca Ryuuen dan gadis di sebelahnya, Ibuki Mio yang juga kebetulan berada dalam kelompok (Kelinci), ku.
Ibuki nampaknya sedikit terprovokasi dengan ini, meski begitu ia hanya menggigit bibir bawahnya dan tidak mengatakan apapun. Ryuuen, di sisi lain, menikmati seluruh situasi ini. Dalam ujian bertahan hidup, Ibuki menyusup kedalam kelas kami sebagai mata-mata. Pada akhirnya, Horikita memergokinya dan mereka berkelahi yang berakhir Horikita menerima serangan langsung. Horikita bersikukuh bahwa dia kalah hanya karena dia sakit selama ujian itu, meskipun aku sebenarnya tidak peduli yang mana diantara mereka yang paling kuat.
Sementara itu, Ryuuen telah memerintahkan Ibuki agar tetap diam selagi menatap kami dengan tatapan merendahkan.
"Aku percaya emailnya sudah tiba, jadi bagaimana? Apa kau menjadi "target"? Tanya Ryuuen.
"Tidak mungkin aku mengatakannya padamu kan, atau mungkin kau yang akan memberitahu kami?" Balas Horikita.
"Jika itu yang kau inginkan." Kata Ryuuen saat dia duduk pada kursi kosong didekatnya.
"Tapi sebelum itu tolong beritahu aku, bagaimana kau bisa mencapai hasil itu saat ujian bertahan hidup?"
"Tidak ada yang harus kuberitahu." Horikita dengan tajam menjawab ketus.
Horikita benar-benat tenang dalam tanggapannya, aku bahkan tidak bisa menemukan serak dalam suaranya. Memang, dia mempunyai jumlah yang luar biasa dalam kemampuan acting. Namun tampaknya Ryuuen tidak terprovokasi responnya sama-sekali.
"Aku sudah tidak peduli lagi, tapi menurut laporannya, kau tidak banyak melakukan apapun selama ujian itu yang membuat kelasmu mencapai hasil tersebut." Kata Ryuuen sambil menunjuk Ibuki.
"Aku bukan orang bodoh seperti dia yang bisa kau temukan dimanapun. Aku hanya berusaha menyimpan tenagaku karena demamku."
Atas tanggapan dari provokasinya itu, Ibuki langsung berdiri dan membuat pernyataan "Kalau begitu ayo kita melakukan pertarungan ulang disini sekarang, ayo bertarung." Katanya pada Horikita.
Horikita tidak bangkit menjawab tantangannya, namun hanya santai menjawab "Aku harus menolaknya, sayangnya, karena kekerasan akan melanggar peraturan sekolah untuk ujian ini. Jika kau bersikukuh melakukan kekerasan padaku, aku akan melaporkan ini ke sekolah" pada Ibuki.
Ibuki dengan marah melangkah menuju Horikita setelah itu, namun berhenti sesaat sebelum dia bisa mencapainya. Menggunakan kekerasan disini tanpa keraguan menghasilkan hukuman yang diberikan oleh sekolah. Dan yang paling penting, Ibuki, sebagai salah satu bawahan Ryuuen, tidak mempunyai kehendak sendiri disini.
Ibuki yang berbakat membenci Ryuuen. Itu sangat beralasan dia dipilih oleh Ryuuen menjadi orang yang dikirim ke kelas D sebagai mata-mata di ujian sebelumnya.
"Karena kita semua disini, mari kita memesan beberapa kopi. Kelihatannya ini waktu yang bagus untuk minum."
Secara mengejutkan Horikita menarik dirinya bersama-sama dan memesan kopi pagi pada pelayan. Meski begitu, Ryuuen tampaknya tidak menunjukan tanda-tanda untuk pergi dan malah tampak ingin melanjutkan obrolan sementara diam-diam memperhatikan Horikita.
"Mulai dari besok, Katsuragi akan benar-benar memperhatikanmu." Katanya pada Horikita.
"Tidak mengherankan. Bagaimanapun juga, dia sama-sekali tidak pernah mengira seseorang dari kelas D sepertiku akan mampu membuat prestasi. Bukankah itu sama untukmu dan Ibuki sekarang? Kalian semua waspada terhadapku, kan?" Jawab Horikita pada Ryuuen.
"Haha, aku tidak bisa menyangkalnya. Aku memang disini untuk memastikan kemampunmu." Kata Ryuuen sementara Horikita mengangkat cangkir kopinya.
"Tapi harusnya kau juga tahu bahwa caraku berbeda dengan Katsuragi, terlepas dari tipe gadis serius-chan sepertimu, tentunya tidak akan mampu merumuskan sebuah strategi seperti ujian di pulau itu."
"Aku tidak peduli, tapi bagaimana kau akan tahu strategiku selama ujian di pulau itu? Bagaimanapun juga semua yang diumumkan itu adalah hasilnya." Kata Horikita padanya.
Menghadapi Horikita yang tetap tenang, Ryuuen hanya tersenyum padanya. Dia kemudian berkata "Katsuragi tidak mengetahui metode yang kau pakai." Yang mungkin juga berarti dia mengetahui bagaimana hasil ujian di pulau itu dicapai oleh kelas kami.
"Kalau begitu, aku penasaran jika kau bisa menjelaskan bagaimana kami mencapainya?" Tanya Horikita.
Ryuuen hanya tertawa sebelum berkata "Pada akhir ujian ketika nama-nama pemimpin yang tertulis, satu-satunya alasan kenapa kita menjawab salah adalah, karena pemimpinnya telah berubah menjadi orang lain sebelum ujian berakhir dan itu bukan lagi dirimu."
"Itu tidak mengesankan sama sekali, siapapun bisa menebaknya jika sedikit berpikir, bahkan Katsuragi hanya kau buat tampak bodoh." Horikita menjawab ketus.
"Tidak tidak. Dia pikir kau adalah orang yang merencanakan itu semua. Tapi dari sudut pandangku, bahkan kau tidak akan bisa memprediksi kau akan menjadi pemimpin atau akan diberhentikan sebelum ujian berakhir." Kata Ryuuen padanya.
"Ini hanya jaminan untuk persiapan rintangan paling dasar. Aku sudah merencanakan semuanya pada saat Ibuki menyusup ke kelas kami. Tidak ada orang dibalik tirai seperti yang kau katakan." Jawab Horikita pada Ryuuen.
"Omong-omong, hal yang terpenting adalah pemimpin baru dalam ujian di pulau itu, orang yang menggantikan mu pada saat-saat terakhir. Dia adalah orang yang menarik tali mu dari belakang layar."
Kata Ryuuen sementara menatap lurus kearah Horikita dan kemudian ke arahku saat aku berdiri tepat di belakang Horikita. Aku tidak tahu apakah dia serius mengenai pernyataannya itu, namun jika dia menemukanku disini, dia tentunya sudah menyerangku.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, lagipula aku jarang mempunyai teman untuk membuat skema. Satu-satunya orang yang kuanggap cukup dekat denganku adalah Ayanokouji-kun disini, namun dia hanya menahanku di belakang dan tidak banyak bekerja sebagai kooperator."
(Tln: menahanku di belakang (holding me back) mungkin maksudnya dia cuma pesuruh)
Dengan menarik perhatian ke arahku, Horikita benar-benar bisa membuatku berpura-pura sebagai seseorang yang tidak ada hubungannya dengan skema besar itu.
"Atau mungkin juga dia yang menarik tali dibelakangku." Kata Horikita pada Ryuuen.
"Begitu ya..." Ryuuen melihatku dengan seksama sebelum dia memalingkan matanya dariku.
Kelihatannya tindakan yang kami ambil bekerja dan Ryuuen tidak lagi memperdulikanku. Meyakini telah memahami kedudukanku dalam nilai kemampuan akademis, kemampuan fisik dan komunikasi dari tindakan Horikita. Bagaimanapun juga, tolak ukur seperti itu bisa dengan mudah digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan seseorang dalam kasus apapun tanpa kesalahan.
Rupanya segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana dalam pertemuan ini, meski begitu Ryuuen masih tersenyum pada kami tanpa rasa malu ataupun amarah dalam ekspresinya.
"Sayang sekali, saat kupikir aku akhirnya menemukan orang yang membuat skema itu. Namun itu terlalu buruk untuk orang yang menarik tali dibelakang Suzune membuat pergerakannya terlalu awal. Kartu as yang dia pakai saat ujian di pulau itu harusnya disimpan untuk ujian ini tapi dia pada akhirnya menunjukan tangannya terlalu awal dalam permainan. Suzune, jika kau bertemu dengannya, tolong sampaikan pesanku ini padanya." Kata Ryuuen pada Horikita.
"Terimakasih untuk sarannya." Balas Horikita dengan dingin.
"Sama-sama."
"Kau benar-benar berpikir seseorang menarik taliku, bukan?" Tanya Horikita padanya.
Ryuuen tidak menjawab pertanyaannya. Dia tentunya tidak punya keraguan tentang keyakinannya sekalipun tidak ada bukti atau kepastian dari sisi Horikita. Lagipula, orang yang bernama Ryuuen percaya bahwa dirinya diatas segalanya dan bukan tipe orang yang akan menerima saran orang lain. Dia telah mengambil kegagalan ini sebagai batu loncatan dan hanya ingin mencari kesenangan dengan mengobrol bersama Horikita. Tiba-tiba, Ryuuen menarik ponselnya tanpa peringatan dan sebelum semua orang bisa bereaksi, dengan cepat dia mengambil foto Horikita tanpa izin.
"Jangan memotretku!" Kata Horikita dengan marah.
"Jangan begitu, aku akan memberitahumu sesuatu yang bagus." Kata Ryuuen selagi melihat foto Horikita yang dia ambil menggunakan ponselnya.
"Ada orang lain di kelas D yang membuat skema selain dirimu." Ryuuen memberikan Horikita petunjuk.
"Itu bagus, daripada menanyaiku segalanya, harusnya mereka bisa membuat keputusan sendiri." Kata Horikita mencelanya kembali.
"Meski begitu, aku senang bisa bicara dengan mu, Suzune. Ingatlah, ini adalah game. Aku tentunya akan mencari orang yang diam-diam bergerak dibalik bayangan. Semuanya adalah target bagiku." Kata Ryuuen padanya.
"Izinkan aku menanyakan satu pertanyaan terakhir. Aku mengerti kenapa kau memperdulikanku, tapi kenapa kau sangat manghantuiku? Bukankah ada kelas lain yang harusnya kau pedulikan? Seperti Ichinose-san dari kelas B atau Katsuragi-kun dari kelas A dan orang lain yang dikenal sebagai Sakayanagi menurut rumor. Mereka adalah orang-orang diatas kelas C yang harusnya kau cemaskan. Kau bilang kau akan memberitahuku sesuatu yang bagus jadi setidaknya jawab pertanyaanku." Horikita bertanya kepada Ryuuen alasan kenapa dia memfokuskan perhatiannya pada kelas D.
"Itu karena kurang lebih aku sudah tahu kemampuan mereka dan tidak ada satupun diantara mereka yang cukup layak menjadi musuhku. Jika aku ingin menghancurkan mereka, aku bisa melakukannya kapanpun aku mau." Kata Ryuuen menegaskan.
"Bagaimana dengan rumor tentang Sakayanagi?" Orang yang menanyakan itu bukan Horikita melainkan Ibuki.
Ini terlihat seperti Ibuki sendiri ingin memastikan fakta ini kepada Ryuuen. Dan Ryuuen, yang belum bicara sampai sekarang, menunggu beberapa saat sebelum membalas.
"Aku sedang menyimpan wanita itu untuk makanan penutup. Itu akan sia-sia jika aku memakan Sakayanagi sekarang." Katanya mengakhiri pembicaraan.
Ryuuen kemudian berdiri dan bersama Ibuki, meninggalkan meja kami.
"Apa mungkin kau kecewa?" Tanyaku pada Horikita setelah Ryuuen pergi.
"Tidak, aku tidak mempunyai sentimen seperti itu. Aku hanya tidak menyukai cara yang kau ambil dalam situasi ini. Yang lebih penting, untuk kelas A, aku adalah orang yang harus menarik perhatian mereka bukannya kau." Balasnya.
"Itu mungkin benar, tapi orang ini, Ryuuen. Dia adalah orang yang tidak bisa diprediksi."
Kupikir meskipun dia menunjukan dirinya pada kami lebih awal, Ryuuen sudah lebih dulu menempatkan kecurigaan pada diriku dalam kepalanya. Hampir tidak ada keraguan. Aku, tentu saja tidak tahu apa yang Ryuuen pikirkan. Namun waktu saat ia muncul disini tidak mengurangi bahaya sedikitpun.
"Itu bukan berarti dia telah memata-matai kita sejak awal, namun waktu kemunculannya terlalu sempurna."
Kemungkinan, Ibuki terlibat dengan ini. Fakta bahwa Ryuuen membawa Ibuki untuk bertemu dengan kami tentunya berarti kami harus berasumsi dia akan berusaha mengumpulkan informasi dari kami dan kelompok kami juga.
"Aku ragu seseorang benar-benar mencurigaimu sebagai orang yang bekerja dibalik layar. Reputasi yang kau bangun selama seluruh semester sebagai 'orang biasa' akan sangat sulit untuk digoyahkan." Kata Horikita padaku.
Aku tidak yakin apakah harus mengambil itu sebagai pujian atau penghinaan, namun itu benar bahwa tidak peduli berapa kali seseorang menyelidikiku, mereka akan buntu tidak menemukan apapun yang istimewa.
Normalnya, tidak ada satupun orang waras yang dengan sengaja merendahkan diri mereka ke keadaan seperti itu, jadi kurang lebihnya aku sekarang aman dari perhatian Ryuuen.
Namun, fakta aku sangat dekat dengan Horikita harusnya juga menempatkanku dalam catatannya. Juga, fakta bahwa Ibuki berada dalam satu kelompok yang sama dengaku, itu berarti aku berada dibawah pengawasannya.
Setelah aku melihat para siswa yang mulai bermunculan di geladak kapal, aku kemudian bangkit dari tempat dudukku.
"Diskusinya sekarang sudah selesai, bukan? Setelah ini, aku akan kembali ke kamarku untuk tidur." Kataku pada Horikita.
"Ya, untuk sekarang tidak ada yang tersisa untuk dibicarakan. Kita semua mempunyai kelompok yang harus kita urus. Selamat bekerja. Pastikan untuk mengabariku jika kau menemukan sesuatu." Kata Horikita saat aku pergi.
Setidaknya aku telah melihat bahwa ketika berhadapan dengan kemalangan, Horikita telah menunjukan kesediaan untuk membalas bertarung. Namun terlepas dari kemampuan pribadinya, Hirata dan Kushida harusnya bisa menahannya. Kukira aku harus kembali ke kamarku dan tidur hingga sore. Meskipun fakta bahwa ujian telah secara resmi dimulai, tidak ada apapun untuk dilakukan hingga waktunya tiba.
Bagian 1
"Maaf menunggu lama. Geppu, geppu. Makan tiga porsi makan siang tentunya membuat perutku penuh. Aku berencana melakukan diet tapi sepertinya itu tidak berhasil."
Professor datang sambil mengusap-usap perutnya yang telah bengkak oleh semua makanan yang telah ia makan sebelumnya. Penampilannya itu benar-benar berlawanan dari sosok yang mengklaim ingin melakukan diet. Dia tiba di lokasi dimana Yukimura dan aku telah menunggunya.
"Masalahnya adalah ujian sudah dimulai, jadi aku jarang makan."
"Apakah saat ini aku tidak bisa mengerahkan bendera kekuatan penuh ku?"
".... Cukup, bisakah kau hentikan cara bicara anehmu itu." Kata Yukimura membalas ketus pada Professor.
Tentu saja, dari sudut pandang seseorang yang tidak cukup memahami Professor, kata-kata yang dia ucapkan hampir terdengar seperti mantra sihir. Meski begitu, kau hanya harus terbiasa, kukira. Sebaliknya, terkadang berbicara dengan cara tidak normal seperti itu membuatnya terdengar menarik. Namun jika aku mengatakannya sekarang, itu mungkin akan membuat kemarahan Yukimura berbalik ke arahku jadi kubiarkan saja dia.
"Pofu~ Apa kau tidak menyukai cara bicaraku? Kalau begitu bagimana cocoknya, Yukimura-dono?"
"Bicara normal saja." Jawab Yukimura.
"Baik, mulai dari sekarang dan seterusnya, aku akan menjadi yang terlemah, protagonis terkuat. Aku akan secara normal tidak mempunyai motivasi untuk melakukan apapun namun kebenarannya, aku mempunyai sebuah kekuatan yang mampu menghancurkan dunia cukup baik dari menamaiku Cheat-kun. Sebagai trend saat ini."
Sepertinya Yukimura telah menyerah untuk membujuk Professor, dia mulai berjalan di depan kami. Karena kami sedikit terlambat, kami mulai berjalan terburu-buru menuju tempat tujuan kami.
"Ayanokouji, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, tolong jawab." Dia bicara dengan nada menirukan karakter tipe protagonis.
"Tanya apa?"
"Aku penasaran tentang tipe logat bicara kesukaanmu, karena tentunya kau akan senang jika seorang heroine yang manis bisa bicara dengan logat tersebut."
Cara dia bicara terdengar keren, namun isinya sendiri sama seperti biasanya, tidak penting.
"Tidak.. Tidak ada logat tertentu yang aku suka."
Karena aku lahir dan dibesarkan di Tokyo, tidak mungkin aku akan mengenal logat seperti itu.
"Tidak pernahkankah kau mendengar logat 'moe'?" Tanyanya padaku.
Sebenarnya berapa banyak siswa di sekolah ini yang dia pikir kerasukan logat tersebut? Aku bisa saja membuatnya diam sekarang namun, hingga kami sampai di ruangan pertemuan, kukira akan bagus jika aku bisa mengisi beberapa waktu dengan berbicara dengannya.
"Apa kau menyukai logat tertentu?"
"Tentu saja, asal kau tahu, berdasarkan sistem peringkat logat milikku. Yang menempati peringkat ke-3 adalah logat Kansai. Ini memberikan kesan yang keras namun kasar. Di tempat ke-2 adalah logat si cantik dalam salju, Hokkaido. Penggunaan logat dalam dunia 2D juga menyebar luas, jadi tentu saja itu adalah logat moe...."
Meskipun kubilang ingin mengisi waktu dengan bicara dengannya, namun tidak ada satupun dari ini yang masuk akal menurutku. Namun sebelum aku bisa membalasnya, Professor mulai bersiul menirukan suara aneh seperti 'doururururururu'.
"Tempat pertama dari sistem peringkat logat milikku tentunya adalah logat yang harus loli sampai onee-san pakai dalam beragam kecakapan, dialek Hakata. Dikatakan itu adalah logat terbaik dengan beragam jenis logat yang populer. Ada tiga logat yang terbaik menurutku...."
Professor melanjutkan. Sayangnya, aku tidak mengerti apa yang ingin dia katakan padaku meskipun aku tahu dia cukup bersemangat tentang topik ini. Meski begitu, sepertinya ini berhasil mengisi waktuku karena saat obrolan kami berakhir, kami telah tiba di lantai dua di depan ruang pertemuan dengan nama kelompok (Kelinci) tertulis pada plat di diatasnya. Karena ujian sudah dimulai, para siswa telah berkumpul di koridor yang membuatku merasakan claustrophobia.
(Tln: claustrophobia adalah penyakit rasa takut akan ruangan yang sempit-sempit dan tertutup.)
"Waktu bermain telah selesai kemarin. Mulai dari sekarang, harap berjuang untuk dirimu sendiri dan demi kelasmu." Kata Yukimura mengarahkan kata-kata tersebut terutama pada Professor, namun aku juga ikut mengangguk setuju.
"Haa... gak peduli berapa kali aku melihatnya, tim yang kupunya ini sangat menyedihkan."
Pernyataan itu berasal dari salah satu gadis di dalam ruangan, yang menatap kami dan menghela napas. Dia adalah salah satu gadis cantik dari kelas D (meskipun sedikit menor). Karuizawa Kei. Termasuk dirinya, 11 orang yang sekarang berada di ruangan ini sedang duduk pada kursi yang diatur secara melingkar.
Menilai dari jumlah kursi yang masih kosong, kupikir kami adalah yang terakhir datang. Aku tidak bisa mengenali mereka hanya berdasarkan daftar namun ada beberapa siswa selain Ichinose dan Ibuki yang bisa kukenali.
Ada seorang siswa laki-laki dari kelas A yang mendekatiku selama ujian di pulau itu menawarkan kerjasama untuk menyabotase kelas D. Namun aku tidak bisa mengenali siswa lainnya di ruangan ini. Nampaknya sama seperti kami, yang kemarin sore masih merupakan musuh, mereka juga dipaksa untuk bekerja sama dalam ujian ini.
Tentunya, bukan hanya kelas kami tapi kelas lainnya juga akan merasa canggung dan bingung dengan pengaturan yang tiba-tiba ini. Kami memilih untuk duduk di kursi karena tetap berdiri hanya akan membuat kami lebih tampak mencolok.
Para siswa secara naluri duduk bersama teman sekelas mereka, namun Karuizawa dan Ibuki keduanya duduk jauh dari lingkaran hampir seolah mereka diisolasi dari kelompok.
"Hmmm... beneran nih?"
"Apa kau menemukan sesuatu, Ayanokouji?"
"... Tidak, tidak ada."
Aku telah mengira kalau Karuizawa akan cekcok dengan Ibuki saat dia bertemu dengannya. Lagipula, Ibuki Mio adalah yang bertanggung jawab mencuri pakaian dalamnya saat ujian di pulau itu. Kupikir dia akan langsung membalas dendam padanya, tapi mungkin Karuizawa lebih dewasa dari yang kuduga, atau mungkin juga dia telah selesai dengan balas dendamnya.
Meski begitu, fakta bahwa Karuizawa bahkan tidak terlihat terganggau itu aneh. Tapi sebelum aku bisa menanyakanya, sebuah pengumuman datang dari papan speaker yang dipasang di dalam ruangan.
"Mulai dari sekarang dan seterusnya, kami akan memulai dengan kelompok diskusi pertama ini."
Hanya itu. Sebuah pengumuman singkat, namun karena tidak ada seorang pun di dalam kelompok yang saling mengenali siswa dari kelas lain, tidak ada seorang pun yang mengambil inisiatif untuk memulai diskusi.
Sebagai hasilnya, kecanggungan menyelimuti seluruh ruangan. Kemudian, seorang gadis yang bernama Ichinose Honami bangkit dengan senyum mekar dan setelah memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang akan mengambil inisiatif, dia bicara.
"Aku mengenali sebagian besar orang disini, namun kukira aku harus mematuhi instruksi sekolah, kita harus memperkenalkan diri kita dulu. Karena mungkin juga ada yang belum mengenal satu sama lain." Katanya pada semua orang.
Tentunya tidak mudah menjadi pemimpin kelompok seperti ini, orang yang harus bisa mengilhami semuanya, beberapa dari mereka mungkin juga berasal dari kelas lawan, dan merangkul mereka bersama-sama sebagai kesatuan untuk menyelesaikan ujian.
Tapi Ichinose tidak terlihat membenci ini, sebaliknya, dia tampak senang memimpin kelompok ini. Beberapa siswa dari kelas A tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka karena Ichinose mengambil alih kepemimpinan.
"Aku tidak berpikir kita perlu melakukannya. Sekolah hanya mengatakan itu sebagai formalitas. Hanya orang yang ingin memperkenalkan diri saja yang harus melakukannya."
"Jika Machida-kun tidak ingin melakukannya, maka tentu aku tidak akan memaksamu. Tapi tidak menutup kemungkinan ada perekam tersembunyi yang dipasang di ruangan ini. Jika kita terang-terangan tidak mematuhi instruksi dari sekolah, bukan kamu saja tapi seluruh anggota akan mendapat hukuman, kamu setuju kan?" Balas Ichinose dengan cepat.
Pada dasarnya, bersikap egois disini bisa berdampak pada seluruh anggota kelompok. Menempatkan itu sebagai landasan, dia membuat bahkan seseorang yang bernama Machida dari kelas A bertekuk lutut menerima argumennya.
Dia kemudian memulai perkenalan dengan memperkenalkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Mengingat kembali perkenalan diriku yang berantakan di hari pertama sekolah, dalam perkenalan di kelompok ini, itu juga berakhir sama. Perkenalan diri ku yang menjemukan dan datar seperti hari itu.
"Yaa~ho Ayanokouji-kun. Kelihatannya kita satu kelompok. Mohon kerja samanya."
Ichinose memanggilku dengan ramah dan suara menghibur saat aku kembali ke tempat dudukku. Setelah perkenalan diri semua orang selesai dilakukan, Ichinose sekali lagi bangkit untuk bicara.
"Jadi, kita telah melaksanakan instruksi sekolah. Apa yang kalian semua ingin lakukan dari sekarang? Jika ada siapa pun yang ingin menggantikanku sebagai pemimpin, bisakah tolong mengatakanya sekarang?"
Ichinose bicara dengan suara seolah bertanya apabila ada yang ingin mengambil posisi pemimpin darinya. Tentu saja, mengatakannya dengan cara itu akan menjamin bahwa tidak ada seorangpun yang akan merebut posisi kepemimpinan darinya. Mungkin ada beberapa siswa diantara kami yang tidak puas dengan caranya, namun kekhawatiran akan tanggung jawab akan mencegah mereka, tidak ada seorang pun yang bicara saat ini.
"Karena tidak ada seorang pun yang ingin mengambil posisi kepemimpinan, bisa kita lanjutkan? Pertama-tama, aku percaya kita harus membicarakan aspek dari ujian yang beberapa orang belum tentu cukup mengerti, atau pertanyaan lain dan kekhawatiran yang mungkin kalian miliki yang berkenaan dengan itu. Jika tidak, situasi canggung ini akan terus berlanjut seperti ini." Kata Ichinose sat dia menawarkan topik pertama diskusi.
Tidak ada penolakan dari kelompok untuk sarannya maupun suara yang bangkit menentangnya. Hal seperti ini bisa sering terjadi apabila orang-orang yang saling tidak mengenal berkumpul dalam satu kelompok, dan fakta bahwa satu orang bisa bertindak tanpa takut dari penentang seperti itu adalah tanda dari seorang pemimpin sejati. Ichinose kemudian meletakan kedua tangannya di pinggang dan tersenyum percaya diri.
"Aku ingin meminta semuanya disini berasumsi bahwa tidak seorang pun dari kita yang menjadi "target". Aku ingin bertanya apakah semua orang disini ingin bekerjasama untuk menyelesaikan ujian dengan hasil pertama? Aku ingin bertanya pada kalian apakah semuanya berpikir bahwa ini adalah jalan terbaik atau tidak?" Ichinose bertanya pada kami.
"Hah? Apa maksud mu? Bukankah itu jelas?" Karuizawa adalah orang yang menjawab pertanyaannya.
Dia bersikap seolah mengerti namun kemungkinan besar dia tidak memahaminya, tapi dalam situasi seperti ini, orang yang pertama mengungkapkan isi pikirannya bisa menentukan tempat mereka dalam kelompok hirarki, apakah dia diatas atau dibawah. Yukimura, dan gadis dari kelas C yang bernama Manabe tampaknya juga menyadarinya, menjawab dengan cara yang sama seolah terhubung dengan Karuizawa. Sudah jelas, jika memungkinkan, masuk akal jika semua orang disini ingin mendapatkan hasil pertama ujian.
Seolah setuju dengan pernyataan Ichinose, seseorang dari kelas B mengangkat tangannya. Jika aku ingat-ingat, nama yang ia sebutkan pada saat perkenalan tadi adalah Hamaguchi Tetsuya.
"Aku setuju dengannya, tentu saja, bekerjasama sebagai sebuah kelompok adalah langkah yang jelas dari tindakan kita saat ini." Katanya
Ini bukan pertanyaan yang buruk untuk memulai diskusi, harus kuakui itu. Sepertinya hanya beberapa siswa yang belum menyadarinya, namun dengan menanyakan sebuah dugaan kasual dan pertanyaan yang jelas seperti ini, itu memungkinkan untuk melihat siapa yang bukan "target" sementara mengembangkan sebuah sikap yang positif diantara anggota kelompok.
Jika seseorang memainkannya dengan benar, dia bahkan bisa mempersempit daftar yang dicurigai sebagai "target" pada tahap ini. Meskipun memang benar, masih sulit untuk menentukan hitam dan putihnya dengan hanya satu pertanyaan. Ichinose, orang yang mengajukan pertanyaan itu. Karuizawa, yang pertama menjawabnya. Lalu Yukimura dan Manabe yang mengikuti jawaban Karuizawa. Selanjutnya Hamaguchi dari kelas B. Itu tidak mengherankan jika "target"ada diantara mereka yang dengan berani menjawab tanpa kehilangan sebuah pukulan.
Aku ikut bersama mereka agar tidak meruntuhkan suasana yang mereka punya saat ini.
"Lagipula kita ini satu kelompok, dan lagi poin pribadi kita saat ini rendah, aku lebih suka bekerjasama jika memungkinkan. Kau juga setuju kan, Professor?" Tanyaku.
Professor, yang sepertinya mengalami sakit perut karena terlalu banyak makan, mengusap-usap perutnya saat aku memanggilnya tiba-tiba, yang membuat bahunya tiba-tiba naik karena terkejut.
"Tentu saja, aku juga ingin bekerjasama karena aku akan mendapatkan poin jika melakukannya." Balasnya.
Sepertinya Professor masih berusaha menjaga sikap kerennya, bertindak sebagai karakter misterius. Dan yang memperhatikan kami semua, adalah para siswa dari kelas A yang hanya terdiri dari siswa laki-laki.
Mereka sepertinya dengan tenang memperhatikan kami untuk melihat kearah mana yang akan diambil kelompok diskusi ini.
"Ichinose, pertanyaan itu tidak adil bukan? Jika kau adalah "target" yang mengatakan hal itu, kau mengatur untuk mengumpulkan seluruh anggota kelompok sebagai orang yang menentang "target", dan tidak ada seorang pun yang akan terang-terangan tidak setuju denganmu dan menyatakan diri mereka adalah seorang penghianat setelah pernyataanmu barusan. Ini hampir seperti kau sedang melabeli "target" sebagai seseorang yang buruk untuk tidak bicara, aku percaya ini pertanyaan yang sangat tidak tepat untuk diajukan pada kita." Machida mengatakan itu dengan nada tajam.
Dia tampak jelas berbeda dari siswa kelas D dan C yang hanya mengikuti arus dan setuju dengan Ichinose. Itu hampir tampak seperti sebuah introgasi saat ia mengkritik kata-kata Ichinose. Hamaguchi, yang telah mendengar keluhan Machida, membalasnya dengan tenang.
"Bukankah ini pertanyaan wajar untuk jenis ujian seperti ini? Ichinose-san tidak menggunakan semacam ancaman untuk memaksa kita bekerjasama atau membocorkan informasi, jika kau tidak menyukainya, kau harusnya diam." Hamaguchi dengan cepat menghentikan kritikan kelas A untuk Ichinose.
Sepertinya perang sipil telah diputus diantara anggota kelompok, Machida tidak terkejut dengan balasan Hamaguchi, hampir seolah dia telah menduga ini akan terjadi.
"Memang, kami harusnya tetap diam. Dan sebagai hasilnya, ini adalah apa yang akan aku dan kelas A sisanya lakukan, mempertahankan diam kami."
Machida secara terang-terangan menolak tawaran Ichinose untuk bekerjasama. Dan siswa kelas A sisanya mengikutinya, siswa sisanya yang belum menjawab juga memilih untuk tetap diam.
"Apa mungkin aku terlalu berlebihan dengan pertanyaanku?"
Dengan tanggapannya untuk penolakan yang tidak terduga ini, Ichinose tersenyum pahit.
"Tidak, Ichinose-san. Pertanyaanmu sangat beralasan. Namun kukira kekhawatiran mereka lebih kuat dari yang kita duga. Katakan padaku, Machida-kun. Apa pertanyaan yang kau anggap tepat saat ini? Kita bisa membicarakan tentang makanan kesukaan kita atau pun hobi, namun aku ragu ujiannya akan mencakup apapun dari yang demikian. Itu akan berarti kau tidak punya apapun untuk diberikan kepada kelompok kecuali diam mu itu." Kata Hamaguchi pada Machida.
"Tidak ada apa pun untuk diberikan? Bukan seperti itu." Machida berusaha menanggapi.
"Aku tidak tahu apa yang Ichinose-san rencanakan dengan pertanyaan itu, tapi dalam ujian ini, aku tahu bahwa diskusi antara para siswa adalah hal yang vital. Jika kau masih menolak untuk tetap diam, kami tidak punya pilihan lain kecuali melanjutkan diskusi tanpa kelas A. Paling tidak, kau bisa membantu kami memutuskan topik apa yang harus kami ambil untuk memulai diskusi." Balas Hamaguchi pada Machida.
Hamaguchi benar, tepat seperti yang dia katakan, hanya tetap diam tidak akan membuat mu lebih dekat untuk menemukan "target"atau menyelesaikan ujian. Machida tentunya mengetahuinya juga, meskipun dia menyilangkan kedua lengannya dan tetap diam. Melihat situasi yang seperti sebuah gerbang kastil yang tertutup, Ichinose mencoba menerobos.
"Yang berarti, meskipun enggan, aku kira kita harus menentukan pemimpin dengan melakukan sebuah voting. Tentunya kecurigaan akan diarahkan pada orang yang menolak menjawab pertanyaan dan kita bisa menamainya "target" nanti. Apakah semua orang setuju dengan itu?"
Ichinose menerobos kastil yang dikenal sebagai kelas A dengan kata-kata itu. Cara berpikir Horikita juga sama dengan Ichinose, namun perbedaan antara mereka adalah Ichinose bisa dengan mudah mengumpulkan orang-orang untuk berada di pihaknya.
Bertarung dalam sebuah pertempuran sementara menerima persetujuan dari orang-orang di sekitarnya membuatnya menjadi keberadaan yang sangat kuat dalam situasi ini. Secara terang-terangan, Ichinose sudah memegang suara terbanyak di tangannya ketika dia mengambil inisiatif dalam diskusi. Yang bisa kukatakan sejauh ini, tidak ada orang lain di sekolah yang mampu melakukan sama seperti yang dia lakukan. Katsuragi dan Ryuuen tidak bisa melakukannya. Hirata dan Kushida tidak akan bisa melakukan seperti yang dia lakukan juga.
"....Apa kau mengancamku?"
"Jangan salah paham, kami hanya ingin mendiskusikan segala sesuatu dengan kalian semua. Kalian bebas memutuskan apakah kalian ingin mengikuti diskusi atau tidak mengikuti diskusi. Namun aku ingin semua orang berpartisipasi dalam kesempatan ini, karena ini sangat diperlukan dalam ujian ini."
Machida sepertinya tidak memahami kata-katanya dan mulai menggerutu pada dirinya sendiri dengan cara yang aneh.
"Ujian ini, bisakah benar-benar diselesaikan hanya dengan bicara? Apa kau pikir kita akan menemukan "target" hanya dengan berbicara satu-sama lain? Atau apakah kau akan menurunkan kepalamu dan memohon pada mereka untuk mengungkapkan jati diri mereka?" Kata Machida pada Ichinose.
Aku paham, sepertinya pendekatan kelas A untuk ujian ini sudah diputuskan, namun pendekatan ini tidak tampak untuk Machida. Kupikir aku sudah mulai melihat orang yang bertindak di belakang Machida.
"Jadi, apa ada jalan lain?" Tanya Ichinose pada Machida, setelah percaya diri pada pendekatannya.
Namun tentu saja, pertanyaan ini adalah sesuatu yang sudah kelas A perkirakan sebelumnya.
"...Ya. Ada sebuah cara yang mudah dan pasti untuk menyelesaikan ujian ini." Salah satu siswa dari kelas A tiba-tiba angkat suara.
Ichinose dan Hamaguchi keduanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka akan ini.
"... Bisa kalian jelaskan rencana kalian pada kami?" Tanya Ichinose pada mereka.
"Tentu, lagipula kita ini satu 'kelompok' jadi ini wajar untuk membagikan informasi seperti itu." Machida, tidak, seluruh kelas A datang dengan rencana yang benar-benar sangat sederhana.
"Rencana yang akan kita ambil adalah .... tidak bicara pada semuanya dari awal hingga ujjian berakhir." Katanya.
Suaranya cukup lantang bagi kami, yang duduk sebagai orang pinggiran dari diskusi untuk mendengarnya juga. Sepertinya Karuizawa dan Professor keduanya mengerti apa yang dia katakan.
"Itu usulan yang cukup unik, tapi bagaimana usulan mu itu bisa menyelesaikan ujian tanpa diskusi sama sekali? Atau apakah kau menyarankan kami untuk membiarkan identitas "target"benar-benar tersembunyi hingga akhir?"
Daripada Ichinose, Hamaguchi lah yang mengatakan itu.
"Memang benar, jalan pintas yang sebenarnya untuk menyelesaikan ujian ini secara efektif dan mungkin dilakukan adalah dengan tidak saling bicara sama-sekali." Balas Machida.
"Aku tidak bisa mempercayai ini. Ini adalah permulaan untuk membuat kita berpikir bahwa "target" ada diantara siswa kelas A dan tindakan ini diambil untuk melindungi identitas mereka sementara membagikan informasi hanya diantara teman sekelas mereka."
Normalnya, jika "target"ada di kelasmu, tidak perlu mengatakannya pada orang lain atau pun ikut berpartisipasi dalam diskusi. Itu tidak bisa dicegah kalau Hamaguchi akan mencurigai mereka setelah itu. Tidak hanya Hamaguchi, namun itu tidak bisa dicegah apabila siswa lainnya juga menaruh kecurigaan pada mereka setelah itu.
"Tidak. Bukan masalah "target" ada di kelas mana, itu tidak akan berdampak pada hasilnya. Jika kita hanya tidak saling bicara kita akan menang, itu adalah rencana yang Katsuragi-san pikirkan untuk kita."
"Katsuragi?... Jadi begitu."
Ichinose tampaknya juga mengerti setelah nama Katsuragi disebutkan. Machida kemudian berpaling ke Yukimura, yang tanpaknya tidak memahami penjelasannya, dan mulai menerangkan rencananya.
"Hanya ada 4 hasil yang mungkin terjadi dalam ujian ini. Aku percaya kau telah paham akan hal ini. Menurutmu, hasil apa yang harus kita semua hindari dalam ujian ini?" Machida tiba-tiba berbalik pada Karuizawa dan mengajukan pertanyaan ini.
"Ehhh...hasil dimana seseorang menemukan identitas "target" dan menghianati kelompok?" Jawabnya.
"Tepat, apabila seorang penghianat muncul maka kita kalah sebagai kelompok. Entah penghianat itu menjawab benar atau pun salah, keduanya adalah jalan menuju kekalahan. Namun, berpikir sebaliknya, bagaimana dengan hasil lainnya yang mungkin terjadi?" Machida menatap Yukimura untuk pertanyaannya itu.
"Hasil lainnya? Sebuah hasil dimana kita tidak mendapatkan hasil negatif kan?"
"Memang, tidak ada cela dari dua hasil sisanya yang mungkin terjadi. Poin kelas tidak akan naik atau pun turun secara drastis, dan selain itu kita akan mendapatkan jumlah poin pribadi yang melimpah juga. Satu-satunya yang akan dipecundangi dalam skenario ini adalah pihak sekolah. Tidak perlu mencari "target". Dengan berdiskusi diantara kita semua, kita hanya akan berakhir mencurigai satu sama lain karena menyembunyikan "target"dan berakhir bimbang entah bagaimana dan membuat sebuah kesalahan."
"Kami mengakui manfaat dari rencana ini pada tingkat tertentu, namun, selama kita tidak tahu "target" ada di kelas mana, selalu ada kemungkinan bahwa celah poin antara kelas boleh jadi semakin melebar. Jika "target"ada di suatu kelas dan berakhir menyokong kelas tersebut, katakanlah kelas bisa jadi mendapatkan jutaan poin dalam bentuk poin pribadi. Meskipun poin kelas itu sendiri tidak akan terpengaruh, aku percaya semua orang mengerti apa dampak yang bisa dibuat dari perbedaan poin pribadi terhadap kelas." Kata Hamaguchi menanggapi.
Hamaguchi benar, poin pribadi juga benar-benar sangat berguna. Seseorang bisa membeli perolehan ujian, secara langsung, bahkan bisa mengubah kelas tergantung dari bagaimana orang itu memilih untuk menggunakannya. Hamaguchi benar dalam asumsinya bahwa "target" mungkin memilih untuk menyokong kelasnya dengan menggunakan poin pribadi untuk cara seperti itu. Namun argumen ini tidak akan bekerja terhadap kelas A, bagaimanapun juga, Katsuragi tentunya sudah menyadari 'trik tersembunyi' dalam ujian ini. Jika tidak, mereka tidak akan berani mengajukan usulan ini pada kami.
"Pikirkan dengan hati-hati, sekolah tentunya tidak akan memberikan kelas manapun keuntungan yang tidak adil dalam ujian ini. Secara gamblang mereka menegaskan ketidakberpihakan mereka sebelum ujian dimulai pada penjelasan kemarin. Tentu saja tidak ada yang menolak fakta bahwa hanya ada satu "target" dalam setiap kelompok, namun itu tidak penting. Yang penting adalah bahwa setiap kelas mempunyai "peluang yang sama" untuk mempunyai "target". Tidak ada yang menolak fakta bahwa dalam ujian ini, kelas A maupun kelas D keduanya akan memulai dengan permulaan yang sama." Kata machida.
Untuk usulan rencana Katsuragi ini, mereka akan secara alami bersikeras bahwa tidak akan ada diskusi dan memungkinkan poin didistribusikan secara merata antar kelas terlepas dari kelas mana "target" itu berada.
Namun Hamaguchi segera merespon usulan kelas A secara tidak terduga.
"Aku setuju tentunya bahwa sekolah memastikan setiap kelas dengan permulaan yang adil. Dan jika kau merenungkan perkataan mereka, tentunya rangkaian pemikiranmu itu tidak salah. Namun, kita masih belum bisa memastikan apakah itu kebenarannya."
Ini kebenaran yang kejam, tapi Hamaguchi melakukan yang terbaik untuk menyuarakannya. Sekolah tentunya akan berusaha menghindari bias dengan menetapkan "target" di kelas tertentu. Itu akan lebih mudah ditebak untuk siapapun.
"Aku percaya kau memahaminya juga, tapi dengan saling berbicara satu sama lain sekarang, kita hanya akan menciptakan kecurigaan dan keraguan dan bisa menyebabkan runtuhnya hubungan diantara anggota kelompok kita. Memang ada kemungkinan bahwa kita akan menemukan "target"dengan cara ini, tapi kau juga mengambil resiko dengan memunculkan penghianat dan menyebabkan kelompok menderita karena mereka." Machida melanjutkan.
"Kamu benar, itu bukan hal yang buruk jika kita semua mengambil keuntungan sementara membuat sekolah kalah dalam prosesnya." Kata Ichinose saat ia menerima rencana yang Katsuragi pikirkan untuk ujian.
Machida sedang melihat kami dengan ekspresi yang seolah mengatakan dia adalah orang yang mengusulkan tindakan masuk akal itu, namun itu bukan berarti Ichinose akan patuh menerima rencana mereka.
"Namun untuk melaksanakan rencana tersebut akan sulit, kemungkinan bahkan lebih sulit daripada kita saling bicara. Aku tidak akan bicara, aku tidak akan ragu dan aku tidak akan berhianat. Kecuali kalau setiap siswa disini bisa menerima tanpa keberatan, rencana itu tidak akan ada artinya. Karena sekolah sudah menjamin kerahasiaan nama untuk para siswa, kepercayaan diantara satu sama lain juga menjadi pokok persoalan. Itu akan hebat jika poin bisa didistribusikan secara merata diantara kita semua pada akhirnya, namun bukankah disana juga ada resiko dari seseorang yang menghancurkan kepercayaan itu dan mengambil poin untuk dirinya sendiri?'
Dalam kasus itu, seorang siswa dari suatu kelas akan mendapat poin untuk dirinya sendiri selagi besembunyi dari kelas sisanya. Itu memang akan menyebabkan sisltuasi yang canggung.
Tampak seolah rencana Katsuragi adalah untuk melekatkan pertahanan, hampir seperti membangun sebuah penghalang untuk kelompok. Itu adalah rencanananya. Bekerjasama dengan semua orang di dalam kelompok tentunya akan sulit, namun rencana itu sendiri hanya membutuhkan seseorang untuk tidak bicara sama sekali, sebuah taktik sederhana yang semua orang bisa terima dengan mudah tanpa keberatan.
Itu hampir bisa dikatakan merupakan sebuah strategi yang menjatuhkan rencana sekolah dan membuat ujian menjadi perbincangan.
"Bukankah itu bagus? Aku tidak melihat masalah apa pun dalam rencana ini. Setelah ujian berakhir, kita bisa saling bicara diantara anggota kelompok kita dan membagikan poin dari ujian."
Sentimen Professor tampaknya dibagikan oleh siswa dari kelas C juga, karena gadis yang bernama Manabe juga setuju dengannya.
"Aku juga sependapat, selama kita bisa membagikan poin kita setelah ujian berakhir itu bukan masalah. Lebih baik daripada mengambil resiko dari seorang penghianat yang muncul dan menyabotase kelompok. Tidak masuk akal juga mencoba menemukan "target" dengan hanya saling bicara "
Yukimura tampaknya memikirkan dalam-dalam saat ia mengatakan itu, namun sekalipun dia bangkit, tidak ada yang keberatan terhadap rencana itu.
Merasakan bahwa pihak lawan telah benar-benar mati, Machida terkekeh.
"Begitu, memang seperti yang Machida-kun katakan, masalah bisa diselesaikan setelah ujian dalam masing-masing kelas, hmm?"
Ichinose bicara dengan kedua lengannya menyilang saat ia melihat teman-teman sekelasnya, kemudian pada kelas D dan C.
"Aku ingin mendapatkan persetujuan umum dari seluruh anggota kelompok, apa itu tidak masalah? Jika kalian setuju dengan rencana itu, tolong angkat tangan kalian." Dia kemudian bicara.
Yukimura dan Professor dari kelas D juga seperti beberapa siswa dari kelas C melambaikan tangan pada saat itu, namun setelah beberapa saat, meskipun takut-takut, mereka akhirnya mengangkat tangan.
"Ibuki-san, bagaimana dengamnu? Bisakah kami mendengar pendapatmu juga?" Tanya Ichinose pada Ibuki.
"Aku tidak mempunyai pendapat khusus, tidak ada apapun yang terjadi sekarang jadi lanjutkan seperti yang kau inginkan."
Tampaknya Ibuki tidak ingin memberikan tanggapan apa pun pada babak ini. Dia jelas berbeda dari tiga siswa lainnya dari kelas C.
Karena Manabe dan yang lainnya tampak tidak terkejut dengan ini, sepertinya ini adalah sikap Ibuki yang biasanya.
"Jadi begitu. Bagaimana denganmu, Karuizawa-san?" Tanya Ichinose pada Karuizawa.
"Beneran... aku kesal dengan semua ini. Entah kita mendapatkan poin, atau aku yang mendapatkan poin, itu adalah masalah yang berbeda. Itu bukan berarti kita dijamina mendapatkan poin dengan saling bicara, kan?.. Aku hanya lebih suka ujian ini berakhir secepatnya jadi aku bisa kembali bersenang-senang." Katanya.
Meskipun Karuizawa hanya mengungkapkan isi pikirannya, sepertinya kata-katanya beresonasi dengan beberapa siswa juga.
"Lalu bagaimana dengan Hamaguchi-kun?"
"Kami akan menyerahkan keputusan pada Ichinose-san." Balasnya dengan cepat.
Sepertinya kepercayaan Ichinose dari teman-teman sekelasnya tidak bisa digoyahkan karena dua siswa lainnya dari kelas B juga mengangguk setuju.
"Terimakasih, kemudian terakhir, bagaimana denganmu, Ayanokouji-kun?" Ichinose kemudian berbalik ke arahku untuk bertanya, orang terakhir yang belum memberikan pendapatnya.
"Kupikir rencana itu bagus, selain itu, mayoritas suara sudah setuju dengan itu. Dan lagi, aku adalah tipe orang yang buruk dalam berbicara." Kataku mendukung rencana Katsuragi.
Meski begitu, tampaknya Ichinose tidak akan hanya menerima usulan Katsuragi dengan patuh. Lebih tepatnya, jika mereka hanya membungkuk dan menerima arus disini, masa depan kelas B akan menjadi gelap. Karena dalam rencana Katsuragi, ada sebuah elemen yang sulit diterima.
"Kalau begitu sudah diputuskan." Kata Machida.
"Tunggu. Machida-kun... bukan, rencana Katsuragi-kun tentunya bukan hal yang buruk, tidak perlu untuk mencurigai siapapun, memburu atau menyakiti siapapun. Aku bisa mengerti kenapa semua orang menerima rencana ini. Sulit melihat kekurangan dalam rencana tersebut, namun jika kalian memikirkannya hati-hati, bukankah karena kalian dari kelas A kalian bisa mengajukan rencana itu? Ada sebuah cela yang tidak bisa kita lihat bersembunyi dalam rencana ini." Kata Ichinose kemudian.
Ichinose membuat tanggapan yang tampak seperti sebuah kapal selam karam yang tiba-tiba muncul dari kedalaman laut dengan sebuah deburan ombak.
"Cela tersembunyi? Bagaimana bisa begitu?" Yukimura bertanya pada Ichinose dan nada yang seolah dia tidak memikirkannya terlalu jauh.
"Memang, mengasumsikan bahwa setiap kelas mempunyai peluang yang sama untuk memiliki "target" yang ditempatkan di kelas mereka, tidak saling bicara adalah cara terbaik untuk mendapatkan jumlah poin yang besar untuk kita semua. Hanya ada satu keuntungan untuk rencana ini dalam kasus tersebut. Namun, itu akan tidak adil bagi kelas yang lebih rendah untuk membiarkan kesempatan yang satu ini menjadi sia-sia." Dia menjelaskan.
"I-Itu dia!..."
"Kita masih tidak tahu berapa banyak lagi ujian khusus akan diadakan sebelum kelulusan. Dan perbedaan poin antara kelas A dengan kelas lainnya begitu luar biasa. Strategi dari bekerjasama dengan kelas lainnya juga diambil selama ujian di pulau itu. Dengan kata lain, setiap kali ada ujian, kelas A akan tetap menggunakan strategi yang menyebabkan posisi kelas mereka tidak berubah hingga kelulusan." Ichinose menjelaskan.
Wajah Yukimura langsung mengkerut setelah mendengar penjelasan itu, seolah bertanya-tanya bagaimana bisa dia tidak memperhatikan hal sesederhana itu.
Machida menjelaskan usulan rencananya begitu pandai yang membuat perhatian semua orang hanya berfokus untuk menghindari "kekalahan" dan tidak mempertimbangkan hal lainnya. Itulah kenapa bahkan Yukimura begitu cepat menyetujuinya tanpa mempertimbangkan jangka panjang dari hasil tersebut.
"Sekalipun kita bisa mendapatkan poin dengan cara ini, aku tidak bisa mengabaikan kesempatan berharga seperti itu." Ichinose menyimpulkan.
"Seperti yang Ichinise-san putuskan, kami akan mengikuti keputusannya." Kata Hamaguchi mengikuti.
"Tunggu sebentar Ichinose. Aku tahu apa yang coba kau katakan, tapi jika kita mengukuti usulanmu, hanya ada satu hasil yang mungkin terjadi. Dan bahkan jika kita semua bekerjasama, semua kelas akan mendapatkan poin yang sama secara merata. Hasil yang kau harapkan tidak akan terjadi. Atau apakah kau mencoba menemukan "target" melalui diskusi dan kelas B akan menghianati kita untuk mendapatkan poin? Kau barusan dengan sengaja bertanya apakah semua orang ingin mendapatkan hasil pertama. Namun aku tidak yakin apa kau bisa dipercaya." Balas Machida.
"Kamu bilang semua kelas akan mendapatkan poin yang sama secara merata. Namun itu salah. Lihatlah jumlah siswa dari masing-masing kelas. Ada 4 orang dari kelas C dan D. Lalu 3 orang dari kelas A dan B. Apapun yang terjadi, jumlah poin yang masing-masing kelas terima akan berbeda dan kesenjangan juga akan berubah kan?"
"Memang, tapi akankah kau dan kelas B dengan jumlah yang lebih rendah menerima hasil ini? Apa kau akan secara sukarela mengorbankan kelasmu untuk berdiri menolong kelas yang lebih rendah agar naik?" Kata Machida bertanya pada Ichinose.
"Jika tidak, kelas A tentunya berdiri demi keuntungan dari strategi saat ini. Itu akan lebih merepotkan jika "target" kebetulan ada di kelas A."
Tentu saja, jika "target" bukan dari kelas A maka tidak perlu Ichinose seagresif ini. Namun, selama kemungkinan itu masih ada, dia akan bersikeras untuk perlunya diadakan diskusi.
"Aku juga setuju dengan Ichinose-san, kita tidak bisa membiarkan kelas A mendapatkan keuntungan utama dengan strategi ini." Hamaguchi mengikuti.
Aku terkesan saat pertama kali mendengar rencana dari faksi Katsuragi namun sekarang Ichinose dan Hamaguchi telah menunjukannya, itu sekarang terdengar lebih seperti gertak sambal daripada apapun. Sesuatu yang direncanakan pada saat mereka diberi pengarahan singkat dalam ujian biasa.
Kukira itu hanya karena Ichinose tahu metode kelas A dia bisa melawan argumen mereka seperti ini. Bahkan para siswa yang pernah berdiri mendukung rencana mereka mungkin akan menjadi netral atau bahkan mungkin berdiri di pihak Ichinose. Medan perang sekarang telah berbalik menuju kelas B yang dipimpin oleh Ichinose dan kelas A yang dipimpin oleh Machida sementara C dan D adalah kelas yang diperebutkan oleh mereka agar berada di pihak mereka. Dan sekarang, pasang akan berbalik menyokong kelas B.
"Aku paham, jadi kalian juga telah membuat keputusan kalian. Namun ingatlah kami dari kelas A telah membuat pilihan kami. Entah apapun alasannya, kami tidak akan bicara dengan kalian mulai sekarang dan seterusnya. Kalian semua bebas mendiskusikan apa pun yang kalian inginkan diantara kalian." Kata Machida mengakhiri dan dengan begitu, ketiga siswa dari kelas A bergerak menuju pojok ruangan dengan hening.
Tampaknya mereka akan menghabiskan sisa waktu yang diberikan dengan melakukan itu. Aku percaya siswa kelas A lainnya juga melakukan hal yang sama di kelompok lain saat ini juga. Dengan melakukan ini, jika "target" kebetulan dari kelas A, itu akan terlampau sulit untuk menemukannya.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Ichinose berhadapan dengan tiga kelas sisanya dan bertanya.
"Aku benci menjadi orang yang mengusir kalian guys, tapi jika keputusan kelas kalian tidak bisa diganggu gugat. Jika kalian ingin bergabung dengan diskusi kami, tolong katakan kapan saja." Ichinose mengarahkan kata-kata tersebut pada kelas A.
Ichinose telah melakukan yang terbaik untuk memanggil kelas A seperti itu, namun tampaknya mereka sudah mantap pada keputusan mereka. Kelas A tetap diam dan sama sekali tidak menjawab.
"Bukankah mustahil menemukan "target" tanpa bekerjasama dengan kelas A?"
Yukimura adalah orang yang mengajukan pertanyaan itu seolah komplain pada Ichinose. Sikapnya sekarang benar-benar berbeda, hanya beberapa saat lalu dia sangat yakin dengan rencana kelas A, namun kupikir Yukimura ingin agar kelas D aktif berpartisipasi dalam diskusi.
"Ya, jika "target" ada di kelas A itu akan lebih sulit untuk menemukannya. Tapi aku bisa mengatakan bahwa rasio kemungkinan yang menyokong kita adalah 3 banding 1. Sekalipun kita tidak tahu "siapa", jika kita tahu "dimana" setidaknya itu akan menjadi lebih mudah bagi kita, kamu setuju kan?'
Ichinose tampaknya tidak ingin menemukan dengan tepat "siapa" yang menjadi "target"', namun di "kelas mana" dia berada, terutama jika dia ada di kelas A.
"Itu tidak bisa dicegah jika mereka menolak untuk bicara. Dan jika "target"adalah salah satu dari ke tiga kelas yang tersisa, aku akan mengancam mereka secara mengerikan. Namun jika "target" ada di kelas A, aku ingin mendiskusikan apa yang sebaiknya kita lakukan setelah itu."
Ichinose menyerang balik secara berani terhadap rencana Katsuragi dengan membentuk aliansi antara tiga kelas yang tersisa.
"Aku masih belum bisa mempercayai mu."
Kata Yukimura pada Ichinose. Manabe dari kelas A tampaknya juga sependapat dengan Yukimura.
"Sekalipun "target"ada di kelas A, kenapa itu sulit untuk mengenali mereka?"
"Aku pikir kita tidak perlu memikirkannya terlalu jauh sekarang, saat ini, persempit dulu kelas yang mungkin ada "target"di dalamnya, itu cukup bukan?" Ichinose membalas.
Jika kau melihat ini dari sudut pandang "target", ide dari ketiga kelas yang bergabung untuk menemukan keberadaan dirinya akan sangat menakutkan.
"Ini hanya usulan ku pada awal diskusi. Jika kita melanjutkan pembicaraan kita, tentunya ide yang lebih baik akan muncul. Maksudku, ujian baru saja dimulai. Kita bisa menggunakan waktu kita untuk memutuskan ide siapa yang akan diambil atau tidak." Ichinise melanjutkan.
Pertama-tama, tidak ada seorang pun yang bisa berdebat terhadap usulan Machida ataupun Ichinose karena tidak ada orang lain yang bisa memberikan usulan. Seperti yang Hamaguchi katakan, itu tidak akan adil bagi mereka menolak usulan tanpa memberikan usulan yang lebih baik. Untuk sekarang, aku tidak perlu terburu-buru tanpa memastikan terlebih dahulu bagaimana orang lain akan bertindak. Lagipula, orang dengan kemampuan komunikasi rendah akan cenderung terbawa arus dalam situasi seperti ini.
"Kau adalah Karuizawa, kan? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."
Gadis dari kelas C yang bernama Manabe memanggil Karuizawa. Karuizawa sendiri tampaknya tidak mengira namanya akan disebut disini, dan dengan segera dia berpaling dari ponselnya.
"Apa?"
"Mungkin ini hanya kesalahpahamanku, tapi selama liburan musim panas, apa kau bertengkar dengan Rika?" Tanyanya.
"Hah? Apa maksud mu? Siap itu Rika?' Karuizawa bertanya.
"Dia dari kelas kami. Orang yang mengenakan kacamata, dia menggulung rambutnya seperti dango, apa kau tidak mengingatnya?" Balas Manabe padanya.
"Tidak, kau salah orang."
Karuizawa mengacuhkan mereka seolah tidak ada hubungan apapun dengannya dan menatap kembali pada layar ponselnya. Namun kata-kata Manabe selanjutnya membuat ekspresi Karuizawa berubah.
"Bukankah ini aneh? Kami mendengar cerita yang berbeda. Bahwa Karuizawa dari kelas D membully Rika kami. Saat itu dia sedang duduk dengan santai di kafe kemudian kau mendorongnya." Kata Manabe.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Apa kau punya masalah denganku?" Karuizawa membalas.
"Tidak terlalu, hanya memastikan. Jika ini benar, aku ingin kau meminta maaf pada Rika. Rika adalah tipe orang yang selalu diam tentang masalah seperti ini, jadi ini adalah tugas kami sebagai teman sekelasnya untuk melindunginya." Kata Manabe.
Tampaknya bukan hanya kelas kami, Karuizawa mempunyai reputasi sebagai pembuat onar di kelas lainnya juga. Aku memalingkan mataku menjauh dari mereka. Lagipula, bahkan kelas C bisa sakit dengan berurusan dengannya. Karuizawa juga mencoba untuk mengabaikan mereka namun sepertinya itu malah membuat Manabe marah.
Manabe kemudian mengambil ponselnya dan menunjuk sebuah kemera pada Karuizawa.
"Kalau begitu kau tidak keberatan jika aku memastikannya sekali lagi dengan Rika, kan? Jika kau tidak melakukan apa pun, maka tentunya kau tidak masalah dengan itu, kan?"
Dan pada waktu itu, Karuizawa tiba-tiba berdiri dan merebut ponselnya dari tangan Manabe. Dia menggunakan sedikit paksaan karena ponsel itu melayang ke udara dan jatuh kebawah lantai dengan benturan.
"Apa yang kau lakukan!?" Manabe berteriak pada Karuizawa.
"Ini adalah line ku, jangan mengambil fotoku seenaknya, sudah ku bilang aku tidak melakukannya!"
Kedua pihak saling menolak klaim masing-masing, dan saat argumen mereka memanas, Ichinose menatap mereka seolah mencoba membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Apa yang akan kau lakukan jika ponselku rusak?"
"Apa? Cukup bilang ke sekolah dan kau akan mendapatkan yang baru!" Kata Manabe saat ia mengambil ponselnya dan menatap Karuizawa dengan dendam.
"Ada beberapa foto berharga di ponsel itu." Karuizawa dengan tajam membalas Manabe.
Dua siswa lainnya dari kelas C menyokong Manabe dengan berdiri di depan Karuizawa seolah mengintimidasinya.
"Apa... Apa maksudmu aku orang yang jahat disini?"
"Jika kau benar-benar tidak bersalah, kenapa kau begitu defensif? Biarkan aku mengambil fotomu." Kata Manabe pada Karuizawa.
"Aku... tidak mau."
Aku mengira kalau Karuizawa akan membalasnya lebih keras, namun secara mengejutkan suaranya semakin melemah. Atau lebih tepatnya, meskipun ia mencoba untuk terdengar kuat, aku bisa mendengar ketakutan dalam suaranya. Aau mungkin itu hanya imajinasiku saja.
"Apa kau sedang mencoba menyembunyikan perbuatan mu?"
Manabe mengunci kamera terhadap Karuizawa seolah memaksa untuk mengambil gambar darinya.
Para gadis dari kelas C menonton pertunjukan ini sementara dengan kejam tertawa seolah menikmatinya. Hanya siswa kelas C sisanya, Ibuki, yang mengambil sikap berbeda dan tidak ikut bergabung. Dia menatap Manabe seolah jijik namun tidak menghentikannya.
"Bodoh sekali."
"Bodoh? Apa yang kau maksud? Ini tidak ada hubungannya dengan mu, Ibuki-san. Kau bahkan bukan teman Rika." Kata Manabe pada Ibuki.
"Kau benar, aku tidak ada hubungannya dengan ini, jadi aku hanya mengamati." Kata Ibuki sambil menyilangkan kedua lengannya, mengalihkan pandangan dari adegan tersebut.
Manabe tampaknya tidak menyukai sikap Ibuki padanya, tapi daripada cekcok dengan Ibuki, dia malah mulai menaikan suaranya terhadap Karuizawa. Itu mungkin karena ada hirarki tertentu yang dibangun di kelas C yang mana tingkatan Ibuki berada diatas Manabe.
"Aku tidak peduli, aku akan mengambil fotomu." Kata Manabe.
"Tidak!.. Seseorang tolong katakan sesuatu untuk menghentikannya." Karuizawa menatap Machida dari kelas A dan memohon bantuannya.
"Manabe, jika Karuizawa-san keberatan, maka hentikan." Machida akhirnya bicara.
"I-ini tidak ada hubungannya dengan mu, Machida-kun."
"Itu bukan masalah, dari apa yang aku dengar, sepertinya kau yang salah Manabe. Jika Karuizawa menolak fotonya diambil, itu salah memaksanya melakukan itu. Akan lebih baik jika kau bicara dengan temanmu dulu untuk memastikan ceritamu." Machida menegur Manabe
Tentu saja Machida tepat jika apa yang dikatakannya itu benar. Namun mengambil foto seseorang yang berlawanan dengan keinginannya adalah sebuah pelanggaran. Manabe juga mengakui fakta ini karena saat ia berhadapan dengan argumen itu, dia menarik diri, mekipun tampaknya dia tidak puas dengan hanya berhenti disini.
"H-hentikan menuduh yang aneh-aneh, ya ampun. Dan terimakasih, Machida-kun."
Karuizawa melihat Machida penuh syukur dan berterimaksih. Meskipun dia dari kelas A, bukan berarti dia tidak punya hati. Takemoto dan siswa lainnya tampaknya tidak menunjukan ketertarikan sama sekali.
"Aku hanya melakukan hal yang benar." Kata Machida membalas dengan sedikit tersipu.
Apa mungkin ini adalah permulaan dari kisah cinta antara Machida dan Karuizawa? Namun Karuizawa sudah mempunyai pacar yang bernama Hirata jadi kurasa itu tidak mungkin.
Meski begitu, sepertinya perseturuan antara kelas C dan Karuizawa akan menjadi masalah yang berlanjut di kemudian hari.
Bagian 2
Pada akhirnya, diskusi tidak membuahkan hasil sama sekali. Satu jam telah berlalu dan pengumunan oleh sekolah mengizinkan para siswa meninggalkan ruangan pertemuan. Siswa kelas A adalah yang pertama meninggalkan ruangan.
"Kalian bebas melakukan apapun sesuka kalian."
Dengan kalimat itu, mereka meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakang mereka dengan sebuah bantingan, meninggalkan ruangan dengan keadaan sunyi. Meskipun Ichinose telah menolak rencana Katsuragi, namun pada akhirnya, tidak ada diskusi diantara kami. Apakah dia sedang menyembunyikan sesuatu? Atau apakah dia benar-benar belum memikirkan apapun melebihi itu?
"Yah, akan ada 5 diskusi lagi seperti ini mulai sekarang, jadi mari kita akhiri untuk sesi ini."
Ichinose mengatakan itu dengan suara menyegarkan. Pada dasarnya, tampaknya konsensus yang telah kami capai terlalu menghabiskan waktu kami daripada diskusi itu sendiri. Setelah memproses sedikit informasi, kelas D dan mungkin juga kelas C sudah kelelahan. Mungkin ini bukan ide yang buruk untuk membubarkan diri sekarang.
"Aku akan pulang."
Karuizawa mengatakan itu saat ia berdiri untuk pergi, namun kedua kakinya gemetaran seolah ia menderita kesemutan. Namun dalam paniknya saat meninggalkan ruangan, secara tidak sengaja Karuizawa melangkah diatas kaki Manabe.
"Ow!"
Manabe berteriak kesakitan.
"Ah.. maaf. Aku tidak sengaja."
Karuizawa dengan halus meminta maaf sebelum dengan cepat meninggalkan ruangan.
"Apa..apa-apaan dia!?" Teriak Manabe pada kami.
Dia sepertinya marah karena sakit dan kesal karena sikap Karuizawa lalu melampiaskannya pada kami. Aku segera memalingkan mataku berusaha untuk tidak terlibat.
"Kita juga pergi, aku ingin mendengar kabar dari Hirata."
Karena kelas lain sudah membuat pergerakan mereka, sepertinya Yukimura ingin membuat rencana untuk kelas kami juga. Professor berdiri menanggapi pernyataan Yukimura. Dan pada akhirnya, hanya tiga orang siswa dari kelas B dan Ibuki yang tersisa di dalam ruangan
"Aku lapar lagi, satu jam duduk seperti itu tidakkah membuat kalian lapar juga?" Tanya Professor.
Tidak, tidak, kau lah yang aneh disini. Tubuh macam apa yang kau punya sehingga bisa mencerna semua makanan yang kau makan dalam satu jam. Biasanya, kau akan gendut jika kau banyak makan. Namun aku ragu saranku ini akan mencapai hatinya.
"Hey Yukimura, apa kau memperhatikan bahwa Karuizawa bersikap aneh?" Aku bertanya pada Yukimura segera setelah meninggalkan ruangan. Tapi dia hanya membuat wajah aneh kearahku dan membalas.
"Dia memang selalu aneh." Katanya menegaskan.
Sebuah jawaban langsung, namun itu bukan yang ingin aku dengar, ini hanya intusisiku namun ada sesuatu yang janggal tentang sikap Karuizawa. Professor tampaknya tidak memperhatikannnya. Aku menyalakan ponselku yang aku matikan ketika memasuki ruangan dan disana terdapat pesan dari sakura. Aku memeriksa isinya dan kelihatannya dia ingin bertemu denganku jika aku punya waktu.
"Waktu yang pas."
Aku hanya berpikir tentang menghubungi Hirata dan Horikita untuk menanyakan keberlangsungan diskusi mereka, namun aku mungkin bisa mendapatkan lebih informasi dari Sakura juga.
"Hmmm..dimana harusnya kita bertemu?" Sekarang aku berpikir, tempat janjian kemarin harusnya tidak masalah.
Ketika aku mengirim pesan pada Sakura, aku langsung menerima balasan. Tentunya akan ada keramaian siswa pada saat ini namun jika kami mengabaikan mereka, mereka juga tentu akan mengabaikan kami.
Karena kelompok diskusi pertama baru saja selesai, sebuah kerumunan yang marah menungguku di elevator. Karena hanya 10 orang yang bisa naik dalam sekali angkutan, waktu akan lebih efisien jika aku memakai tangga, kupikir. Dan saat aku turun ke lantai bawah melalui tangga, sebuah pesan baru kuterima di ponselku.
"Sedikit ramai disana jadi aku akan ke haluan kapal...maaf."
"Ah..sepertinya Sakura tidak tahan keramaian."
Aku kemudian mengubah arah dan mulai berjalan menuju haluan juga.
Ini adalah kapal pesiar mewah dengan segala macam fasilitas, namun haluan memberikan pemandangan laut yang luas dari geladak kapal. Sebagai hasilnya, pada waktu ini, ada beberapa siswa disini. Faktanya, tampaknya tidak ada seorang pun saat ini yang membiarkanku memonopoli seluruh area.
Namun bahkan dengan seluruh geladak kapal dimonopoli untuk kami pakai, Sakura masih bersembunyi di pojok dekat tiang menungguku. Itu akan kasar jika aku memanggilnya jadi aku memilih untuk mendekatinya.
"..Aku ingin...bagaimana?"
Itu adalah sebuah suara kecil yang aku dengar darinya, namun aku tidak bisa mendengarnya dengan baik.
"M-maukah kamu...k-kencan ...k-ku."
Sakura sedang bergumam pada dirinya sendiri namun itu tampak mengerikan bagiku.
"Sakura. Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku dengan cepat agar tidak mengagetkannya.
"Toooooooooooooooooouuuu!!!" Sakura berteriak dengan sedikit melompat. Itu benar-benar mengagetkanku.
"S-s-s-s-sejak k-k-k-kapan kamu ada disana?"
"Baru saja." Kataku.
Kekhawatirannya terhadap sekelilingnya hampir mengingatkanku dari seekor hewan kecil yang hati-hati. Namun apakah Sakura bebicara dengan teman khayalannya atau seorang hantu?
"Apa kamu dengar? Apa kamu mendengar apa yang baru saja aku katakan?"
"Sedikit dan terbata-bata. Namun aku tidak mengerti apa yang kamu maksud dengan kata-kata itu."
Sakura tampaknya lega karena aku tidak mendengar apa yang dia katakan.
"Dan? Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" Tanyaku.
"Eeehh....itu....yah oh b-benar. Aku merasa gelisah tentang ujiannya."
Dia kemudian menyerahkan selembar kertas padaku, dan ketika aku mengambilnya dari tangannya, aku melihat diatasnya terdapat daftar nama-nama.
Kelas A: Sawada Yasumi, Shimizu Naoki, Nishi Haruka, Yoshida Kenta
Kelas B: Kobayashi Yume, Ninomiya Yui, Watanabe Kihito
Kelas C: Yuuki Yuuya, Nomura Yuuji, Yajima Mariko
Kelas D: Ike Kanji, Sakura Airi, Sudou Ken, Matsushita Chiaki
Sepertinya Sakura termasuk dalam kelompok (Sapi). Siswa Laki-laki dalam kelompok itu adalah Sudou dan Ike, orang yang tidak simpati dengan keadaan buruk Sakura. Dan dalam ujian ini, seseorang dipaksa untuk menghabiskan waktu dengan teman satu kelompok dari kelas yang sama tidak peduli apa. Jika aku satu kelompok dengannya, mungkin aku bisa membantunya, namun tidak banyak yang bisa kulakukan sekarang.
Sekali waktu kelompok berjuang sebagai satu, mereka tidak diperkenankan menyebar ataupun ragu. Aku juga bisa menolongnya dengan secara rahasia menghubunginya melalui ponsel selama ujian tengah semester, namun jika aku menggunakan sikap tidak biasa ini, aku tentunya akan menarik perhatian ke arahku. Dan dalam ujian seperti ini, sebuah tindakan seperti itu mungjin juga berarti perbedaan antara hidup dan mati.
(Tln: artinya dia gak bisa bantu)
"Kupikir ini akan bagus jika ada seseorang yang aku kenal dari kelas lain untuk membantumu, namun kukira aku tidak punya." Kataku.
Kalau dipikir-pikir, Ichinose dan Kanzaki hanya satu-satunya orang yang bisa kumintai tolong. Namun karena Ichinose sudah termasuk kedalam kelompokku, itu akan sulit untuk membantunya juga. Aku tidak mempercayai Sudo dan Ike, sama sekali.
"Maaf...aku tidak mempunyai teman lain." Kataku padanya.
"Oh, tolong jangan minta maaf, aku tidak mempunyai banyak teman juga." Kata Sakura padaku.
Ini cukup menyedihkan, kami berdua seperti orang yang berkompetisi melawan satu-sama lain untuk melihat siapa yang bisa lebih menyedihkan. Jadi, daripada berbangga diri karena sedikitnya temanku, aku mengganti pembicaraan pada topik yang berbeda.
"Omong-omong, aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu, Sakura." Kataku.
"Eeh? Aku? Apa?"
"Aku penasaran apakah Yamauchi pernah menghubungimu sejak ujian berakhir?" Tanyaku.
"Yamauchi-kun? Tidak, dia tidak melakukannya. Apa ada sesuatu?" Tanyanya.
"Begitu ya."
Kembali saat ujian di pulau itu, agar aku bisa memanfaatkan Horikita, aku secara paksa memanfaatkan Sakura dulu. Untuk memanipulasi Yamauchi, aku berjanji akan memberikan Sakura alamat emailnya sebagai ganti kerjasamanya. Tentu saja, aku tidak ada niat memberikannya alamat email pada Yamauchi tanpa persetujuan Sakura, meski begitu aku belum berbicara lagi dengan Yamauchi sampai sekarang. Aku khawatir dia mungkin telah mendekati Sakura namun kelihatannya kekhawatiranku tidak terjadi.
"Mulai sekarang, jika ada sesuatu di benakmu hubungi aku dulu." Kataku padanya.
"Apakah ini tak apa?"
"Yah, setidaknya itu yang bisa kulakukan untukmu." Meskipun aku memberinya kata-kata ambigu tersebut, mata sakura segera naik seperti anak kecil yang baru saja diberi permen. Mungkin dia hanya senang berinteraksi denganku seperti ini.
"Kalau begitu aku akan menghubungimu!" Pernyataannya padaku.
"Tentu."
Berbeda dari sosok Sakura biasanya, saat ini ia tampak penuh dengan kehidupan dan semangat. Sepertinya ia sudah belajar untuk lebih agresif setiap hari. Meskipun hanya beberapa hari setelah berakhirnya ujian di pulau itu, Sakura telah tumbuh menjadi cukup kuat. Karena itu adalah ujian yang gila, tampaknya itu telah memberikan dampak besar pada gadis sekolah seperti Sakura. Dia belum benar-benar berubah, namun dalam situasi seperti ini, dia sudah belajar untuk tetap berpikir positif.
Bagian 3
"Aaaaaaayyyyyyaaaaaoooooooookkkkkoouuuuuujiii"
Dan segera setelah aku kembali ke dalam kapal, sebuah bayangan menangkapku. Dengan kedua tangannya melayang diatas leherku, dia datang terburu-buru seolah panik. Tampaknya ini adalah situasi yang serius. Itu adalah apa yang kulihat saat aku berbalik, aku melihat sosok Yamauchi Haruki, teman sekelasku yang sekarang mengambil bentuk seorang iblis Ashura.
"Ada apa? Tanyaku.
Tentu saja, aku sudah tahu apa alasannya namun tetap bertanya padanya sebagai formalitas.
"Kenapa tanya? Kau berjanji akan memberiku alamat email Sakura, bagaimana dengan itu?"
Sayangnya, aku telah tertangkap oleh Yamauchi sekarang, aku sebaiknya memikirkan sesuatu.
"Aku tidak ada maksud apapun padamu, tapi aku hanya ingin tahu." Katanya.
"Apa kau benar-benar berpikir seorang penyendiri sepertiku akan tahu alamat email Sakura?" Aku berusaha menjelaskannya dengan suara tulus berharap dia akan mengerti.
"Mungkinkah?.. apa kau sedang berusaha memintanya pada Sakura... barusan?" Tanyanya padaku.
Aku mengangguk, wajah Yamauchi segera hancur menjadi shock dan jatuh dengan kedua kakinya diatas lantai.
"Itu berarti.. kau tidak tahu alamat emailnya... dan kau masih memanfaatkanku?" Tanyanya padaku.
"Sepertinya aku harus bilang iya." Aku mengaku.
"Dan apa yang terjadi, apa Sakura memberimu alamat emailnya?"
"Maaf.." Aku minta maaf padanya.
"Maaf, apa maksudmu maaf? Aku tidak memintamu minta maaf, kan?" Kata Yamauchi padaku.
Sebuah jawaban tanpa ekspresi itu mencerminkan kekecewaanya padaku.
"Beraninya kau... beraninya kau membohongikuuuuuuu!!!" Yamauchi berteriak padaku.
Aku tidak berpikir telah melakukan hal buruk dengan memanfaatkannya seperti itu, namun aku masih tidak bisa memberinya alamat email Sakura tanpa persetujuannya. Sekalipun ia memintanya secara langsung, Sakura akan langsung menolaknya secara terang-terangan.
"Bisa kau memberiku beberapa waktu?" Tanyaku padanya.
"Waktu apa? Seorang pembohong adalah awal dari seorang pencuri." Katanya padaku.
Bahkan diantara semua kelas D, aku tidak pernah membayangkan orang pertama yang memanggilku pembohong adalah Yamauchi. Ini membuatku kaget.
"Lalu, apa kau akan secara paksa memintanya pada Sakura?" Tanyaku padanya.
"Yah, aku akan melakukan itu "
Sepertinya dia dikuasai oleh amarah dan tidak berpikir jernih, ia berniat mendapatkan alamat email Sakura secara paksa bila perlu.
"Sakura bilang dia membenci orang yang hanya bisa bicara."
"Itu gara-gara kau, Ayanokouji."
"Yah, mau gimana lagi jika sekarang kau membenciku, namun itu jelas kenapa dia tidak memberiku alamat emailnya. Karena meminta alamat emailnya secara paksa tidak ada gunanya." Kataku padanya.
"..Jadi itu alasannya. Kau sejak awal tidak pernah tahu alamat emailnya kan?"
Yamauchi menundukan kepalanya sementara menghindari tatapannya dariku.
"Tapi kau tahu kalau Sakura mempunyai kamera digital kan? Sebenarnya, aku dengar dia adalah seorang model lepas namun tidak punya cukup poin untuk membeli yang baru, lihat? Jika kau Yamauchi, membelikannya kamera digital yang baru, itu akan menjadi hadiah yang hebat untuknya, tidakkah kau setuju?" Kataku padanya.
"Ohhh... kupikir itu hebat... tapi aku juga tidak mempunyai poin." Dia akhirnya mengaku.
"Kau tahu, dalam ujian ini, dengan menyembunyikan "target", menjadi seorang penghianat, ataupun melindungi kelompokmu bersama-sama demi kemenangan kau bisa dengan mudah mendapatkan cukup poin untuk membelikannya kamera digital, apa aku salah?" Kataku pada Yamauchi.
"J-jadi, jika aku bekerjakeras, masih ada kesempatan bagiku untuk dekat dengan Sakura?"
Sekarang aku telah memastikan hanya ada satu keputusan yang akan Yamauchi ambil.
"Mulai sekarang, kau, Yamauchi Haruki, harus bekerjakeras untuk menunjukan kejantananmu. Itu adalah satu-satunya cara agar kau bisa dekat dengan mantan Idol Sakura." Aku mendorongnya.
Ada kemungkinan dengan merangsangnya seperti ini, dia akan bekerja dengan seluruh potensinya dan mencapai hasil yang lebih baik dalam ujian ini.
"Akan kulakukan. Akan kulakukan. Akan kulakukan! Aku akan bekerja keras dan membuat Sakura menjadi milikku.!!" Kata Yamauchi dengan penuh semangat.
(Tln: idiot -_- )
"Benar Yamauchi, kau bisa melakukannya. Jika itu dirimu, kau pasti akan berhasil." Aku mendorongnya.
"Oooooooooohhhhhhhhh! Aku yakin akan menang dalam ujian ini!"
Entah bagaimana sepertinya aku berhasil mengubah kemarahannya ke arah yang lebih baik demi ujian ini. Mungkin kemarahannya ini akan kembali ketika ujian berakhir namun sepertinya untuk sekarang aku telah berhasil menghindari masalah.
"Kukatakan padamu jika ini terjadi tapi..." Aku putuskan memberitahu ini demi dirinya.
"Apa?" Tanyanya padaku.
"Tidak ada. Tapi jika kau menemukan "target" di kelompokmu, jangan biarkan kelas lain menghajarmu."
"Tentu saja aku tidak akan"
Meski begitu, akan lebih baik jika Yamauchi tidak menemukan "target". Bagaimanapun juga, keuntungan jangka panjang selalu ada diatas keuntungan jangka pendek.
Bagian 4
Karena sebuah fakta bahwa hanya kelas A yang mendapat jaminan 'pilihan pendidikan dan pekerjaan di masa depan' setelah kelulusan, tentunya akan sulit bagi kelas lain untuk bekerjasama dengan mereka. Kelas B dan kelas D memangku tangan untuk mengalahkan kelas C dan kelas A. Itu juga berarti, sebaliknya, kelas C dan kelas A bisa membentuk sebuah aliansi untuk mengalahkan kelas B dan kelas D.
Dengan pemikiran seperti itu sebagai landasan, ketika semua kelas dipaksa kedalam satu kelompok, apa yang akan terjadi? Itu seperti menempatkan karnivora dan herbivora dalam satu kandang yang sama. Tidak ada cara yang layak untuk mengatur kelompok seperti itu. Namun, dengan peluang murni, itu mungkin untuk menyatukan bahkan antara kelas seperti itu agar terjadi. Selama orang-orang dengan kepribadian kuat seperti Hirata atau Ichinose yang mengambil kepemimpinan.
Meski begitu itu masih tugas yang sulit. Kelas A tidak berpartisipasi dalam periode diskusi kedua. Namun sejak kelas A yang secara terang-terangan tetap diam, itu juga mustahil bagi kelas lainnya memiliki diskusi yang serius dan waktu perlahan berlalu dalam keheningan.
Aku mulai memperhatikan bagaimana siswa dari kelas lain akan bereaksi. Bukan berarti setiap orang disini memiki maksud buruk, namun kebanyakan siswa tetap menjaga diri mereka untuk berusaha tinggal di sisi yang aman.
"Jadi untuk sekarang, karena ini adalah diskusi kedua kita, aku pikir kita sebaiknya sesegera mungkin mengambil keputusan karena waktu berkumpul seperti ini sangat terbatas."
Ichinose mengambil inisiatif sekali lagi. Seperti yang diharapkan dari kedamaian kelas B. Hamaguchi dan siswa kelas B lainnya juga tentu sama. Selalu berusaha memulai aliansi tanpa keraguan.
Itu hampir seperti melihat Hirata. Namun, tidak seperti Hirata, Ichinose dan kelompoknya akan tentu menekankan kemenangan kelas B dalam ujian ini. Dan karena siswa lainnya masih dalam pengawasan mereka, suasana berat jatuh pada kami.
Semua orang menjadi semakin mencurigakan, kekhawatiran secara alami meningkat. Namun, tiga siswa dari kelas A dibebaskan dari kekahawatiran semenjak mereka dengan santai menekan-nekan ponsel mereka. Lagi pula, tidak ada peraturan yang menyebutkan tidak boleh membuat kontak dengan kelompok lain.
Kaya adalah kaya dan miskin adalah miskin, tidak lagi yang lainnya. Kelas A bisa tetap santai karena mereka mendominasi hampir seluruh kompetisi bagaimanapun juga. Aku membayangkan kekalahan mereka selama ujian di pulau itu akan membuat sikap mereka berubah namun tampaknya Katsuragi berusaha menjaga imej "tenang" bagi kelas mereka untuk kelas lainnya. Dan jika memikirkannya dengan hati-hati, itu memang strategi yang sangat efektif.
Dan terutama bagi orang yang bekerja sendirian sepertiku, aku tidak bisa menembus tembok yang telah kelas A bangun.
"Aku tidak terlalu berpikir kita perlu menerobos sekarang, namun aku setuju dengan perlunya diskusi. Kelas A mungkin berusaha melepaskan diri dari semua ini, tapi aku percaya perlunya kita untuk menemukan "target"." Kata Yukimura seolah setuju dengan Ichinose.
Memang, jika "target" berada si kelas lain, ini adalah peluang yang tidak boleh disia-siakan. Atau mungkin sikapnya itu adalah kamuflase yang menyembunyikan bahwa Yukimura sendiri adalah "target" .
"Tapi bisakah kita benar-benar menemukannya dengan hanya diskusi? Aku tidak berpikir begitu. "Target" sulit ditemukan, lebih tepatnya ujian itu sendiri sulit." Karuizawa yang bicara.
"Aku mengerti kekhawatiran mu, Karuizawa-san. Tapi bukankah ini hanya masalah sudut pandang? Ujian di pulau itu dan ujian saat ini, keduanya dimaksudkan sebagai 'surprise' bagi para siswa, tidakkah kamu setuju?"
"Surprise?" Tanya Karuizawa.
"Jika itu sunrise, maka kau bisa menyerahkannya padaku. Itu adalah spesialisasiku. Mo-e-a-g-a-r-e!!!"
Professor tiba-tiba berteriak. Sepertinya dia telah salah paham. Bukan sunrise, dia bilang suprise.
"Tinggal di kapal seperti ini menyenangkan bukan? Kamu bisa mengobrol atau bermain dengan ponselmu sesukamu, sekalipun kau dipaksa menghadiri diskusi untuk dua jam per hari. Kau masih bebas melakukan yang kau mau."
"Yah, ini menyenangkan."
"Benar kan? Itulah kenapa kita perlu bicara lebih nyaman lagi, seperti sebuah kelompok pertemanan. Kamu hanya akan menderita jika kamu mengurung dirimu di penjara seperti Machida-kun disana." Ichinose mencoba meyakinkan Karuizawa.
Tentunya jika kau tidak memandangnya sebagai 'ujian' namun sebagai 'liburan' itu akan lebih mudah untuk berdiskusi diantara anggota kelompokmu. Ini hanya masalah sudut pandang seperti yang Ichinose katakan, karena semakin berpikir positif dirimu, akan semakin mudah untuk menyelesaikan ujian.
Namun setelah mendengar apa yang baru saja Ichinose katakan, Machida mulai tertawa.
"Kalian bebas melakukan apapun sesuka kalian, tapi kalian tidak seperti mencari "target" dengan cara ini. Aku tidak tahu dimana "target" berada namun jika dia tidak bekerjasama dengan teman sekelasnya, dia tentu akan membuat keputusan untuk tetap bersembunyi agar mendapatkan poin dengan cara ini. Dan mungkin "target" benar-benar ada di kelas B. Itu tidak mustahil. Bisakah kalian mempercayai mereka?" Tanya Machida.
Cara bicaranya seolah berniat untuk menggoyahkan hati para siswa yang berkumpul disini
"Hal yang sama juga bisa terjadi untukmu, Machida-kun." Kata Ichinose padanya.
"...Tentu saja."
Untuk beberapa saat, Machida memalingkan mata dari Ichinose. Lebih tepatnya, matanya bertanya-tanya pada seorang siswa bernama "Morushige" yang duduk di sebelahnya. Namun kemudian dia berpaling dan melirik Ichinose dan sekali lagi memancarkan imej "tenang" kelas A untuk semua anggota kelompok.
"Kami tidak peduli siapa yang menjadi "target", kami tetap mendapatkan 100.000 poin yang diberikan pada kami tiap bulannya, tidak ada satupun di kelas kami yang tertarik dengan 500.000 poin hadiah dalam ujian ini." Kata Machida.
"Benarkah? Jadi kamu mau bilang padaku kalau kalian bahkan tidak menginginkan 1 poin ekstra? Ini bukan berarti sekolah memaksakan batas jumlah poin yang kamu miliki lho." Jawab Ichinose.
"Itu bodoh. Kau bisa mengkhayal semaumu, tapi jangan menuduh kami sembarangan seperti itu." Jawab Machida ketus.
Ichinose, yang hanya tetap tersenyum sepanjang argumen Machida, menebarkan kesan padaku sebagai lawan yang sulit. Meskipun Machida sudah membuat pernyataan dia tidak akan berpartisipasi dalam diskusi, dia masih terpancing oleh Ichinose agar menjawab. Dan selama dia bicara, informasi tentu akan bocor dari mulutnya. Dengan menggunakan Yukimura dan Karuizawa untuk memprovokasi Machida, Ichinose telah secara terus-menerus mengumpulkan informasi dari kelas A sepanjang waktu. Aku penasaran apakah Machida menyadari ini.
Sementara itu, Karuizawa hanya menghela napas dan bermain-main dengan ponselnya. Tidak ada peraturan yang melarang seseorang menggunakan ponselnya selama periode diskusi ujian tapi itu langkah yang buruk baginya sementara konsensus adalah untuk menemukan "target". Atau apakah Karuizawa benar-benar bagian dari CIA atau FBI dan sedang menyampaikan informasi ke Hirata via ponselnya? Jika begitu, aku sangat memujinya... namun aku meragukannya.
Tentu saja karena Karuizawa tidak pernah serius dalam melakukan sesuatu, jadi sikapnya itu bisa dibilang normal, namun pernah sejak ujian dimulai, aku memperhatikan ada yang aneh dengan Karuizawa.
Dia bersikap berbeda, lalu pertemuannya kembali dengan Ibuki dan pertengkarannya dengan kelompok Manabe. Aku menyadari sesuatu. Itu bukanlah sikap Karuizawa "biasanya". Di kelas D, entah reputasinya jelek atau tidak, tidak ada yang menyangkalnya, selama dia bersama Hirata, mengemban kelas besama-sama sebagai satu.
Dia normalnya akan membawa kami bersama-sama bersatu untuk menyelesaikan ujian ini, entah kami memiliki kemampuan untuk itu atau tidak, namun dia tidak pernah menunjukan tanda-tanda akan hal itu. Hirata adalah Hirata tidak peduli dimana dia berada, dan Kushida juga tetap menjadi Kushida. Namun Karuizawa benar-benar berbeda. Atau mungkin dia merasa rendah berhadapan dengan Manabe dan kelompoknya, yang tingkat mereka berada diatas dalam sistem kasta sekolah. Apa yang kami butuhkan untuk kelas D untuk naik saat ini bukan hanya mengumpulkan poin. Dibandingkan kelas A dan kelas B, kelas D masih kurang kekompakan.
Karuizawa Kei, yang sangat diperlukan untuk kekompakan tersebut, adalah seorang sosok yang mengontrol para gadis dari kelas D. Itu adalah penilaianku saat ini. Aku perlu memastikan apakah dia akan menjadi sosok yang berguna atau tidak berguna bagiku. Aku tidak bisa menyia-nyiakan waktuku mengingat bahwa waktu ujian itu sendiri singkat. Tergantung keadaan, aku mungkin harus memaksanya.
Segera setelah satu jam berlalu, kelas A meninggalkan ruangan. Tampaknya mereka berniat mempetahankan diam mereka sampai akhir. Ichinose menghela napas dan bicara.
"Yah.. Aku kira ini akan menjadi ujian yang sulit. Bagaimana denganmu, Ayanokouji-kun? Apa menurutmu ini sulit?' Tanyanya padaku.
Orang yang memanggilku seperti itu, secara mengejutkan adalah siswa yang bernama Ichinose Honami. Gadis yang memimpin kelas B.
Dia selalu tenang, pintar dan kolektif. Dia tampaknya telah memperhatikan bahwa aku belum memberikan pendapat apapun mengenai ujian dan memanggilku. Jika aku kebetulan satu kelas dengannya, aku akan jatuh cinta dengannya. Dia sangat menawan.
(Tln: Ini serius lho, teks Inggrisnya emang begini "If I happened to be in the same class as her, I would have fallen in love with her")
Tidak hanya kelas B, anak laki-laki dari kelas lainnya tentunya telah jatuh cinta padanya juga. Dalam tingkat kepopuleran, Ichinose dan Kushida tentunya akan menjadi saingan langsung.
"Sejujurnya, aku adalah tipe orang yang duduk di belakang dan santai dalam ujian seperti ini." Jawabku.
"Ini terlalu awal untuk menyerah, mari bekerjasama demi poin dengan arah yang positif!" Ichinose menyemangatiku.
Sepertinya dia sudah memutuskan untuk berjuang keras sekarang.
"Meskipun kita melanjutkan diskusi, aku ragu "target" akan dengan mudah memberikan identitasnya pada kita. Bagaimanapun, keuntungan dari menyembunyikan dirinya melebihi kerugian dari mengungkapkan identitasnya. Jika sesuatu berakhir buruk, skenario yang kelas A telah prediksi akan menjadi kenyataan." Kata Ichinose.
Meskipun dia mengatakan komentar negatif seperti itu, mata Ichinose tidak kehilangan keyakinannya. Diantara berbagai pemikiran yang kupunya mengenai dirinya, aku tidak bisa menemukan bagaimana dia bisa mempertahankan sikapnya ini melalui segala kesulitan.
"Bagaimanapun juga, ini adalah akhir diskusi kita untuk hari ini. Kerja bagus, kalian berdua."
"Tidak begitu, Ichinose-san, kami tidak banyak melakukan apapun."
Ichinose berbalik kepada teman sekelasnya setelah itu. Aku telah memperhatikannya untuk hari ini, namun aku belum bisa memastikan tujuan Ichinose yang sebenarnya. Namun setidaknya kelompok kami masih membuat hasil dengan cara seperti ini. Dia mungkin sedang merancang sebuah strategi yang tidak boleh orang lain tahu tentang semua yang kutahu. Ketika Manabe dari kelas C dan teman-temannya berdiri untuk meninggalkan ruangan, aku mengejar mereka, aku dengan santai memanggil Manabe.
"Kau punya waktu?" Tanyaku padanya.
Setelah dia memperhatikanku, dia dengan cepat mengembalikan kewaspadaannya karena dia hampir tidak menyangka bahwa aku akan memanggilnya seperti itu.
"Aku telah mendengar pertengkaran mu dengan Karuizawa. Sesuatu tentang mendorong seseorang di kafe atau semacam itu." Kataku padanya.
"Dan? Apa ada masalah dengan itu?" Balasnya ketus.
Normalnya, dia tidak akan menunjukan ketertarikan apapun padaku, namun ketika aku mengangkat topik ini, ketiga gadis lainnya juga memfokuskan perhatian padaku.
"Aku tidak 100% yakin, tapi kupikir aku melihat Karuizawa mendorong temanmu di kafe." Kataku padanya.
"B-benarkah?" Manabe bertanya padaku dengan kaku.
Aku mengangguk.
"Yah. Aku tidak menyukai sikap dia sebelumnya, jadi kupikir aku ingin memberimu sebuah bantuan." Aku mengaku padanya.
Aku menyulut api dari pertengkaran antara Karuizawa dan gadis-gadis dari kelas C secara terang-terangan. Sejujurnya, aku tidak melihat Karuizawa melakukan sesuatu seperti iti, tapi aku berbohong untuk menciptakan situasi ini. Sekarang, Manabe dan teman-temannya tidak akan ragu mengambil tindakan pada Karuizawa. Aku sangat senang menantikan bagaimana Karuizawa akan menanggapi hal ini, dan bagaimana dia akan berubah...
Ketika aku kembali ke kamarku, waktu sudah larut dan aku pun menjatuhkan diriku ke atas kasur tanpa berbicara dengan siapa pun. Setelah waktu mendekati pukul 00.00, kupikir aku sudah tertidur namun kemudian aku mendengar sebuah suara. Itu adalah Hirata yang menatapku dengan gelisah. Yukimura juga, tengah duduk di sofa yang dipasang di kamar kami.
"Kerja bagus di luar sana, Ayanokouji-kun. Apa tidurmu nyenyak?" Katanya padaku.
"Yah, omong-omong, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Hirata."
"Kamu pasti lelah, tapi kupikir tidak masalah jika sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu." Hirata bicara pada waktu dan hal yang percis sama denganku.
"Hmm? Kamu ingin menanyakan sesuatu juga padaku?" Tanya Hirata.
"Tidak, aku akan mendengarmu dulu. Pertanyaanku bukan sesuatu yang penting."
Yukimura tampaknya juga ingin menanyakan sesuatu, mungkin itu sesuatu yang berhubungan dengan ujian kali ini. Jika aku menolaknya sekarang, suasana di dalam ruangan akan menjadi canggung.
Setelah mengenakan kaosku, aku berjalan ke arah mereka berdua. Hirata sedikit bergeser supaya memberiku ruang agar aku bisa duduk di atas sofa juga. Aku ingin bertanya pada Hirata apakah dia mempunyai informasi tentang orang yang bernama Sakayanagi namun itu tidak masalah jika aku mendengarkan dia dulu.
"Aku telah meminta saran mengenai ujian pada Yukimura-kun, jadi kupikir aku akan memberitahumu juga." Kata Hirata padaku.
"Meskipun aku sudah bilang supaya tidak melibatkanmu agar tidak mengganggumu tidur." Dia menambahkan.
Kukira Koenji yang satu kamar dengan kami tidak tertarik dengan pembicaraan seperti ini sama sekali. "Sorry Hirata Boy, saat ini aku sedang menyempurnakan keindahan fisikku." Adalah apa yang dia katakan.
Koenji, dengan tubuh bagian atasnya yang telanjang, secara berulang kali melakukan push up di dalam kamar. Dia sepertinya sedikit berkeringat namun itu tidak tampak mempengaruhinya sama sekali. Itu bukanlah sesuatu yang siswa biasa bisa lakukan. Namun Koenji bahkan seyogyanya berpartisipasi dalam ujian ini, kupikir.
Hirata menjawab seolah mengetahui secara tepat apa yang sedang kupikirkan.
"Koenji-kun sebenarnya berpartisipasi dalam kelompok. Lagi pula, poin akan menurun jika dia tidak ikut serta." Kata Hirata memberi tahu.
"Aku sebenarnya menerima kabar dari teman-teman bahwa dua teman sekelas kita terpilih menjadi "target" lho!!" Kata Hirata pada kami.
"Apa? Itu berarti---."
"Tapi aku tidak bisa memberi tahu kalian, mereka hanya memberitahuku karena mereka bilang mereka mempercayaiku."
"Apa kau mau bilang kalau kami tidak bisa dipercaya, Hirata? Jika kau tahu, aku juga harus mengetahuinya. Lagipula, jika kita tahu siapa yang menjadi "target", kita mungkin bisa mendapatkan petunjuk agar menyelesaikan ujian ini lebih baik. Selain itu, merupakan hal yang wajar bagi teman sekelas untuk saling berbagi informasi." Kata Yukimura pada Hirata.
"Yah.. itulah kenapa aku juga berpikir untuk meminta saran dari mu.. itulah kebenarannya." Kata Hirata.
Jadi itulah alasan kenapa ia ingin bicara dengan kami seperti ini, dia sudah tahu siapa yang menjadi "target".
"Hey Hirata, akan lebih baik jika kau memberutahu kami lewat ponsel, tidak ada jaminan orang lain tidak akan mendengarnya." Kataku padanya.
"Kamu benar, tunggu sebentar." Kata Hirata pada kami.
Dia kemudian menyalakan ponselnya dan membalikannya ke arah kami. Kushida dari kelompok (Naga) dan Minami dari kelompok (Kuda). Mereka berdua adalah yang terpilih menjadi "target".
"Jadi begitu." Kata Yukimura tanpa menambah satu patah kata pun.
Karena Kushida adalah "target", kami mungkin mendapatkan keuntungan untuk berkompetisi dalam kelompok (Naga). Namun fakta bahwa "target" berasal dari kelas kami, itu juga merupakan pemikiran yang menakutkan. Itu akan lebih baik jika "target" berasal dari kelas lain.
"Jangan khawatir, segalanya berjalan dengan baik." Hirata meyakinkanku dengan wajah percaya diri.
Ada tiga anggota dari kelompok (Naga) yang berasal dari kelas kita dan mereka semua adalah orang-orang yang bisa diandalkan dan tidak akan menghianati kita apapun yang terjadi, dia seolah mengatakan itu.
"Bahkan dalam kelompok (Kelinci), masing-masing kelas mempunyai peluang yang sama untuk mendapatkan "target" diantara mereka. Oleh sebab itu, pastinya kelas D mempunyai 3 "target". Kemungkinan seseorang di kelas kita sedang menyembunyikan identitasnya sampai sekarang."
"Yah. Yukimura-kun benar. Kemungkinan dia lebih memilih untuk cari aman. Lagi pula, memberitahu orang lain tentang identitasnya akan meningkatkan resiko ditemukan." Kata Hirata.
Sementara kami serius berdiskusi, Koenji mulai menyanyi dari seberang ruangan. Setelah bersabar untuk beberapa saat, Yukimura tampaknya sudah kehabisan kesabaran pada Koenji setelah mendengarnya bersenandung seolah tiada akhir.
"Koenji, bisa kau berhenti? Aku tidak memintamu untuk serius tapi setidaknya ikutilah ujian ini hingga akhir. Jangan tiba-tiba kabur seperti ujian di pulau itu."
"Itu tidak bisa dicegah, saat itu tubuhku sedang sakit, aku tidak bisa melakukan hal yang mustahi."
"Geh... itu hanya pura-pura sakit."
"Tapi karena ujian akan berlangsung dua hari lagi, itu memang terdengar merepotkan." Koenji melanjutkan push up-nya saat ia mengatakan itu sebelum dia bangkit dan menaruh handuknya di atas kasur.
"Merepotkan? Kau bahkan tidak memikirkan ujian sama sekali." Kata Yukimura menuduh Koenji.
"Tidak ada gunanya melanjutkan ujian yang tidak menarik ini. Lagi pula, ini hanyalah kuis sederhana untuk menemukan seorang pembohong." Kata Koenji padanya.
Dia kemudian mengetuk-ngetuk ponselnya untuk beberapa saat. Lalu tiba-tiba, ponsel milik kami semuanya berdering secara bersamaan menerima email dari sekolah.
"Koenji, apa yang kau lakukan?" Yukimura berteriak padanya.
Kemudian, aku dan Hirata cepat-cepat memeriksa email dari ponsel kami. Isinya adalah:
"Ujian untuk kelompok (Monyet) telah berakhir. Para siswa dari kelompok (Monyet) tidak perlu lagi ikut berpartisipasi. Tolong hati-hati dan jangan mengganggu siswa lainnya."
"Kelompok (Monyet) bukannya milikmu, Koenji!!"
"Tepat sekali. Sekarang aku telah mendapatkan kembali kebebasanku. Audie." Koenji dengan santai melempar ponselnya dan menghilang ke kamar mandi, meninggalkan kami semua dengan kekagetan.
"J-jangan bercanda! Kita semua melakukan usaha terbaik kita tapi orang itu---"
"Kita masih belum tahu, mungkin dia melakukan sesuatu...."
"Itu mustahil, dia hanya melakukan itu untuk mendapatkan kembali kebebasannya sesegera mungkin." Kami semua beraksi atas kabar ini.
Aku sendiri tidak berpikir Koenji serius mengikuti ujian ini. Namun, dia sangat cerdas dan kemampuan pengamatannya sangat luar biasa. Jika apa yang dia katakan tentang ujian adalah "mencari seorang pembohong" itu benar, dia mungkin sangat tepat. Tindakan Koenji jadi diketahui semua siswa karena ponsel Hirata mulai berdering-dering menerima pesan yang membanjri kotak emailnya.
Pesannya dipenuhi oleh suara dari para siswa yang yang dikejutkan oleh kabar itu. Aku yakin Katsuragi, Ryuuen dan Ichinose juga akan terkejut dengan ini. Tidak ada seorang pun yang mengira seorang 'penghianat' akan muncul di hari pertama ujian. Horikita juga mengirim pesan ke ponselku.
"Maaf. Segalanya tampak membingungkan, aku akan menghubungimu sekarang." Adalah isi pesannya.
"Cih. Berkat Koenji, hal-hal telah meningkat diluar diskusi sederhana."
"Aku akan keluar sebentar."
Sepertinya Yukimura tidak akan bisa tidur setelah dibuat jengkel oleh tindakan Koenji seperti itu. Setelah memastikan diskusi telah mati, aku dengan segera meninggalkan ruangan.
Meskipun tindakan Koenji telah mengakhiri salah satu kelompok ujian, aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini. Sejujurnya, tindakan ku akan dibatasi dalam ujian ini. Sekalipun aku telah membuat rencana, masih akan sulit membimbing semua kelompok yang tersisa demi kemenangan kelas D. Kau bahkan bisa menyebutnya tugas yang mustahil. Jika semua siswa bekerjasama saling berpangku tangan mungkin itu bisa dilakukan, namun itu tidak terjadi.
Aku tidak bisa ikut campur dengan jawaban kelompok lain menggunakan ponselku. Ada metode lain namun tidak ada waktu dan taruhannya sangat tinggi. Jika aku mempunyai informasi yang benar-benar bisa membalikan keadaan. Orang yang memegang kunci untuk itu adalah Hirata dan Kushida dari kelas D.
"Ini mustahil."
Ada tiga hari tersisa termasuk hari libur. Hal yang mustahi tetap saja mustahil. Sekalipun aku mendapatkan kerjasama mereka berdua, aku masih tidak mempunyai cukup mata dan telinga di pihakku. Aku tidak tahu apa yang terjadi tentang diskusi kelompok lain di luar sana. Tentu saja, memasukan Horikita dan Sakura, mungkin masih ada kemungkinan yang tersisa. Sesuai dugaan, aku membutuhkan lebih banyak lagi mata dan telinga dalam ujian ini.
Bagian 6
Langit penuh bintang membentang di depan mataku. Saat ini, aku berada di geladak kapal mencoba untuk mencari udara segar.
"Ini menakjubkan.."
Jauh lebih luas dari apa yang biasa kami lihat dari buku atau pun gambar. Sangat cantik. Ini adalah bagian dari pemandangan malam yang tidak bisa kau temukan di kota-kota besar. Ada juga beberapa siswa dan siswi yang menikmati langit berbintang sambil saling berpegangan tangan dan menggenggam bahu. Aku merasa sedikit terkucilkan saat melihatnya. Karena gelap dan hanya ada sedikit cahaya, aku tidak bisa melihat wajah mereka. Lagipula aku tidak terlalu peduli dengan momen romantis seperti itu.
Namun diantara siswa yang memandang langit malam, ada seorang gadis yang berdiri sendirian dalam siluet.
"Tidak, tidak." Sekalipun aku memanggilnya sekarang, aku tidak bisa dengan santai mengatakan 'kenapa kita tidak memandang bintang bersama-sama' dan mencoba mengajaknya dengan cara itu. Aku tidak ingin di sana ketika pacarnya datang. Namun aku tertarik untuk mengetahui siapa gadis itu jadi aku putuskan mendekatinya.
"A...a...Ayanokouji-kun?"
"Suara itu...Kushida?".
Dan gadis itu, Kushida, muncul dari kegelapan dengan wajah terkejut melihatku.
"Apa kau... sendirian?"
Kemungkinan Kushida disini untuk menemui pacarnya. Memikirkan itu membuat dadaku sesak dan sakit.
(Tln: Ingrisnya "Thinking that made my chest tighten and hurt" jadi udah fix, Ayanokouji bukan tanpa emosi seperti robot)
"Yah. Aku sekarang tidak bisa tidur." Katanya padaku.
"Oh, begitu."
Jadi dia disini bukan untuk kencan malam dengan pacarnya sama sekali. Aku merasa lega setelah mengetahuinya. Tampaknya Kushida baru saja keluar dari kamar mandi, ada bau yang sangat mengénakan berasal dari Kushida yang mengenakan jersey. Baunya sama seperti shampoo yang diberikan pada kami di kamar kami.
"Apa kau tidak kedinginan?" Tanyaku padanya.
"Aku baik-baik saja. Lebih penting lagi, apa kamu sendirian disini, Ayanokouji-kun?" Tanyanya padaku.
Saat aku mengangguk, Kushida tersenyum ceria. "Jadi saat ini kita sendirian? Aku sedikit senang." Katanya.
"....."
Aku seharusnya mengatakan hal bagus yang sejalur dengannya, namun tentu saja aku tidak mengatakannya.
Kebalikannya, detak jantungku makin meningkat hanya karena sendirian bersama Kushida di sebuah tempat yang dipenuhi para pasangan. Kushida kemungkinan membenci situasi ini, di kedalaman hatinya.
"Kalau begitu, semoga malam mu menyenangkan." Kataku padanya.
"Kamu sudah mau pergi?"
"Yah, aku mau tidur." Jawabku. Tentu saja, aku tidak ingin tidur sama sekali, tapi mau bagaimana lagi.
"Oh gitu, kalau begitu sampai jumpa besok, Ayanokouji-kun."
"Selama malam, Kushida."
Setelah bertukar salam perpisahan dengannya, aku dengan menyesal berbalik untuk pergi. Namun kemudian.
"Tunggu!!!" Kushida berteriak dan melompat ke dadaku. Aku bisa merasakan kehangatan darinya meskipun melewati kaosnya dalam cuaca dingin ini.
"K-k-k-Kushida? A-apa yang kau lakukan?" Tanyaku.
Tentu saja, dalam situasi tak terduga ini, aku langsung panik. Ini sesuatu yang diluar pemahamanku.
"....."
Namun Kushida tidak segera menjawabku.
Kemudian, dengan suara lirih, dia bicara. "Maaf....tiba-tiba aku...merasa sedikit kesepian sendirian." Dia membisikan itu padaku selagi berada di dadaku.
Kata-kata itu seperti sebuah pukulan tinju dan otaku menjadi kosong untuk sesaat. Dan untuk beberapa saat kemudian, Kushida tetap menenggelamkan wajahnya di dadaku. Dan tiba-tiba, seolah mantranya dihancurkan, dia melepaskanku dan mengambil jarak.
"M-maaf. Aku tiba-tiba memeluk Ayanokouji-kun... selamat malam!"
Aku tidak bisa melihat wajah Kushida dengan baik dalam kegelapan, namun aku mempunyai perasaan dia juga tersipu. Dan tanpa mengatakan apapun, Kushida berlari, meninggalkanku berdiri disana memegang dadaku untuk merasakan kehangatan yang telah ia tinggalkan. Berkat ini, aku tidak bisa lagi tidur malam ini. Aku tidak bisa kembali ke kamarku seperti ini. Jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kapal untuk sementara.
"Ahhh.... itu mengejutkanku. Sudah berakhir, sekarang aku merasa sedikit haus ." Kataku pada diri sendiri.
Harusnya ada beberapa mesin minuman di lantai pertama jadi aku memutuskan menuju kesana sebelum kembali ke kemarku. Namun di dekat mesin minuman, aku menemukan sekelompok aneh berjumlah tiga orang. Ada Chabashira-sensei, guru wali kelas B Hoshinomiya-sensei dan wali kelas A Mashima-sensei. Mereka sedang duduk di bebangkuan dan dengan damai menghabiskan waktu mereka. Secara teknis area ini tidak dibatasi untuk para siswa, namun karena ada bar disini, para siswa biasanya menghindari tempat ini.
Aku datang kesini untuk membeli minuman, tapi sepertinya aku tidak sengaja mendapatkan kesempatan untuk memperoleh beberapa informasi. Aku menyembunyikan keberadaanku dan dengan perlahan mendekati mereka.
"Kalian tahu, ini sudah lama. Sejak kita bertiga berkumpul seperti ini."
"Ini takdir, pada akhirnya kita memilih jalan untuk menjadi seorang guru."
"Hentikan. Tidak ada gunanya membahas itu."
"Oh yah, omong-omong, aku melihat kamu kencan. Pacar baru, Mashima-kun?"
"Chie, bagaimana dengan mu? Apa yang terjadi dengan mantan mu itu?"
"Haha, aku putus dengannya setelah dua minggu. Kau lihat, aku adalah tipe gadis yang melakukan itu dengan seorang pria dan memutusnya sebelum hubungan jadi semakin serius." Balas Hoshinomiya-sensei.
"Itu yang biasa pria lakukan, kau tahu."
"Tapi, aku tidak akan melakukannya pada mu Mashima-kun. Lagipula kamu teman terbaikku. Aku tidak ingin menghancurkan pertemanan kita." Katanya pada Mashima-sensei.
"Santai. Ini bukan tentang itu."
"Uwaaa... itu membuatku sedih."
Hoshinomiya-sensei menuangkan whiskey kedalam gelas kosong dan meminumnya sekaligus, sekali tegukan. Berbanding dengan itu, Chabashira-sensei secara perlahan menyeruput sake seolah itu adalah cocktail.
"Lebih penting lagi, apa yang akan kau lakukan, Chie?"
"Apa yang maksud mu tiba-tiba?"
"Awalnya, kebijakan sekolah tidak menempatkan semua perwakilan dari masing-masing kelas di kelompok (Naga)."
"Aku tidak berniat mengacaukannya disini. Memang, berdasarkan nilai dan sikapnya sejauh ini, Ichinose-san adalah yang teratas di kelas ku, namun kemungkinan berhasil dalam bersosial tidak bisa hanya dihitung dari parameter angka saja. Aku putuskan ada rintangan yang harus dia atasi sebelum itu. Selain karena menempatkannya di kelompok (Kelinci) sangat cocok. Seekor kelinci juga manis bukan? Dengan pyonpyon, seperti Ichinose-san." Kata Hoshinomiya-sensei.
"Aku harap kau benar."
"Kata-kata Hoshinomiya memang beralasan, atau apa memang ada beberapa maksud tersembunyi dibalik itu?"
"Aku hanya tidak ingin kau membuat penilaian berdasarkan dendam pribadi."
"Apa kalian masih membahas apa yang terjadi 10 tahun lalu? Aku kira kita sudah selesai dengan itu..."
"Aku penasaran, kau adalah tipe orang yang banyak bicara jika aku tidak lagi berada di depanmu. Kau adalah tipe orang yang tidak akan puas kecuali kau berada satu langkah di depan. Itulah kenapa kau menempatkan Ichinose di kelompok (Kelinci) bukan?" Kata Chabashira-sensei.
"Apa yang kau maksud, Hoshinomiya, jelaskan" Kata Mashima-sensei.
"Aku benar-benar berpikir Ichinose-san harus mempelajari sesuatu jadi aku memindahkannya ke kelompok (Kelinci). Omong-omong, Sae-chan juga cukup perhatian dengan Ayanokouji-kun. Ini hanya kebetulan kan? Kebetulan dan kebetulan. Saat ujian di pulau itu berakhir, kamu tampaknya senang saat Ayanokouji-kun mengambil alih kepemimpinan." Kata Hoshinomiya-sensei.
"Itu tidak ada hubungannya."
Namun Mashima-sensei mengangguk seolah ia paham. Tapi kemudia ia bicara pada Hoshinomiya-sensei dengan nada menegaskan.
"Tidak ada peraturan spesifik untuk ini namun aku ingin menjaga moral kita. Aku lebih suka menghindari laporan kegagalan rekan-rekanku." Katanya.
"Hey, kamu mungkin tidak mempercayaiku. Tapi jangan menyalahkanku, Sakagami-sensei juga mempunyai sebuah masalah kan? Kelas C sudah mempunyai reputasi buruk semenjak orang lain yang harusnya di kelompok (Naga) tapi malah Ryuuen-kun yang dikirim ke sana." Dia membalas.
"Memang, siswa di tahun ini semuanya istimewa."
Aku telah mendapatkan sedikit informasi dari ujian ini jadi aku putuskan untuk kembali. Jika aku tetap tinggal, aku hanya akan mendapat masalah kedepannya. Aku sudah tahu kenapa Ichinose satu kelompok denganku. Sepertinya pergerakanku sudah mulai diperhatikan dan dibatasi.
Sebelumnya | TOC | Selanjutnya
Langit penuh bintang membentang di depan mataku. Saat ini, aku berada di geladak kapal mencoba untuk mencari udara segar.
"Ini menakjubkan.."
Jauh lebih luas dari apa yang biasa kami lihat dari buku atau pun gambar. Sangat cantik. Ini adalah bagian dari pemandangan malam yang tidak bisa kau temukan di kota-kota besar. Ada juga beberapa siswa dan siswi yang menikmati langit berbintang sambil saling berpegangan tangan dan menggenggam bahu. Aku merasa sedikit terkucilkan saat melihatnya. Karena gelap dan hanya ada sedikit cahaya, aku tidak bisa melihat wajah mereka. Lagipula aku tidak terlalu peduli dengan momen romantis seperti itu.
Namun diantara siswa yang memandang langit malam, ada seorang gadis yang berdiri sendirian dalam siluet.
"Tidak, tidak." Sekalipun aku memanggilnya sekarang, aku tidak bisa dengan santai mengatakan 'kenapa kita tidak memandang bintang bersama-sama' dan mencoba mengajaknya dengan cara itu. Aku tidak ingin di sana ketika pacarnya datang. Namun aku tertarik untuk mengetahui siapa gadis itu jadi aku putuskan mendekatinya.
"A...a...Ayanokouji-kun?"
"Suara itu...Kushida?".
Dan gadis itu, Kushida, muncul dari kegelapan dengan wajah terkejut melihatku.
"Apa kau... sendirian?"
Kemungkinan Kushida disini untuk menemui pacarnya. Memikirkan itu membuat dadaku sesak dan sakit.
(Tln: Ingrisnya "Thinking that made my chest tighten and hurt" jadi udah fix, Ayanokouji bukan tanpa emosi seperti robot)
"Yah. Aku sekarang tidak bisa tidur." Katanya padaku.
"Oh, begitu."
Jadi dia disini bukan untuk kencan malam dengan pacarnya sama sekali. Aku merasa lega setelah mengetahuinya. Tampaknya Kushida baru saja keluar dari kamar mandi, ada bau yang sangat mengénakan berasal dari Kushida yang mengenakan jersey. Baunya sama seperti shampoo yang diberikan pada kami di kamar kami.
"Apa kau tidak kedinginan?" Tanyaku padanya.
"Aku baik-baik saja. Lebih penting lagi, apa kamu sendirian disini, Ayanokouji-kun?" Tanyanya padaku.
Saat aku mengangguk, Kushida tersenyum ceria. "Jadi saat ini kita sendirian? Aku sedikit senang." Katanya.
"....."
Aku seharusnya mengatakan hal bagus yang sejalur dengannya, namun tentu saja aku tidak mengatakannya.
Kebalikannya, detak jantungku makin meningkat hanya karena sendirian bersama Kushida di sebuah tempat yang dipenuhi para pasangan. Kushida kemungkinan membenci situasi ini, di kedalaman hatinya.
"Kalau begitu, semoga malam mu menyenangkan." Kataku padanya.
"Kamu sudah mau pergi?"
"Yah, aku mau tidur." Jawabku. Tentu saja, aku tidak ingin tidur sama sekali, tapi mau bagaimana lagi.
"Oh gitu, kalau begitu sampai jumpa besok, Ayanokouji-kun."
"Selama malam, Kushida."
Setelah bertukar salam perpisahan dengannya, aku dengan menyesal berbalik untuk pergi. Namun kemudian.
"Tunggu!!!" Kushida berteriak dan melompat ke dadaku. Aku bisa merasakan kehangatan darinya meskipun melewati kaosnya dalam cuaca dingin ini.
"K-k-k-Kushida? A-apa yang kau lakukan?" Tanyaku.
Tentu saja, dalam situasi tak terduga ini, aku langsung panik. Ini sesuatu yang diluar pemahamanku.
"....."
Namun Kushida tidak segera menjawabku.
Kemudian, dengan suara lirih, dia bicara. "Maaf....tiba-tiba aku...merasa sedikit kesepian sendirian." Dia membisikan itu padaku selagi berada di dadaku.
Kata-kata itu seperti sebuah pukulan tinju dan otaku menjadi kosong untuk sesaat. Dan untuk beberapa saat kemudian, Kushida tetap menenggelamkan wajahnya di dadaku. Dan tiba-tiba, seolah mantranya dihancurkan, dia melepaskanku dan mengambil jarak.
"M-maaf. Aku tiba-tiba memeluk Ayanokouji-kun... selamat malam!"
Aku tidak bisa melihat wajah Kushida dengan baik dalam kegelapan, namun aku mempunyai perasaan dia juga tersipu. Dan tanpa mengatakan apapun, Kushida berlari, meninggalkanku berdiri disana memegang dadaku untuk merasakan kehangatan yang telah ia tinggalkan. Berkat ini, aku tidak bisa lagi tidur malam ini. Aku tidak bisa kembali ke kamarku seperti ini. Jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kapal untuk sementara.
"Ahhh.... itu mengejutkanku. Sudah berakhir, sekarang aku merasa sedikit haus ." Kataku pada diri sendiri.
Harusnya ada beberapa mesin minuman di lantai pertama jadi aku memutuskan menuju kesana sebelum kembali ke kemarku. Namun di dekat mesin minuman, aku menemukan sekelompok aneh berjumlah tiga orang. Ada Chabashira-sensei, guru wali kelas B Hoshinomiya-sensei dan wali kelas A Mashima-sensei. Mereka sedang duduk di bebangkuan dan dengan damai menghabiskan waktu mereka. Secara teknis area ini tidak dibatasi untuk para siswa, namun karena ada bar disini, para siswa biasanya menghindari tempat ini.
Aku datang kesini untuk membeli minuman, tapi sepertinya aku tidak sengaja mendapatkan kesempatan untuk memperoleh beberapa informasi. Aku menyembunyikan keberadaanku dan dengan perlahan mendekati mereka.
"Kalian tahu, ini sudah lama. Sejak kita bertiga berkumpul seperti ini."
"Ini takdir, pada akhirnya kita memilih jalan untuk menjadi seorang guru."
"Hentikan. Tidak ada gunanya membahas itu."
"Oh yah, omong-omong, aku melihat kamu kencan. Pacar baru, Mashima-kun?"
"Chie, bagaimana dengan mu? Apa yang terjadi dengan mantan mu itu?"
"Haha, aku putus dengannya setelah dua minggu. Kau lihat, aku adalah tipe gadis yang melakukan itu dengan seorang pria dan memutusnya sebelum hubungan jadi semakin serius." Balas Hoshinomiya-sensei.
"Itu yang biasa pria lakukan, kau tahu."
"Tapi, aku tidak akan melakukannya pada mu Mashima-kun. Lagipula kamu teman terbaikku. Aku tidak ingin menghancurkan pertemanan kita." Katanya pada Mashima-sensei.
"Santai. Ini bukan tentang itu."
"Uwaaa... itu membuatku sedih."
Hoshinomiya-sensei menuangkan whiskey kedalam gelas kosong dan meminumnya sekaligus, sekali tegukan. Berbanding dengan itu, Chabashira-sensei secara perlahan menyeruput sake seolah itu adalah cocktail.
"Lebih penting lagi, apa yang akan kau lakukan, Chie?"
"Apa yang maksud mu tiba-tiba?"
"Awalnya, kebijakan sekolah tidak menempatkan semua perwakilan dari masing-masing kelas di kelompok (Naga)."
"Aku tidak berniat mengacaukannya disini. Memang, berdasarkan nilai dan sikapnya sejauh ini, Ichinose-san adalah yang teratas di kelas ku, namun kemungkinan berhasil dalam bersosial tidak bisa hanya dihitung dari parameter angka saja. Aku putuskan ada rintangan yang harus dia atasi sebelum itu. Selain karena menempatkannya di kelompok (Kelinci) sangat cocok. Seekor kelinci juga manis bukan? Dengan pyonpyon, seperti Ichinose-san." Kata Hoshinomiya-sensei.
"Aku harap kau benar."
"Kata-kata Hoshinomiya memang beralasan, atau apa memang ada beberapa maksud tersembunyi dibalik itu?"
"Aku hanya tidak ingin kau membuat penilaian berdasarkan dendam pribadi."
"Apa kalian masih membahas apa yang terjadi 10 tahun lalu? Aku kira kita sudah selesai dengan itu..."
"Aku penasaran, kau adalah tipe orang yang banyak bicara jika aku tidak lagi berada di depanmu. Kau adalah tipe orang yang tidak akan puas kecuali kau berada satu langkah di depan. Itulah kenapa kau menempatkan Ichinose di kelompok (Kelinci) bukan?" Kata Chabashira-sensei.
"Apa yang kau maksud, Hoshinomiya, jelaskan" Kata Mashima-sensei.
"Aku benar-benar berpikir Ichinose-san harus mempelajari sesuatu jadi aku memindahkannya ke kelompok (Kelinci). Omong-omong, Sae-chan juga cukup perhatian dengan Ayanokouji-kun. Ini hanya kebetulan kan? Kebetulan dan kebetulan. Saat ujian di pulau itu berakhir, kamu tampaknya senang saat Ayanokouji-kun mengambil alih kepemimpinan." Kata Hoshinomiya-sensei.
"Itu tidak ada hubungannya."
Namun Mashima-sensei mengangguk seolah ia paham. Tapi kemudia ia bicara pada Hoshinomiya-sensei dengan nada menegaskan.
"Tidak ada peraturan spesifik untuk ini namun aku ingin menjaga moral kita. Aku lebih suka menghindari laporan kegagalan rekan-rekanku." Katanya.
"Hey, kamu mungkin tidak mempercayaiku. Tapi jangan menyalahkanku, Sakagami-sensei juga mempunyai sebuah masalah kan? Kelas C sudah mempunyai reputasi buruk semenjak orang lain yang harusnya di kelompok (Naga) tapi malah Ryuuen-kun yang dikirim ke sana." Dia membalas.
"Memang, siswa di tahun ini semuanya istimewa."
Aku telah mendapatkan sedikit informasi dari ujian ini jadi aku putuskan untuk kembali. Jika aku tetap tinggal, aku hanya akan mendapat masalah kedepannya. Aku sudah tahu kenapa Ichinose satu kelompok denganku. Sepertinya pergerakanku sudah mulai diperhatikan dan dibatasi.




No comments:
Post a Comment